
“Mas Restu bilang, pria ini sengaja deketin aku lewat Mas Restu. Kok cuek banget dan malah masih sibuk ngobrol sama resepsionis bahas dokumen apa itu? Apa dia jaim?” batin Fiola sambil terus melangkah pergi dari sana, tapi melalui lirikan, ia juga terus memperhatikan Mario.
Mario yang dari awal memang tidak memperhatikan Fiola karena memang tidak memiliki kepentingan, baru merasa terusik setelah wanita itu keluar dari perusahaan. Di depan lobi, Mario mengenali buket yang Fiola bawa.
“Kok mirip sama punyaku, ya? Tapi kan tadi aku sudah kasih bunganya ke pak Restu?” pikir Mario sambil mengawasi kepergian Fiola.
Fiola memasuki Lexus putih yang terparkir di depan lobi. Ketika wanita itu akan membuka pintu penumpang sebelah tengah, Fiola tak sengaja menoleh menatap ke arah Mario, membuat tatapan mereka bertemu.
“Heh! Itu kan si Fiola! Kenapa buket mawarnya bisa sama wanita enggak jelas sekelas dia?” batin Mario langsung bergidik. Ia buru-buru mengakhiri tatapannya, kemudian memang langsung pergi dari sana memasuki lift yang ada di depannya.
“Hih, sombong banget!” batin Fiola langsung tidak suka. “Bentar, deh. Mungkin saja sebenarnya pria itu hanya terlalu gugup, apalagi aku kan penyanyi. Aku artis terkenal yang memang lagi naik daun banget!” yakin Fiola masih berbicara di dalam hatinya.
Di jam makan siang, Arnita dan Restu sengaja memanfaatkannya untuk menemui Mia. Kebersamaan keduanya makin mencuri perhatian para karyawan termasuk Miss Tania. Wanita berambut ikal itu sampai ikut berkerumun, bergosip ria di depan resepsionis bersama karyawati lain yang sudah lebih dulu di sana.
“Memangnya bener, Miss, kalau mereka memang suami istri? Kalau istri dari CEO baru kita, malah ibu Arnita yang selama ini kita kira akan dengan pak Mario?” tanya salah satu dari mereka.
Menyimak itu, Miss Tania langsung memijat-mijat kepalanya menggunakan kedua tangan. “Jangan tanya ke saya, deh! Nanti yang ada, rambut saya makin keriting. Kalau kalian memang sangat ingin tahu, mending langsung tanya saja sama yang bersangkutan!” ucapnya yang kemudian memutuskan pergi dari sana.
Kepergian Miss Tania yang masih tetap sibuk memijat membuat keenam karyawati di sana menjadi membicarakannya.
“Tuh orang pasti mumet banget karena selama ini paling sering nin-das ibu Arnita!” ucap salah satu dari mereka dan sengaja berbisik-bisik agar Miss Tania yang baru akan masuk lift di depan mereka, tak mendengarnya.
__ADS_1
Mendengar itu, kelimanya mengangguk-angguk setuju.
“Sama itu, yang di divisi jahit menjahit. Yang di awal ibu Arnita gabung di sini. Setelah ibu Arnita menang kompetisi desain kan, atasan di sana ngerahin anak buahnya buat bul-ly ibu Arnita!” ucap si resepsionis. Membuat kebersamaan di sana menjadi diwarnai ketegangan. “Kalian masih ingat, kan? Ibu Arnita sampai disekaap di gudang kain, dan saat itu pak Mario yang nemuin! Ibu Arnita pingsan dan setelah itu langsung diopname, besoknya malah lahiran?”
“Pokoknya wajib hati-hati sih, siapa pun yang sudah jahat apalagi di luar batas. Ya enggak hanya ke ibu Arnita saja. Takutnya yang ternyata istri CEO atau sultan lainnya, juga bukan ibu Arnita saja!” timpal karyawati lainnya berusaha bersikap netral.
Seperti yang sedang menjadi obrolan hangat, itulah yang tengah Miss Tania rasakan. Wanita itu terlalu bingung bagaimana caranya bersikap kepada Arnita yang selama ini sibuk ia tin-das.
“Oh, iya ... anaknya kan sedang sakit. Nanti aku jenguk sekalian bareng papah suami, bawa hadiah yang banyak sekaligus mahal! Fix, ini jurus ninja terjitu, sih!” ucap Miss Tania tiba-tiba dan menjadi agak bersemangat. Otaknya tak begitu gelap, meski jika ia ingat sikapnya yang langsung memecat Arnita ketika wanita itu mengabarkan sang putra dirawat di rumah sakit, ia menjadi meringis kemudian gigit jari.
“Saya mohon, Miss. Sehari saja saya izin. putra saya benar-benar sakit. Keadaannya sangat serius dan saya pun sudah meminta izin dari dokter agar saya bisa merawatnya secara intensif. Dokter menyarankan saya untuk merawatnya secara intensif selama satu minggu, Miss. Namun untuk urusan pemotretan, saya pastikan tetap akan saya kerjakan bagaimanapun caranya, semuanya benar-benar akan tepat waktu!”
