Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
TAMAT


__ADS_3

“Kak Vano, kenapa Kakak enggak pernah bicara sama orang lain, selain keluarga kita?” tanya Divani masih duduk di sebelah sang kakak.


Mereka tengah menjalani perjalanan ke sekolah, menggunakan mobil yang mengantar mereka dan dikemudikan langsung oleh pak Lukman.


“Karena memang enggak ada yang perlu diomongin,” ucap Devano dengan tampang cueknya, walau dalam ekspresi seperti itu saja ia tetap terlihat tampan.


Devano masih fokus dengan game di ponselnya. “Lagian, buat apa juga buang-buang waktu untuk hal yang enggak penting kalau beban hidupku saja sudah banyak?”


“Tapi ke Rayyan, Kakak juga jarang ngobrol sama dia,” balas Divani lagi masih sangat penasaran, kenapa kakaknya terkesan anti sosial.


“Si Rayyan cengeng, makanya aku malas ngomong sama dia. Masa sudah SMA masih nangis. Kemarin kamu tahu enggak, dia nangis gara-gara putus sama pacarnya di tengah lapangan basket! Sumpah aku malu banget, apalagi semuanya tahu kalau Rayyan saudaraku!” ketus Devano.


Pak Lukman yang tengah mengemudi, langsung mesem menanggapi ucapan Tuan Muda kesayangannya.


“Wah, si Rayyan beneran sudah punya pacar?” Divani antusias, tapi yang diajak bicara tetap fokus dengan game di ponsel.


Karena Devano hanya diam, Divani pun akhirnya berkata, “Kalau Rayyan saja sudah punya pacar, terus Kak Vano, gimana?”


Masih cuek, Devano berkata, “Kesurupan kamu, tanya gitu ke aku?”


Balasan cuek barusan membuat seorang Divani mendengkus lemas. Seanti itu memang Devano kepada dunia luar apalagi yang berurusan dengan wanita yang menjadi pasangannya. Hingga sekelas Divani menjadi sangat penasaran, bagaimana nasib percintaan Devano di masa mendatang?


“Memangnya, dari sekian banyak cewek yang deketin Kakak, enggak ada satu pun yang membuat Kakak tertarik?” lanjut Divani.


“Enggak.” Devano masih fokus dengan layar ponsel berisi game-nya. Sebelum Divani kembali bertanya, ia sudah lebih dulu berkata, “Sekali kamu bawel, Kakak turunin kamu di jalan!”


Dan Divani langsung tidak memiliki pilihan lain selain pasrah, tak lagi banyak tanya walau gadis itu merasa sangat penasaran.


Jika bertanya seperti apa seorang Devano di masa depan? Di masa depan nanti, setiap wanita akan senantiasa memuja sekaligus takut kepadanya. Sebab Devano yang menjadi makin irit bicara semenjak mengambil alih Fashion Dream, memang benar-benar keren!


Dari penampilannya saja, Devano yang kini sudah genap berusia tiga puluh tahun, tidak pernah melepas setelan jas berikut dasi mahalnya. Termasuk juga gaya rambut pendek rapinya yang selalu memakai pelumas rambut beraroma khusus.


Devano menjadi generasi muda berpengaruh yang selalu menjadi pusat perhatian. Baik dari cara berpakaiannya, juga cara pria muda itu dalam bekerja dan memimpin perusahaan. Tak lupa, masalah asmara Devano yang terbilang misterius, selain Devano yang tidak pernah terlibat dalam skandal cinta.


“Zee, sekarang katakan kepada saya, apa saja jadwal yang harus saya jalani hari ini,” ucap Devano kepada sang sekretaris, Zee.

__ADS_1


Zee, wanita cantik yang juga memiliki penampilan menarik itu berdiri gemetaran di depan meja kerja seorang Devano yang megah tapi tetap rapi walau dihiasi banyak barang.


“Pak Vano, maaf. Ini, ... Tadi ada pekerjaan tambahan yang harus Pak Vano jalani dari mamah, papah, dan juga oma Pak Vano.” Zee menunduk hormat menyampaikan setiap informasinya.


Devano yang menatap jutek sang sekretaris segera berkata, “ya sudah beri tahu saya!”


