Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
80 : Hari Pertama Devano Sekolah


__ADS_3

Hari ini menjadi hari pertama Devano sekolah. Devano sampai tidak bisa tidur saking tak sabarnya ingin sekolah.


Setelah rutinitas pagi tak terelakan mereka selesaikan dan Restu juga sampai ikut membantu Arnita menyiapkan bekal makan siang, mereka berangkat satu mobil. Pak Soleh yang menyetir. Sementara di belakang keduanya ada Restu dan Arnita. Sementara di tempat duduk belakang, ada Devano yang terus saja berisik. Hari ini mereka berangkat tanpa pak Lukman karena pria itu tengah Restu utus mengambil dokumen di kantor cabang.


“Aku sekolahnya enggak boleh ditungguin, ya?” tanya Devano.


“Kenapa, Kakak takut?” tanggap Restu yang tengah sibuk mengecek setiap pemberitahuan pesan baru di ponselnya.


“Enggak. Cuman kayaknya asyik saja kalau hari pertama ditungguin Mamah sama Papah!” balas Devano.


“Pagi ini Mamah sudah WA Miss Angel, Mamah tanya boleh enggak ditungguin sekolahnya, tapi katanya enggak boleh,” jelas Arnita yang kemudian menyimpan ponselnya ke dalam tas jinjing di pangkuannya. Ia menoleh sekaligus menatap sang putra. “Paling nanti Mamah nunggu di tempat parkir sambil nungguin pak Lukman, yah. Kalau antarnya tetap bareng-bareng Papah. Tiap pagi, kalau memang Papah enggak ada jadwal mepet atau malah Papah sampai keluar kota, rutinitasnya akan selalu begini,” lanjutnya lagi.


“Oke! Aku paham!” tanggap Devano sambil bersedekap.


“Jangan nangis,” usil Restu walau ia masih fokus dengan ponselnya.


“Yang cengeng dan cemen kan Papah, kayak si Rayyan!” sewot Devano dan langsung membuat Arnita tertawa.


Sempat terpikir bahkan terbayang hanya akan melakukan semuanya berdua dengan Devano termasuk momen mengantar Devano ke sekolah, nyatanya semua itu hanya ketakutan belaka untuk seorang Arnita. Berkaca-kaca kedua matanya karena menahan bahagia. Sebab momen kini benar-benar membuat hatinya terenyuh. Melepas Devano hingga di depan kelas, memastikan di mana jagoan sekaligus kebanggaannya itu duduk. Devano duduk di tempat duduk paling tengah dan posisinya juga masih paling tengah. Ibaratnya, bocah itu berada di sentral kelas.


“Gantengnya mana?” tagih Restu masih mengawasi dari bibir pintu.


“Ngupil saja aku ganteng, Pah. Apalagi kalau diem begini!” jawab Devano masih cool.


Tak hanya Arnita yang kembali tertawa karena Restu yang awalnya berniat usil, juga.


Sambil merangkul punggung Arnita, Restu berkata, “Nanti kalau ditanya jangan hanya diam. Kalau ada sesi tanya jawab, Kakak ikut, ya? Yang aktif, yang pinter.”

__ADS_1


“Iya, aku tahu. Mamah sudah bilang! Aku kan sudah sering belajar ke Mamah dan aku juga sudah sering dapat bintang,” balas Devano yang kemudian fokus menatap sang mamah.


Baru Restu ingat, dulu saat baru ia nikahi, Arnita berprofesi sebagai guru TK. Pantas jika Devano sudah sangat paham bagaimana suasana kelas TK.


“Mamah memang yang terbaik,” lirih Restu sengaja memuji sang istri walau tatapannya sudah kembali fokus menatap sang putra.


“Pokoknya Papah beruntung masih sama aku!” ucap Arnita sengaja membanggakan dirinya sendiri. Restu langsung menertawakannya. Tawa yang juga langsung ditahan. Selain itu, momen tersebut juga menjadi perpisahan kebersamaan mereka. Karena setelah pamit kepada Devano, Restu juga pamit kepada Arnita yang ditinggal di luar, di tempat tunggu dekat tempat parkir. Karena demi kedisiplinan anak didik di sana, orang tua dilarang menunggu persis di depan kelas.


“I love, you!” pamit Restu mendadak melongok dari kaca jendela pintu penumpang.


Arnita yang baru mengeluarkan buku agenda untuk mulai membuat sketsa desain, langsung menatap Restu sambil tersipu-sipu. “I love you too, Pah! Semoga cepat sore, yah, biar cepat ketemu!” ucapnya.


