
Restu langsung menyapa sang bapak mertua. “Sehat, Pak?” Ia bermaksud menyalami tangan kanan pria tua itu, tapi penolakan keras, langsung ia dapatkan.
Pak Iman menarik tangan kanannya yang sudah sempat disalami Restu. Ia menatap pria gagah itu penuh kebencian.
“Kakek ini sudah tua tapi enggak sopan!” kesal Devano. Ia langsung mendapat tatapan tajam dari pak Iman.
“Kak Vano, ini papahnya Mamah. Mbah. Ini Mbahnya Kakak, namanya Mbah Iman.” Restu berusaha memberi sang putra pengertian.
Ketika Devano tetap menyikapi dengan sinis dan telanjur tidak suka pada pak Iman, lain dengan pak Iman yang menyikapi itu penuh ketidakpercayaan. Dada seorang pak Iman langsung kebas seiring napas pria itu yang juga langsung sesak.
“Bocah ini anaknya Nita?” Kedua tangan pak Iman yang seketika gemetaran, mencoba membingkai wajah Devano. Namun secepat kilat, bocah berkulit putih mulus itu langsung menepisnya dengan keji. Tak kalah keji, tatapan bocah yang Restu panggil Kakak itu juga tampak jelas tengah menghakiminya.
“Kakak, enggak boleh gitu, enggak sopan. Kan sudah dibilang, kakek ini mbahnya Kakak.” Restu mencoba kembali memberi sang putra pengertian. Padahal jauh di dalam hatinya, ia malah berkata, “Biarkan Bapak melihat bagaimana sikap Bapak kepada kami dari apa yang Vano lakukan kepada Bapak.”
“Kakek ini yang enggak sopan duluan loh, Pah.” Devano tetap tidak suka kepada kakeknya.
“Pah, sudah jangan diurusin. Sudah, kalian masuk, nanti yang ada, kalian malah sakit!” dari teras rumah, Arnita sengaja berteriak. Di tangan kanannya, ia sengaja membawa pisau cincang. “Kalau Juan beneran masih rese, aku tebas sekalian tuh orang pakai pisau cincang!” batin Arnita.
__ADS_1
Bukannya menemukan Juan, Arnita malah langsung tercengang lantaran sosok yang bersama suami maupun anaknya, malah sang bapak. Arnita refleks mundur seiring butiran bening yang mengalir dari kedua sudut matanya. Kaki kanannya nyaris terhantam pisau cincang andai bi Ade tidak sigap menangkap gagang pisaunya. Arnita benar-benar terkejut dengan kenyataan itu. Melalui senyum yang ia paksakan hadir, ia berterima kasih kepada bi Ade yang begitu setia kepada Restu sekeluarga termasuk kepadanya.
Tak ada satu menit, Restu sudah ada di sebelah Arnita. Ia menurunkan Devano, membiarkannya dijaga pak Lukman. Restu memastikan keadaan Arnita, mendekapnya erat guna memberi wanita itu ketenangan. Sebab luka dari pak Iman telah menorehkan trauma mendalam untuk istrinya itu.
“Kok mendadak sesakit ini, yah, Mas?” lirih Arnita seiring air matanya yang berlinang sangat bebas.
Restu yang awalnya memberi kode keras kepada pak Lukman untuk membawa Devano masuk, berangsur mengangguk-angguk. Sang putra yang begitu menyayangi mamahnya, tampak jelas curiga. Devano tak mau dipisahkan dari sang mamah, tapi pak Lukman tampaknya sudah mulau bisa diandalkan untuk menjadi pawang bocah itu. Pak Lukman mampu meyakinkan Devano, walau belum sepenuhnya.
“Enggak apa-apa, aku ada di sini. Alasanku membawa kamu dan Vano ke sini pun, ingin menyelesaikan urusan kita yang belum kelar di masa lalu. Termasuk alasanku membawa bapakmu ke sini, aku ingin menunjukkan betapa bahagianya kita.” Restu berbisik-bisik meyakinkan.
“Ayo, mulai sekarang juga kita balas dendam. Kita balas dendam dengan cara paling elegan. Kita jadikan kebahagiaan kita sebagai senjata. Kamu paham maksudku, kan?” lanjut Restu masih berbisik-bisik.
