Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
39 : Maksud yang Masih Sama


__ADS_3

“Kalau dilihat-lihat, kamu yang sering direkomendasikan sama Mario, kan?” ucap ibu Rembulan setelah berjam-jam lamanya, dirinya menjadi bagian dari kebersamaan Arnita dan Devano. Baru saja, wanita yang dikata telah memberi Restu keturunan itu menyuguhkan sepiring salad buah.


“Kamu kerja di perusahaan yang Restu urus juga, kan? Kalau enggak salah, nama kamu Ar-nita, atau Nita pokoknya itu!” lanjut ibu Rembulan makin yakin.


Pertanyaan awal saja sudah langsung membuat seorang Arnita tegang, ditambah pertanyaan susulan, Arnita sampai deg-degan.


Arnita yang langsung terdiam gamang tentu tidak lupa, Mario sudah langsung menjadi malaikat untuknya sejak awal Arnita gabung di perusahaan. Dari Arnita yang awalnya hanya penjahit biasa dan langsung ikut semacam pencarian bakat desainer di perusahaan, di tahun pertama wanita itu bergabung.


Kala itu, Arnita tak sengaja mengenal Mario. Perkenalan sangat manis layaknya drama romantis yang juga langsung dipenuhi sikap manis dari seorang Mario. Hubungan mereka bahkan sempat menjadi buah bibir, dan Arnita sempat jadi bahan rundungan rekan kerjanya. Arnita sempat mundur sekaligus fokus mengurus bayinya, tapi Mario dengan sangat romantis menantinya tanpa jeda.


“Apa salahnya jika seorang manajer pelaksana merekomendasikan anak buahnya yang memang berbakat?” Restu yang baru datang dengan dinginnya, mengambil alih pembicaraan.


Restu menatap tak suka sang mamah walau pria itu menghampiri Arnita. Istrinya itu langsung menyalami tangan kanannya dengan takzim. Dan sebagai wujud dari rasa sayang sekaligus kerinduannya, Restu sengaja mendekap Arnita dari samping. Tangan kanannya sengaja menahan kepala Arnita, disertai bibirnya yang juga turut menempel di pelipis kiri istrinya itu.


Mendapati itu, ibu Rembulan mendengkus dan tak lagi berkomentar. Wanita itu menunduk, memilih menikmati salad buah pemberian Arnita. Sebab ibu Rembulan sadar, jika Restu sudah memiliki kemauan, semuanya benar-benar harus. Kendati demikian, ibu Rembulan masih penasaran mengenai hubungan Arnita dan Mario.


“Rambutan ...?” lirih Arnita sesaat setelah ia melongok kantong merah yang Restu berikan kepadanya. Kemudian, ia menatap wajah sang suami yang langsung mengatakan, itu permintaan khusus Devano yang sore tadi menelepon Restu menggunakan nomor ponsel Devano.


“Oalah ... tapi iya, sih. Tadi Vano minta nomor kamu ke aku. Tapi gimana teleponnya? Usaha banget berarti ya.” Membayangkan cara sang putra menghubungi Restu, Arnita langsung meringis, merasa ngilu sekaligus tak tega. Karena kedua tangan Vano memang hanya bisa bergerak bagian jemarinya dan itu pun terbatas.


“Lagi ngapain?” tanya Restu sengaja menghampiri sang putra di temani juga oleh Arnita.


Devano tengah menonton televisi di depannya yang memang acara kartun semua. Dalam diamnya, ibu Rembulan masih menjadi pengamat yang baik, khususnya kepada Arnita.

__ADS_1


“Ibu, mau rambutan? Ini Mas Restu bawa, tapi sebagiannya mau dibekuin soalnya Vano pengin yang dibekuin, katanya lagi viral,” ucap Arnita berusaha akrab dengan mamah mertuanya yang super bar-bar.


“Bekuin yang banyak saja, memang lebih enak!” ucap ibu Rembulan yang juga tak lupa memuji salad buah buatan Arnita.


“Oh, Ibu sudah coba yang beku? Kayaknya memang lebih seger, ya. Oh, iya ... salad buahnya mau dikasih rambutan? Harusnya sih enak,” balas Arnita yang sampai agak jongkok di depan ibu Rembulan untuk meletakan sebagian buah rambutannya. Kemudian, fokusnya tercuri pada kebersamaan Restu dan Devano di belakang sana.


“Sayang, Papah mandi dulu, nanti baru main lagi,” ucap Arnita sengaja berseru.


“Eh iya, ih. Restu enggak mikir, habis dari sana-sana juga, langsung ke anak yang lagi sakit. Bukannya mandi dulu apa gimana biar steril!” sergah ibu Rembulan yang langsung mengomel.