“Kalau putra kamu semerepotkan itu, sudah suruh matti saja. Kamu pun enggak usah repot-repot kerja karena daripada mengerjakan karyawan tidak jelas dan hobinya mengatur jadwal seenaknya, lebih baik kamu tidak usah kerja saja. Mulai sekarang, kamu saya pecat karena perusahaan tidak butuh kamu lagi!”
“Aku terpaksa sekejji ini, demi perusahaan ini. Agar semua karyawan bisa maju. Sumpah, serius niatku beneran baik!” lirih Miss Tania masih ketakutan. Saking takutnya, mendengar lift terbuka saja ia langsung terlonjak. Beruntung di sana tidak ada orang lain hingga tidak ada yang melihat tingkahnya yang mirip ODGJ.
***
Di tempat besuk, Arnita sudah tidak sabar menunggu kedatangan Mia. Wanita bertubuh langsing dan berwajah tenang itu menatap lesu keberadaannya. Mia yang didakwa telah merencanakan pembunuhaan berencana kepada Devano, terancam mendapatkan hukuman berat.
Ketimbang Arnita, Restu yang turut serta di sana dan sampai tidak mau duduk, terlihat jauh lebih emosional.
__ADS_1
“Kamu punya dendam pribadi apa ke Arnita apalagi Vano, sampai-sampai, kamu merencanakannya di buku agendamu!” marah Restu yang juga baru bisa bertemu Mia secara langsung. Dari kemarin ia terlalu sibuk, hingga membuatnya menyerahkan semua perkara kecelakaan Devano kepada sang pengacara.
Mia duduk dengan malas di hadapan Arnita. Ia tidak menatap Arnita maupun Restu yang sudah menggebu-gebu bertanya kepadanya, mengenai rencana yang ia siapkan untuk mele-nyapkan Devano maupun Arnita. Mia memilih menunduk khas orang sakit jiwa.
“Dua tahun kita menjadi tetangga, Mi. Aku sudah menganggapmu sebagai adik sendiri. Dan kamu pun ibarat mamah kedua dari Vano karena kamu merupakan guru terbaik Vano!” ucap Arnita lirih. Wanita di hadapannya memang memiliki usaha semacam les khusus untuk anak-anak dan kebanyakan anak-anak yang ada di apartemen mereka tinggal, menjadi murid Mia secara ekslusif.
Sistim didik yang Mia terapkan juga merangkap jasa penitipan anak, apalagi di apartemen Mia sampai ada ruang tidur khusus untuk anak-anak tidur siang, sebelum akhirnya mereka juga sampai makan siang bersama.
Mia tetap bungkam. Benar-benar tak membagi alasannya melakukan semua itu. Kata maaf pun sama sekali tidak terucap walau Arnita sudah menjelaskan keadaan Devano setelah Mia dengan sengaja mendoroongnya dari tangga darurat.
“Mi, tolong kooperatif agar kamu enggak semakin menyesali apa yang kamu lakukan. Sebenarnya kamu kenapa?” lirih Arnita.
“Aku lelah ... aku ingin kembali ke dalam,” ucap Mia masih menunduk.
Restu buru-buru membuka tas yang ada di pangkuan Arnita. Ia mengambil bekal minum dari sana dan masih berisi setengah. Restu membuka tutupnya kemudian mengguyurkkan isi airnya ke wajah Mia. Tak tanggung-tanggung, botol tersebut juga sampai Restu hannntamkan ke kening Mia.
"Bahkan meski nantinya kamu dihukum matti, semua itu tetap enggak bisa menyembuhkan luka yang kamu torehkan dan sampai membuat Vano mengalami trauma parah. Tak semata mengenai luka-luka di fisiknya. Tapi juga ingatan Vano yang sampai ikut terluka karena ulah kejjimu!” tegas Restu masih emosional walau ia masih bisa berbicara lirih.
Arnita menunduk dalam di tengah kenyataannya yang berlinang air mata. Benar kata Restu, Devano mengalami trauma parah. Bocah itu sampai tidak mau membahas alasan Aunty Mia yang selama dua tahun terakhir merawat sekaligus mendidiknya, tega mendoorongnya dari tangga darurat. Kejadian yang membuat tubuh Devano bermasalah serius, dan Arnita sangat yakin, bocah sekelas Devano akan sulit melupakannya.
“Kita pergi. Sia-sia kita ke sini. Biarkan dia dihukumm mati karena perbuatannya yang sangat kejji!” sergah Restu yang bergegas menggandeng Arnita, membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
“Sampai kapan pun, aku benar-benar tidak akan pernah mengatakan alasanku. Karena andai dia tahu, yang ada dia malu bahkan, ... yang ada dia membenciku!” batin Mia.