
Perjalanan dari kampung ke Jakarta membuat kesehatan Arnita memburuk. Arnita langsung diboyong ke rumah sakit dan menjalani infus selama seharian penuh.
“Pas Mamah hamil Restu juga kayak kamu, sih. Enggak banyak keluhan, tapi memang enggak bisa naik kendaraan semacam mobil apalagi pesawat. Jadi kebayang kan, tersiksa banget?” ucap ibu Rembulan.
Arnita yang sudah bisa duduk tidak membenarkan anggapan sang mamah mertua. “Enggak apa-apa sih, Mah. Enggak tiap hari juga. Lagian begini pun, alhamdullilah Mas Restu sepenuhnya dukung. Terus aku lihat, kerjaan Mas Restu juga makin lancar. Aku bilang begini soalnya aku percaya setiap anak juga bawa rezeki.”
“Nah iya, kamu enak Restu mau urus kamu. Dulu pas Mamah boro-boro. Pas Mamah hamil Restu, sama papahnya dibanding-bandingin terus.”
“Banding-bandingin gimana, Mah?”
“Mamah dibanding-banding sama kakak perempuannya yang punya anak banyak. Padahal posisinya kakak perempuannya ini IRT biasa dan sekadar urus anak sama suami saja suka-suka dia. Punya ART juga kan mereka dan yang bayarin ART kamu tahu siapa? Papahnya si Restu! Mamah yang kerja saja macam babbu urus semuanya tapi enggak boleh ngeluh, ... luar biasa banget pokoknya! Sampai sekarang hubungan kami enggak bisa baik karena Mamah telanjur sakit hati. Mana Mamah terus dimusuhi Ipar. Lihat nasib mereka sekarang, syukurin!”
Dalam diamnya Arnita menjadi menyimpulkan, alasan ibu Rembulan seperti sekarang karena wanita itu masih memiliki masa lalu yang belum kelar. Luka-luka karena papahnya Restu sekeluarga masih membekas dan membuat ibu Rembulan kadang tak menyadari jika karena luka tersebut, dirinya malah melampiaskannya kepada Restu.
“Memang enggak bisa dipungkiri yah, Mah. Kadang luka batin sama luka mental malah bikin kita jadi predator kejahatan. Dalam artian, ... sebenarnya Mamah enggak mau melukai Mas Restu, ... sebenarnya Mamah sayang banget ke Mas Restu. Namun karena luka yang Mamah dapat dari mereka terlalu dalam, luka itu beneran udah bikin Mamah sakit banget, terus tanpa bisa mengontrol diri, Mamah melampiaskan rasa sakit itu ke Mas Restu!” ucap Arnita merasa prihatin kepada sang mamah mertua. Ibu Rembulan langsung berkaca-kaca menatapnya.
“Kadang kalau ada kasus seorang ibu tega membunuhh anaknya pun, ini pasti ada faktor mentalnya. Mental ibunya sudah enggak baik-baik saja. Bukan bermaksud membenarkan sih, tapi biasanya faktor utamanya malah karena lingkungan terdekat semacam suami dan keluarga. Mereka yang harusnya jadi rumah malah jadi sumber luka. Terus enggak bisa dipungkiri kalau masalah ekonomi biasanya juga jadi faktor utama. Dan masalah menumpuk yang ditahan ini biasanya yang bikin mental luka dan berakhir fatal.” Arnita yang masih diinfus, sengaja meraih sebelah tangan sang mamah mertua, kemudian menggenggamnya menggunakan kedua tangan.
__ADS_1
“Tanpa peduli latar belakang seseorang, mau dia berpendidikan, dari keluarga berada, bahkan orang yang paham agama sekalipun, pasti ada saja saat yang bikin orang berada di titik nadir. Jadi enggak ada salahnya kita cerita, enggak ada salahnya kita saling dukung daripada kita simpan sendiri dan akibatnya pun fatal.” Arnita masih berbicara pelan penuh perhatian karena ia memang tengah berusaha merangkul ibu Rembulan. Mamah mertuanya tidak baik-baik saja. Wanita cantik itu masih memiliki beban mental berupa masa lalu yang belum kelar.
