Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
83 : Akhirnya Devano Belajar Jadi Kakak


__ADS_3

“Hanya karena aku bikin kamu kesal, kamu sama mas Restu enggak lanjut urus hubunganku dan Mario?” tanya Fiola.


Arnita yang ditemani sang putra langsung mengernyit, menyikapi iparnya dengan serius. Setelah mendadak datang ke rumah di sore yang cerah hari ini, Fiola seolah tengah menagih. Padahal Arnita yakin, dirinya maupun Restu tidak pernah menjodohkan Fiola dan Mario secara resmi. Yang Arnita dan Restu lakukan hanya memberi saran. Memberi Fiola arahan bahwa Mario tipikal salah satu pria baik yang populasinya terbilang langka.


“Aunty, kalau Aunty ngomong sama Mamah, enggak usah marah-marah,” ucap Devano memberi sang bibi peringatan.


“Ya ampun nih bocah ya, beneran titisannya mas Restu. Mirip banget enggak ada yang dibuang!” batin Fiola yang masih bersedekap layaknya Devano, sambil melirik sinis bocah tersebut.


Arnita menghela napas dalam. “Jadi, kamu tertarik beneran ke mas Mario?” Ia memastikan, tapi yang ditanya hanya menepis tatapannya melalui lirikan sinis. “Kalau memang iya, ya sudah usaha sendiri. Jangan emosi dulu, dengerin dulu,” lanjutnya lantaran Fiola terlihat akan langsung marah-marah. Wajahnya sudah langsung menatapnya dengan raut tidak nyaman.


“Dari awal kan, saya dan mas Restu hanya kasih saran. Kami kasih saran baik-baik, minta kamu buat berubah jadi lebih baik lagi,” jelas Arnita. Di hadapannya, Fiola langsung tak bisa berkata-kata. “Namun sebelum itu, satu hal yang harus kamu tahu. Bahwa ternyata, Mario ini anak dari tante Mas Restu. Dia anak dari wanita yang sudah sangat melukai mamah Rembulan. Tak bermaksud menghakimi Mario karena biar bagaimanapun, Mario tidak tahu apa-apa. Namun demi menjaga hati semuanya khususnya hati mamah Rembulan, ... jangan mas Mario. Cari laki-laki lain saja.”


Walau Arnita menatapnya penuh pengertian, termasuk tutur kata Arnita yang sangat santun, tetap saja hati Fiola langsung retak tak berupa.


“Aku beneran sudah mulai sayang dia,” lirih Fiola yang sekadar bersuara saja, sampai tertahan di tenggorokan saking sakitnya luka baru yang ia dapatkan dari kabar yang Arnita sampaikan.


Arnita menggeleng kemudian menatap Fiola dengan sangat memohon. “Cinta yang baru mekar, bisa kembali mekar oleh cinta yang baru walau dia pernah layu. Namun luka yang menyerang batin apalagi mental, dan sampai membuat seseorang trauma, ini beneran enggak ada obatnya, Fi.”


Ucapan Arnita yang sampai dihiasi linangan air mata, bertepatan dengan kedatangan ibu Rembulan. Hati wanita cantik itu langsung terenyuh, merasa sangat berharga bahkan spesial karena pembelaan yang tengah Arnita lakukan. Sebab, arahan yang tengah Arnita lakukan kepada Fiola, tak ubahnya upaya menantunya itu dalam melindunginya.


“Arnita, ... ya Alloh, Ta. Maaf banget ya, dulu Mamah pernah salah sangka ke kamu. Padahal kamu sebaik ini. Beruntung banget Mamah punya kamu setelah di masa lalu, Mamah beneran kekeringan perhatian. Makasih banyak sudah menghargai Mamah,” batin ibu Rembulan langsung berlinang air mata. Air mata bahagia.


Sadar Rayyan yang ia gandeng akan bertanya, ibu Rembulan segera membawanya melipir, membuat mereka berlindung di balik tembok sebelah pintu yang nyaris mereka lalui.

__ADS_1


Devano langsung menatap khawatir sang mamah. Namun, Arnita langsung memberikan senyumnya, meyakinkan sang putra sebelum akhirnya ia menghampiri, duduk di sebelah Fiola, mengajak iparnya itu mengobrol dari hati.


“Kalau memang kalian jodoh, pasti ada jalan. Kamu masih muda, ya sudah jalani saja yang sudah ada. Fokus sama anak dan juga karier kamu,” ucap Arnita yang bertutur lebih lirih sekaligus pelan. “Mungkin sekarang kamu menganggap aku dan orang-orang dalam hidup kamu kejam, tapi nanti saat kamu sudah bisa lebih berpikir dewasa, kamu beneran akan paham. Soalnya cara pikir kita belum bisa disamakan. Percaya deh, kami semua sayang kamu. Walau kami cenderung keras banget ke kamu, ini semua tak semata karena kamu juga keras.”


