
Hari yang melelahkan. Lebih lelah dari ketika dituntut perusahaan untuk bekerja dari pagi sampai pagi lagi. Iya, Arnita merasakan itu. Merasakan betapa sakitnya meredam emosi. Membiarkan tubuhnya terus terasa panas, dada terasa pegal, juga air mata yang tak hentinya berlinang walau ia sudah susah payah mencegah. Apalagi dari semua urusan di sana, urusan dengan bapak sekaligus saudara tirinya, yang dirasa Arnita sangat menguras emosi sekaligus kesabaran.
“Mamah jadi serem.” Devano menghampiri Arnita yang duduk melamun di kursi depan mesin jahit.
Arnita tersenyum hangat, terusik dan segera mengakhiri lamunannya. Ia berangsur merengkuh punggung sang putra yang kemudian ia pangku.
“Kakak takut ke Mamah?” tanya Arnita sambil berusaha menatap wajah putranya.
“Enggak, sih. Soalnya aku lebih takut ke yang dua itu, yang di rumah sakit yang kebakar loh, Mah,” jujur Devano.
Arnita mesem. “Sudah, mulai sekarang, Kakak jangan takut-takut lagi. Kakak sudah besar, dan sebentar lagi, Kakak punya adik, kan?”
Devano langsung menggeleng. “Aku mau jadi anak Papah saja.”
Balasan jujur dari Devano sukses membuat Arnita tertawa.
“Pah, ... Pah, sini, Pah! Ini anakmu, enggak mau jadi kakak dan punya adik. Mau jadi anak papah saja, katanya!” seru Arnita lantaran Restu ada di ruang sebelah, ruang keluarga. Pria itu sedang bekerja.
Sambil terus fokus dengan laptopnya, Restu yang juga tengah mengetik berkata, “Enggak apa-apa. Dikasih adik saja yang banyak, nanti juga terbiasa.”
“Pah, ih ... aku enggak mau punya adik. Aku mau jadi anak papah saja. Punya Rayyan saja aku males karena Papah sama Mamah jadi sibuk urus dia. Apalagi kalau aku punya banyak adik,” balas Devano sewot.
Arnita yang masih memangku Devano, hanya sibuk tertawa sambil menyimak.
“Punya banyak adik seru tahu, Kak. Jadi punya banyak teman. Kan jadi bisa makan bareng, main bareng, seru pokoknya.” Restu sibuk membujuk.
Mendengar itu, Devano langsung diam sekaligus merenung serius. “Tapi nanti kalau adiknya nakal, aku buang, ya?”
“Ya jangan gitu. Kalau Kakak nakal saja, Papah sama Mamah enggak langsung buang Kakak, kan? Diajari dulu pelan-pelan biar bisa,” ucap Restu.
__ADS_1
Devano langsung mendengkus sewot sambil bersedekap. “Aku mau nonton Pororo saja sama pak Lukman!” Buru-buru ia turun dari pangkuan sang mamah, pergi ke belakang sambil berseru.
“Kita jalan-jalan saja, yuk? Kita ke pasar malam, gimana?” tawar Restu ketika sang putra lewat di sebelahnya.
Devano yang sedang ingin banyak tahu, langsung berhenti melangkah. “Pasar malam itu apa? Belanja sayur malam-malam, begitu?”
“Pokoknya seru. Kakak mau ikut, enggak?” balas Restu.
Mendengar itu, Arnita pun berkomentar. “Memangnya ada pasar malam di maba, Pah?” Ia melangkah menuju ruang sebelah, membuatnya menjadi bagian dari kebersamaan suami sekaligus sang putra.
“Dekat pasar aku beli kembang ada pasar malam baru, dan malam ini sudah mulai buka. Yuk ke sana. Devano pasti heboh! Kakak belum pernah main di pasar malam, kan?” balas Restu.
“Pasar malam kayak apa, sih? Bentar aku cari tahu di youtube!” Saking penasarannya, Devano langsung masuk ke dalam kamarnya kemudian mengambil gawai canggihnya yang ada di tengah tempat tidur.
Ditinggal Devano, Restu dan Arnita kompak bertatapan sambil mesem. Arnita berangsur duduk di sebelah Restu kemudian mendekap manja pria itu. Kemudian yang wanita itu lakukan adalah bersandar manja ke dada Restu.
“Ayo, aku mau ke pasar malam! Seru kayaknya!” heboh Devano yang datang sambil agak berlari.