“Aku ada buat Mamah kapan pun Mamah butuh. Mamah mau cerita, Mamah mau aku bantu, aku siap Mah. Mamah beneran harus beresin luka hati Mamah. Mamah harus beresin masa lalu Mamah termasuk itu rasa sakit hati Mamah ke papahnya Mas Restu. Karena alasanku kemarin pulang kampung pun juga buat beresin masa laluku, Mah. Rasanya beneran jauh lebih lega, bebanku terasa terangkat setelah aku lepasin semua rasa sakit bahkan dendamku ke mereka yang sudah menyakitiku,” ucap Arnita.
“Sekarang Mamah lihat diri Mamah, asal Mamah sudah jadi lebih baik. Asal Mamah sudah jauh lebih bahagia dengan kehidupan Mamah yang sekarang, semua itu sudah sangat cukup buat balas mereka yang sudah sakitin Mamah,” lanjut Arnita. “Balas mereka dengan elegan, Mah. Enggak apa-apa kalau Mamah mau nangis. Beneran enggak apa-apa sudah, Mamah nangis saja.”
Arnita membiarkan sang mamah mertua meraung-raung sambil memeluknya erat.
“Daripada Mamah melukai orang yang enggak bersalah, mending langsung luapin ke yang bikin luka itu. Balas mereka dengan elegan!” yakin Arnita sambil balas memeluk ibu Rembulan.
“Sayang ini ada apa?” tanya Restu yang kemudian meraih bahu sang mamah.
“Restu, Mamah minta maaf banget, ya!” isak ibu Rembulan tetap memeluk erat Arnita.
Arnita menghela napas pelan sekaligus dalam. “Nanti kita bantu Mamah beresin urusan sama keluarga papahnya Mas.”
“Memangnya ada apa?” tanya Restu yang belum paham, apalagi yang ia tahu, jangankan masalah, berkomunikasi saja, sang mamah sudah tidak melakukannya dengan pihak papahnya.
__ADS_1
“Masa lalu. Mirip aku kemarin pas pulang kampung,” balas Arnita.
Detik itu juga Restu yang langsung seolah mendapat pencerahan, mengangguk-angguk. “Oke. Kalian obrolin saja enaknya gimana.” Ia menatap lama sang istri yang akhirnya memberinya anggukan sanggup.
“Sudah, Mah. Mamah enggak usah merasa kurang. Aku yakin Mamah jauh lebih bahagia dari mereka. Mamah punya suami yang jauh lebih sayang sekaligus menghargai Mamah. Anak-anak Mamah juga sukses meski Fiola wajib diarahkan lebih dari sebelumnya. Mamah punya cucu pinter-pinter dan mereka sehat. Terus karir Mamah juga jauh lebih bagus dari ketika Mamah masih jadi bagian mereka,” ucap Arnita. “Kalau Mamah mau, besok aku sama Mas Restu juga bisa temenin Mamah. Pura-pura saja kalau kita enggak sengaja ketemu mereka. Pamerin kebahagiaan Mamah, terus luapin unek-unek Mamah ke mereka.”
Restu yang berdiri di antara Arnita dan sang mamah yang masih berpelukan, menyimak dengan baik. Namun setelah Arnita selesai memberi masukan, ia sengaja memeluk kedua wanita itu secara bersamaan.
Keesokan harinya, Restu dan Arnita yang memboyong Devano, sungguh menemani ibu Rembulan mengunjungi sebuah rumah berlantai dua dan tidak begitu mewah. Di sana tidak sampai ada satpam, dan ibu Rembulan langsung menekan bel. Rumah tersebut merupakan rumah pak Ramlan, papahnya Restu.
“Katanya kita mau jalan-jalan. Ini kan hari Minggu,” protes Devano yang kemudian minta diambilkan topi ke pak Lukman lantaran siang ini terbilang panas.
Setelah menunggu hampir lima menit, akhirnya seorang wanita paruh baya keluar. Wanita tersebut merupakan ART di sana. Lebih ke betulannya lagi, ada mobil kijang hitam yang mendekat dan langsung membuat sang ART buru-buru membuka pintu.
“Loh, itu kan mobilnya mas Mario. Ngapain dia ke sini?” bisik Arnita kepada sang suami.
Restu yang tidak begitu paham dengan mobil yang dimaksud dan ada di belakang mereka, langsung menatap dengan saksama. Benar saja, Mario keluar dari sana dan langsung menyapa mereka.
__ADS_1