“Coba sekarang kamu renungi, ... kamu ke kami kayak apa? Kamu lembut apalagi sopan ke kamu? Enggak, kan? Yang ada kamu selalu marah-marah?” lanjut Arnita.


Arnita berangsur meraih kedua tangan Fiola, menggenggamnya hangat. Iparnya itu sudah tersedu-sedu. Hingga mulut tajam seorang Devano sampai mengatainya “cengeng”.


“Pantes Rayyan cengeng, Aunty saja cengeng!” ejek Devano lagi.


Di persembunyiannya, ibu Rembulan yang sudah berlinang air mata menjadi tersenyum geli melihat tingkah Devano.


“Yang sabar, ya. Percaya, selalu ada jalan karena jalan dan cara sampai tujuan enggak hanya satu dua, tapi banyak!” ucap Arnita meyakinkan. “Perbaiki diri saja, jadi lebih baik lagi, lebih baik lagi, gitu terus, pasti jodoh kamu juga terus diperbaiki sama Tuhan. Jodoh itu cerminan diri, kamu tahu itu, kan?”


Bersama ibu Rembulan dan Rayyan yang ikut serta, Arnita membawa Devano maupun Fiola satu mobil dengannya. Hanya saja, selama itu juga, Devano tetap tidak mau dekat dengan Rayyan. Walau keduanya duduk bersama di belakang, Devano memilih menjaga jarak ke pojok sambil terus bersedekap.


Di ruang kerjanya, Restu tengah serius menatap layar laptop yang membuat kedua alisnya terangkat saking lelahnya kedua matanya. Termasuk juga punggungnya yang sudah panas bahkan sakit. Pria itu melakukan peregangan punggung ke kanan dan kiri, dan tak lama setelah itu, seseorang di luar mengetuk pintu ruang kerjanya. Membuatnya buru-buru bersikap cool.


“Masuk!” seru Restu.


Pintu terbuka secara pelan, tanpa ada suara sapaan hingga Restu yang sebenarnya menunggu, berangsur memastikan. Di depan saja dan jaraknya sekitar lima meter darinya, pintu sudah dibuka setengah bagian dan terlihat jelas ditahan, entah siapa pelakunya karena belum ada suara apalagi penampakan.


“Siapa?” tanya Restu yang kemudian berdiri. Belum sempat melangkah, seseorang melongok dan itu sang istri yang menatapnya ceria. Ia langsung kikuk karenanya.

__ADS_1


“Pak Restu enggak kangen istri?” tanya Arnita sengaja menggoda suaminya sendiri.


“Ih Sayang, ih ... kok kamu ke sini? Kamu ke sini sama siapa? Devano mana?” sergah Restu buru-buru menghampiri sang istri.


Arnita masih menahan pintu, menatap sang suami yang penampilannya sangat berantakan, dengan tatapan penuh cinta. Restu tak lagi memakai jas. Dasi yang pagi tadi ia lilitkan juga sudah miring tak jelas. Termasuk lengan kemeja panjang warna putihnya yang sudah disingsing asal hingga siku. Kalau sudah begitu Arnita yakin, suaminya sedang sangat pusing karena pekerjaan yang menumpuk.


“Sering-sering datang ke sini, kenapa?” ucap Restu sesaat setelah ia memeluk hangat tubuh sang istri.


“Mungkin ke depannya bakalan sering, biar papahnya anak-anak enggak terlalu pusing!” balas Arnita yang membenarkan masker putihnya. Sebab bepergian menggunakan mobil, masih membuatnya pusing jika ia tak memakai masker penuh stiker aroma terapi.


Restu tersipu kemudian mengecup kening Arnita penuh sayang.


“Aku ke sini bareng Fiola, mamah, Rayyan, sama Devano juga,” cerita Arnita.


“Jangan cengeng, ih! Aku buang nanti kamu ke kandang ayam.”


Suara Devano yang tengah mengomel, langsung membuat Arnita apalagi Restu, melongo. Kemudian, keduanya kompak keluar dari ruang kerja Restu untuk memastikan. Sungguh pemandangan yang mengharukan karena di lorong depan sana, Devano yang walau mengomel ternyata tengah menggendong Rayyan. Sementara di belakang keduanya, pak Lukman membawa dua kantong besar dan berusaha menyeimbangi.


“Sini biar Pak Lukman saja yang gendong dek Rayyan,” bujuk pak Lukman.


“Enggak apa-apa, Pak. Biar saya saja, keenaken si Rayyan kalau digendong Bapak. Rayyan kan enggak takut ke Bapak, Rayyan takutnya sama aku. Biar aku saja yang gendong, biar dia enggak berani nangis. Nangis terus cengeng banget. Digigit semut saja nangis berisik! ” kesal Devano sambil terus menggandeng Rayyan menuju ruang kerja Restu.


Restu dan Arnita kompak tersenyum lepas.

__ADS_1


“Mah, ... akhirnya Devano belajar jadi Kakak!” bisik Restu kegirangan dan sengaja buru-buru mengajak Arnita masuk agar tidak ketahuan Devano.


__ADS_2