“Baik, Pak!” Tanpa banyak menjelaskan, Zee menaruh ketiga map tambahan yang dimaksud dan itu dari kedua orang tua maupun sang oma. “Tapi maaf, Pak. Semuanya berisi proposal perjodohan. Ada yang jalur kekerabatan, ada yang dari jalur biro jodoh, dan terakhir semacam pilihan terbuka untuk Pak Vano karena di dalamnya berisi beberapa foto perempuan muda cantik!” jelas Zee yang langsung terlonjak kaget saking terkejutnya lantaran Devano mendadak menggebrak meja menggunakan kedua tangannya.


“Memangnya menurut kamu, saya sudah setua itu?” tanya Devano kepada sang sekretaris.


“Kenapa Bapak bertanya kepada saya? Saya kan hanya menyampaikan semua pesan orang tua dan juga oma Pak Vano. Akan lebih baik andai Pak Vano mempertanyakannya kepada mereka, kan?”” ucap Zee makin gemetaran.


“Ya setidaknya,” kesal Devano tak kuasa mengomel kepada sang sekretaris. Karenanya, ia hanya mampu melirik sebal wanita cantik itu. “Tapi masa iya, aku sampai dijodohin. Mana usaha mereka enggak tanggung-tanggung. Biro jodoh, perjodohan keluarga, bahkan aku suruh milih!”


Ada satu hal yang membuat Devano merasa terganggu. Ini mengenai kenyataan Zee yang masih berdiri agak membungkuk di hadapannya. “Zee ...?” lirihnya tapi tegas sambil melirik Zee penuh peringatan.


Mendapatkan tatapan tajam sang bos kejam, Zee langsung bergidik. Ia sungguh langsung tidak baik-baik saja karena sekadar napas saja, ia menjadi kesulitan dalam melakukannya. “I-ya, Pak!”


Sambil tetap menatap tajam Zee, Devano berkata, “Andai hal ini sampai bocor, orang yang akan langsung saya cari kamu. Kamu masih mau bekerja di sini, kan?”


“I-iya, Pak!” Zee iya-iya saja karena ia memang butuh bahkan masih sangat butuh pekerjaannya di sana, sekesal apa pun ia kepada sang bos yang selalu semena-mena. Tentunya, ia tak mungkin berani membuat masalah karena yang tidak membuat masalah saja bisa bermasalah, apalagi kalau ia juga sampai membuat masalah.


“Tapi, maaf, Pak Vano!” tahan Zee tak mengizinkan sang bos yang membawa ketiga map pemberiannya dan itu berisi proposal jodoh, pergi.


Devano langsung menatap sengit sang sekretaris. “Kamu tahu kan, saya paling benci kata maaf apalagi kepada karyawan yang berani menahan-nahan saya?!”


“M-maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf!”


“Belum lebaran sudah sibuk minta maaf! Enggak tahu apa saya lagi pusing begini!”


“Karena Pak Vano bos saya, maka dari itu saya hanya mengharapkan kebaikan Pak Vano.”


“Kamu kan tahu, saya bukan orang yang baik hati, saya sombong, dan saya benci dibohongi!” tegas Devano.


“Memang sebobrok itu sih kanu, Pak!” batin Zee yang kemudian berkata, “Ayah saya masuk ICU dan saya izin tiga hari untuk menemani.”

__ADS_1


“Kamu ingin dirawat di ICU, juga?” sergah Devano memotong ucapan sang sekretaris.


Zee refleks menahan napas, menatap tak habis pikir sang bos yang walau ia yakini sedang bercanda, tapi gayanya sangat serius.


“Saya memang tidak pandai bercanda, tapi jujur, tadi itu bercanda versi saya agar kamu tidak jadi melow karena saat kamu melow pun, yang ada kerajaanmu enggak ada yang beres.” Selain berbicara dengan suara lebih lirih, Devano juga sampai berusaha tersenyum manis, walau yang ada, senyum versi manis darinya yang begitu kaku mirip orang stroke nyaris sakratulmaut.


“Sumpah nih orang beneran serem!” batin Zee yang seketika yakin, Devano memiliki maksud lain dari sikap manisnya yang sebenarnya sangat gagal.