“Mamah, ya. Malah bikin suasana jadi panas saja!” ucap Restu lirih setelah ia ada di dekat sang mamah.


Arnita masih bisa mendengarnya lantaran tengah menaruh rambutannya di kulkas sebelah ibu Rembulan duduk.


“Kalau Mamah ingin Fiola bisa jadi manusia waras, biarkan aku yang didik dia! Jangan dibiasakan dimanjakan enggak jelas. Memangnya yang sudah-sudah belum cukup buat Mamah sadar?” Arnita masih ingat, tadi Restu marah besar dan beberapa ucapan Restu yang masih terngiang di benaknya ya yang kini menghiasi ingatannya.


Terpikir oleh Arnita, sebobrok apa sih seorang Fiola, hingga wanita muda itu terkesan harus sangat Restu jaga? Tentunya Arnita juga tidak lupa, bahwa Rayyan, bocah yang sempat ia pikir anak Restu, malah anak Fiola. Padahal selain masih sangat muda, yang Arnita tahu, Fiola belum menikah.


“Kenapa hanya diam?” tanya Restu ketika keheningan malam membuat kebersamaan di sana terasa sangat dingin. Ditambah, Devano juga sudah tidur.


“Pengin tanya, tapi takut salah. Tapi aku juga penasaran dengan kabar Lia, sama siapa itu ... Ken, ya?” Arnita yang duduk di sofa tunggal berangsur menunduk. “Aku juga pengin tahu kabar bapak. Soalnya selama pergi, aku jadi kepikiran, alasannya sangat menyayangi Sita, jangan-jangan karena Sita memang darah dagingnya. Dalam artian, bisa jari Bapak sudah selingkuh dari lama. Dan bahkan jadi alasan mamakku sakit.”


Sakit, Arnita sungguh merasakan itu di setiap ia teringat masa lalunya, khususnya perlakuan tak adil dari sang bapak.

__ADS_1


“Itu juga yang menjadi alasanku, sesulit dan sesakit apa pun, aku wajib hidup. Aku wajib kuat, bahagia, ... aku wajib sukses! Karena ketika seorang anak sudah tidak memiliki ibu, sebagian dari mereka juga otomatis enggak punya bapak. Memang enggak semuanya, tapi kebanyakan mantan suami kenalanku langsung lepas tangan, kalau mereka sudah punya kehidupan sekaligus ... kepuasan baru.” Arnita masih berucap lirih sekaligus menunduk dalam.


“Karenanya, aku beneran ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih banyak karena tetap menjadi papah yang baik buat Vano meski kita baru bertemu lagi!” lanjut Arnita.


Restu yang menyimak sekaligus menatap serius Arnita, berangsur menghela napas pelan. “Harusnya mereka masih di penjara. Namun bisa aku pastikan, dari semua yang ada di kampung sana termasuk Sita, enggak ada yang lebih baik dari kamu dan perjuangan kamu. Juga, ... ngapain kamu sampai mengucapkan terima kasih padahal sudah jadi kewajibanku menjadi papah terbaik buat Vano.”


Mendengar itu, Arnita langsung menatap Restu yang memang duduk santai agak sila di sofa panjang sebelahnya.


“Nanti kalau proyek kita sudah beres, ayo kita mudik. Pulang kampung. Vano pengin pulang kampung katanya,” lanjut Restu menatap Arnita sendu.


Arnita mengangguk-angguk.


“Masih belum berani buka in-boxku di fb?” lanjut Restu.


Arnita langsung menggeleng, dan Restu mengangguk-angguk kemudian menepuk sofa di sebelahnya.


“Sini duduk sini,” ucap Restu lagi yang menjadi jauh lebih lirih mirip berbisik-bisik.


“Aku lagi mens, ih, Mas!” balas Arnita sengaja berkeluh kesah. Sebab Arnita paham, laki-laki, suasana mendukung, meski awalnya untuk hal lain, pasti pada akhirnya tujuannya sama.


Restu yang sempat terbelalak, menjadi mengulumm senyumnya. “Ya sudah, enggak apa-apa. Masih bisa besoknya lagi.”


Seperti yang Arnita duga, maksud utama dari Restu yang memintanya duduk di sebelah pria itu padahal sebelumnya Restu membahas in-box fb, memang seperti yang Arnita pikirkan. Namun, Arnita yang juga masih merindukan Restu walau pria itu ada di hadapannya, memilih pindah kemudian duduk di sebelah Restu. Tak lupa, Arnita juga membahas Mario sekaligus jasa-jasa pria itu kepada Arnita.

__ADS_1


__ADS_2