Restu menatap penuh cinta sang istri yang sampai harus memberi banyak stiker aroma terapi di masker yang dipakai guna mengurangi mabuuk kendaraan. Karena kehamilan Arnita yang sekarang membuat istrinya itu gampang sakit. Sekadar bepergian sebentar naik mobil saja, Arnita sudah pusing bahkan mabuuk kendaraan.


Ditinggal Restu, ternyata Arnita tidak menjadi satu-satunya orang tua yang menunggu di sana. Sebab beberapa ibu-ibu dan jumlahnya ada sepuluh, juga turut menunggu. Acara saling sapa berkenalan dan bahkan mengobrol, tidak terelakan. Awalnya Arnita tak berniat memperkenalkan diri sebagai desainer, tapi daripada Devano maupun dirinya dipandang rendah oleh semuanya, Arnita memutuskan jujur.


“Hari ini Kakak sudah punya tema?” tanya Arnita yang langsung membuka bekal makan siang untuk mereka. Di sebelahnya, di bekas Restu duduk, Devano langsung menanggapi pertanyaannya. Bocah itu mengabsen semua nama temannya yang jumlahnya ada dua puluh.


“Kakak hafal semua nama mereka?” Arnita tak bisa berkata-kata saking takjubnya. Sedangkan ketika ia menoleh ke depan, pak Lukman yang menyetir mobil, juga tak kalah takjub. Pria itu tersenyum lepas berkaca-kaca menatap Devano dari kaca spion di atasnya.


“Bos kecil memang yang terbaik!” puji pak Lukman.


Devano yang masih bersedekap segera berkata, “Tentu! Hari ini saja aku dapat semua bintang! Nanti aku kasih bintangnya ke Papah!”


Arnita tersipu. “Kenapa dikasihnya ke Papah?”


“Biar Papah enggak iseng terus kayak Rayyan!” balas Devano yang telanjur tidak suka kepada Rayyan.

__ADS_1


Arnita langsung tersenyum geli. Dan sesampainya di rumah, ia langsung telepon Restu, menceritakan kejadian hari ini, kepada suaminya itu.


“Beneran aku masih enggak percaya, Vano sehebat itu, Pah! Barusan aku cek, walau tulisannya masih belum rapi-rapi amat, dia beneran dapat semua bintang. Dia tulis semua nama temannya. Dia tulis nama kita sebagai orang tua. Terus ada gambar juga, kan. Dia gambar kita dan gambarnya beneran bikin gemes. Terus yang makin bikin gemes lagi, dia nulis di gambar aku, di bagian perut aku ada adiknya!” Arnita benar-benar antusias. Ia tak hentinya tersenyum lepas sekaligus berlinang air mata saking bangga dan juga bahagianya pada tumbuh kembang sang putra.


“Coba foto gambar sama tulisannya!” pinta Restu dari seberang sana tak kalah antusias.


Arnita menyeka sekitar matanya yang basah sambil mengangguk-angguk. Ia meninggalkan area depan jendela yang ada di kamarnya dan berniat untuk langsung ke kamar sang putra.


“Kakak, Mamah boleh masuk?” izin Arnita sambil mengetuk pintu kamar sang putra yang tidak sepenuhnya ditutup.


“Boleh.” Dari dalam, Devano hanya menjawab singkat.


“Oke, terima kasih banyak.” Arnita masih bersikap hangat sekaligus lembut.


“Sama-sama,” balas Devano masih datar. Ia tengah menyusun puzzel berukuran lebar di depan tempat tidur.


“Kakak enggak tidur siang?” lanjut Arnita sambil memperhatikan sang putra yang tengah sangat serius memperhatikan setiap kepingan puzzel yang belum disusun.


“Bentar lagi, Mah.”


“Sayang, sepertinya Vano begitu karena dia memang sudah sangat siap. Apalagi selama ini dia sudah telanjur disepelekan sama teman-temannya. Dia juga sudah diracunii dengan pikiran negatif oleh Mia. Jadi Vano beneran sengaja menjadikan momen sekolahnya ini, sebagai bukti bahwa dirinya enggak sepayah yang mereka pikirkan,” ucap Restu dari seberang, dan Arnita yang masih menyimak, menempelkan gawai canggihnya ke telinga kanan, merasa alasan yang baru saja Restu sampaikan memang benar.


Selanjutnya, Arnita sengaja memberikan ponselnya yang sudah dihiasi telepon video dengan Restu kepada Devano. Karena selain Restu ingin mengobrol melalui telepon video, Devano juga mau mengobrol dengan sang papah.


“Sudah aku bilang, aku hebat!” balas Devano sinis sengaja pamer ke sang papah yang langsung terbahak di seberang sana.


Arnita hanya menggeleng, merasa gemas pada tingkah kembar beda generasinya.

__ADS_1


__ADS_2