Pak Iman yang sedikit kuyup, masih menatap tak percaya wanita yang memang anaknya. Arnita yang sekarang, jauh berbeda dengan Arnita yang dulu. Kulit Arnita saja sampai putih mulus layaknya orang kota yang terbiasa melakukan perawatan. Termasuk wajahnya yang tetap ada polesan rias maupun gincu walau tipis. Cantik sekali. Sangat berbeda dengan Arnita yang dulu, yang sekadar untuk biaya sekolah apalagi perawatan kecantikan, harus serba mengais rezeki sendiri.
“Apa kabar, Pak?” sapa Arnita, benar-benar kaku. Restu baru saja mengakhiri dekapannya.
Walau agak malas dan telanjur sakit hati terlebih sampai detik ini sang bapak sama sekali tidak meminta maaf atau sekadar menanyakan kabarnya, Arnita tetap menyalami tangan kanan pria itu dengan takzim. Hanya sebatas itu karena selanjutnya, ia sengaja pergi dengan buru-buru.
__ADS_1
“Masuk Pak. Aku tinggal dulu karena kebetulan lagi masak buat makan malam,” ucap Arnita sambil buru-buru melangkah pergi. Butiran bening masih mengalir dari kedua ujung matanya, menahan luka masa lalu yang mendadak meronta-ronta.
Restu sengaja tersenyum dan dibuat sehangat mungkin. “Pangling, yah, Pak? Lima tahun enggak ketemu, jadi mirip artis begitu.” Ia mendapati sang bapak mertua yang malah terlihat kebingungan. “Arnita sudah jadi desainer sukses di Jakarta, pak. Sampai masuk tivi, dia. Pakaian buatannya laris manis dan sampai dipakai artis! Ayo masuk, Pak. Nanti saya tunjukin foto sama videonya.” Restu sampai merangkul sang bapak mertua. Tak lupa, ia juga meminta sopirnya untuk mengandangkan sepeda motor milik pak Iman.
“Akan aku buat, Sita dan mamaknya kehilangan pak Iman. Keduanya juga aku pastikan enggak ada yang dapat warisan sepeser pun biar mereka tahu rasa!” batin Restu. Ia sungguh akan melakukan semua itu.
“Pak, yang tadi itu namanya Devano. Anak pertama kami. Sekarang kami lagi program lagi, ... tolong doakan, ya.” Restu masih bersikap manis. Ia membimbing pak Iman yang masih kebingungan untuk duduk di sofa ruang keluarga. Ruangan yang tentu saja bisa Restu pastikan terasa sangat mewah bagi pria itu.
“Jangan duduk di sini, nanti kotor apalagi tubuh Bapak, basah!” ucap pak Iman sungkan.
Bapak. Panggilan itu sudah langsung Restu dapatkan, yang otomatis, pak Iman sudah menganggapnya sebagai menantu.
Sejurus kemudian, Restu membimbing sang mertua ke kamar tamu di sebelah ruang keluarga. Ia berdalih, mulai sekarang, alangkah baiknya pak Iman tinggal di sana.
“Ini pakaian ganti buat Bapak. Ini Nita yang buat, Pak. Bagus-bagus, ya?” Restu sengaja memberikan satu kantong besar pakaian yang memang sudah Arnita maupun dirinya siapkan untuk pak Iman.
Pak Iman terperangah melihat itu. “Ini beneran buatan Nita?” lirih pak Iman. Karena sekadar berbicara pun, ia hanya mampu melakukannya lirih. Beda dengan dulu yang selalu memaki Arnita apalagi Restu dengan lantang.
__ADS_1
“Yang baju sama celana saja, Pak. Yang pakaian dalam sama sabuk apa topinya, bukan. Oh iya, Nita juga beli tas sama sandal buat Bapak. Ada di lemari sini. Karena kami sengaja menyiapkan kamar ini buat Bapak.” Restu segera membuka lemari pakaian dua pintu bahan kayu kokoh di depannya. Di sana sudah dihiasi tas dan sepatu yang dimaksud. Ada selimut, handuk, dan stok bantal juga di sana.
Pak Iman sampai gemetaran. Pria yang kepalanya sudah dipenuhi uban itu makin sulit untuk percaya bahwa putri yang pernah ia buang dan sampai ia coret dari kartu keluarga, malah memberinya kemewahan. Padahal ia belum lupa, beberapa saat lalu, Sita begitu yakin, Arnita yang mendadak tidak ada kabar bak ditelan bumi, malah telah menjadi seorang pellacurr.