Devano langsung cemberut. “Kan belum malam, Mah. Jangan tidur dulu, nanti Mamah digigiit hantu!”
Restu menertawakan tanggapan Devano barusan. “Enggak apa-apa, kan, Kakak ke pasar malamnya bareng pak Lukman saja soalnya Mamah sudah ngantuk dan Papah mau temenin Mamah?” ucapnya sambil mendekap Arnita, membelaii kepala dan punggungnya penuh sayang.
“Aaah! Kalian! Aku kan bukan anaknya pak Lukman!” protes Devano.
Restu langsung menahan tawanya kemudian beranjak berdiri menghampiri Devano. Ia menggendong bocah itu, menimangnya penuh sayang.
“Tantruman banget, sih? Lihat, Mamah kamu sudah ngantuk gitu,” lirih Restu.
“Kakak pengin ke pasar malem, Mah,” rengek Devano.
__ADS_1
“Ya bentar-bentar, ... Mamah ganti baju dulu.” Arnita sengaja pamit karena kini, dirinya hanya memakai piama lengan pendek dipadukan dengan celana pendek juga.
Devano langsung bersemangat. Senyum semringah tak hentinya menghiasi wajahnya yang sudah mulai terlihat tampan. Walau sepanjang perjalanan sang mamah malah sibuk tidur, bagi Devano itu tidak masalah.
“Nanti aku mainnya sama pak Lukman juga enggak apa-apa. Mamah sama Papah lihatin dari jauh saja,” ucap Devano yang duduk di tempat duduk paling belakang.
Restu hanya mesem, tapi ia menjadi khawatir pada Arnita yang terlihat sangat kelelahan. Devano sibuk berisik saja, Arnita tetap tidur dengan lelap, meringkuk dalam dekapan Restu dan berlindung di bawah selimut. Pria itu mengecek denyut nadi, kemudian leher sang istri yang memang agak demam.
“Dingin?” lirih Restu memastikan kepada Arnita yang sampai ia guncang pelan pipi kanannya. Perlahan kedua mata sayu Arnita bergerak sebelum akhirnya benar-benar terbuka sempurna.
“Dingin?” Restu mengulang pertanyaannya.
Arnita yang mulai nyambung dengan maksud Restu, berangsur mengangguk. Di hadapannya, Restu langsung melepas jaketnya kemudian mengenakannya padanya yang sudah memakai kardigan.
“Wah ... ternyata pasar malam memang pasar malam-malam, tapi ada wahana bermainnya, ya? Tapi enggak ada yang jualan sayur, ya?” Devano langsung heboh melongok dari sebelah sang papah.
Mobil yang membawa mereka berangsur menepi di tempat parkir. Suasana pasar malam sudah sangat ramai. Tak hanya oleh pengunjung yang terbilang banyak, tapi juga dengan beberapa musik yang disetel kencang. Ada musik anak-anak, dangdut, dangdut koplo, dan juga lagu disko musik luar negeri.
Devano keluar lebih dulu. Mirip anak kambing yang tak sabar untuk buru-buru keluar dari kandang.
“Pak Lukman, ... Pak Lukman, itu tolong jagain takutnya anaknya ilang!” Arnita langsung panik. Bergegas ia turun meski selain merasa sangat kantuk, lemas bahkan meriang, ia juga mulai merasa pusing. Pandangannya saja menjadi tidak jelas.
“Duh, kok jadi gini, ya?” keluh Arnita yang memilih kembali masuk mobil. “Pah, aku pusing banget lih!” Restu yang nyaris memanggul Devano, langsung terusik kemudian memberikan sang putra kepada pak Lukman yang sudah ada di hadapannya.
“Ya sudah sana kalian main. Saya tunggu di sini saja. Kalau ada apa-apa langsung telepon saja,” ucap Restu yang juga memberikan beberapa lembar uang seratus ribu kepada pak Lukman.
Mungkin saking senangnya, tak sabar mencoba wahana, kali ini Devano tak keberatan hanya main dengan pak Lukman dan pak Slamet.
“Jadi anaknya pak Lukman sama anaknya pak Slamet dulu, ya?” seru Restu sengaja meledek sang putra.
__ADS_1
“Papah ih!” kesal Devano sambil mendengkus menatap sang papah yang ia tinggal di belakang sana.
Di tengah senyum yang tersisa, Restu langsung masuk mobil menghampiri sang istri. “Sayang, sakit banget? Pusing? Kita cek ke klinik bentar, yuk!”