“Pura-pura jadi kekasih saya, saya urus semua biaya pengobatan papah kamu dan kamu juga boleh cuti dengan leluasa, bagaimana?” ucap Devano masih berusaha manis. Karena lupa, ia buru-buru menyodorkan tangan kanannya untuk salaman sebagai wujud dari kesepakatan mereka.


Zee menatap ngeri sang bos yang walau sangat tampan tapi kekejamannya melebihi pasukan dakjal. Namun, perlahan ia menggeleng di tengah keseriusannya balas menatap Devano.


Devano tersenyum lepas sangat lama hingga gigi rajinnya kering. Membuatnya kesal lantaran sang sekretaris mulai membuatnya marah dengan percobaan penolakan yang dilakukan. “Biaya pengobatan di ICU mahal, kan, Zee? Sementara sejauh ini, alasan kamu sampai mau merangkap jadi asisten pribadi saya, juga karena kondisi papah kamu.”


“S-saya mau mengajukan pinjaman saja, Pak!” Zee makin ketar-ketir.


“Semacam cash bon, maksudnya? Ya elah, warung saja sudah enggak pada menerima, apalagi saya yang sedang berusaha menekan kamu?!” omel Devano walau ia masih berusaha bersikap manis.


“S-saya sudah punya pacar, Pak. Dan kami akan menikah tiga bulan lagi!” yakin Zee makin gemetaran sekaligus tak karuan.


“Kan cuma pura-pura dan kita pun melakukannya hanya di depan keluargaku. Enggak mungkin ke tempat umum! Sudah, salaman saja! Deal!” ucap Devano cepat dan langsung menyalami tangan kanan sang sekretaris.


“Oke, akhirnya masalahku beres!” batin Devano.


“Mentang-mentang bos, selalu ingin menang dan selalu merasa benar! Ya Tuhan, semoga aman dan Rendan maupun papah enggak tahu!” batin Zee menjadi sibuk mengatur napas pelan demi meredam ketegangan yang ia rasakan hanya karena menghadapi seorang Devano yang maha kejam. Lihat saja, setelah membuat kesepakatan dan sebelumnya sempat melakukan bujuk rayu, kini pria itu dengan tega mengerjakan semua pekerjaan yang tersisa, secepat-cepatnya karena mereka harus segera pulang ke rumah orang tua Devano.


“Kayaknya nih orang bakalan kena ultimatum semacam dicoret dari ahli waris andai dia enggak nikah-nikah!” batin Zee lagi. “Lagian, siapa juga yang betah sama bos Vano kalau kelakuannya saja mirip jaman kompeni. Ini saja, andai aku enggak butuh duit buat pengobatan Papah sekaligus persiapan nikah, duh udah dari lama aku dadah dari sini!” batin Zee lagi yang mendadak histeris karena latah.


“Kamu ngomongin saya di hati kamu, yah, makanya telinga saya berdengung panas gini?!” Devano menatap marah Zee yang sudah ketakutan. Kedua tangan wanita cantik itu menahan dada, seolah tengah berusaha memegangi jantungnya yang telanjur rontok saking terkejutnya oleh tudingannya. Tadi saja, Zee sampai latah.


“Kok saya, sih, Pak? Jelas-jelas yang sedang menunggu kabar Pak Vano, mamah, papah, sama oma Pak Vano. Mereka sudah nunggu di rumah, apalagi sekarang sudah mau pukul enam. Lihat, di luar saja sudah petang.” Sebisa mungkin, Zee berusaha sabar walau ia sudah sangat ingin mengambil pisau cincang kemudian menggunakannya kepada Devano yang selalu membuatnya belajar makin sabar.


“Tahu begitu, kenapa kamu masih di sini? Cepat beresin semua pekerjaanmu karena kita harus segera siap-siap ke rumah saya untuk menemui orang tua saya!” tegas Devano tanpa memberi Zee kesempatan untuk menjawab.


“Selalu begitu! Padahal ibu Arnita maupun pak Restu, orangnya baik banget! Aku jadi curiga, jangan-jangan, sebenarnya pak Vano ini, titisan Sengkuni!” batin Zee masih berusaha tersenyum sekaligus tunduk kepada sang bos.

__ADS_1


Mau tahu kelanjutan kisah mereka? Bulan depan di novel : Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!


--Tamat--


__ADS_2