Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
68 : Trauma Devano


__ADS_3

“Papah kapan pulang?”


Rayyan yang rindu Restu dan telanjur menganggap Restu sebagai papahnya, tengah melakukan telepon video dengan Restu. Devano yang awalnya sedang main lego di lantai dekat meja kerja Restu yang ada di ruang keluarga langsung kesal. Bocah itu bangkit, menghampiri sang papah kemudian memenuhi kamera ponsel dengan wajahnya.


Restu kebingungan melihat tingkah sang putra. Selain bertampang galak, Devano sampai berkecak pinggang tinggi. Dadanya sampai terangkat saking tinggi sekaligus lamanya.


“Hhhuh!” Setelah mendengkus, Devano yang masih berkecak pinggang segera menghampiri sang mamah yang tengah memasang gorden buatannya dibantu oleh bi Ade.


“Papah, aku kangen. Aku mau sama Papah ....”


Suara manja Rayyan kembali terdengar, membuat kekesalan seorang Devano kian membuncah. “Itu papah aku. Ngapain si Rayyan ngaku-ngaku! Manja banget lagi!” uringnya tepat di sebelah Arnita.


Arnita yang awalnya sedang merapikan lipatan gorden dan siap mengikatnya di kaitan pinggir, langsung tercengang mendengar itu. Ia dapati, Devano yang lagi-lagi tantrum.


“Kakak ...?” lirih Arnita berusaha melakukan pendekatan.


“Sudah itu si Rayyan dibuang saja ke kandang bebek biar kena taiii!” marah Devano lagi mamah berkecak pinggang.


Arnita yang awalnya iba sekaligus khawatir, malah menjadi mesem karena kemarahan Devano kata-katanya cukup lawak.


“Sini, ... sini,” ucap Arnita yang masih mesem. Ia memberikan gordennya yang telah terlipat rapi, kepada bi Ade untuk diikat menggunakan ikatan khusus yang juga ia buat.


“Aku mau papah aku, Mah!” protes Devano tak mau disentuh. Karena yang ia mau memang Restu.


Arnita masih sabar, memanggil sang suami dan ia yakini tidak mendengar keluh kesah Devano yang walau mengomel tapi dengan berbisik-bisik.


“Kaka, sini,” seru Restu masih dari tempat duduknya.


Dengan lantang, Devano berkata, “Enggak!” Kemudian ia memalingkan wajah judes khasnya.


Restu langsung termenung, kemudian menatap sang istri.


“Pokoknya aku enggak mau pulang ke Jakarta kalau Rayyan masih mau ambil papahku!” lanjut Devano yang kemudian kabur, masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Devano tak sampai menutup pintu, membuat Arnita bergegas menyusul.


“Kayaknya Vano telanjur trauma karena selama ini enggak sama Papah. Dia takut Papahnya pergi apalagi diambil orang. Ya buktinya, jangankan ke yang lain, ke adiknya saja, Vano enggak mau berbagi,” lirih Arnita kepada Restu yang memang langsung meninggalkan teleponnya dengan Rayyan.


Restu langsung menanggapi apa yang Arnita katakan dengan serius. Ia beranggapan, Devano mengalami trauma khusus semacam kehilangan papah. Karenanya, sekadar berbagi pun, Devano tidak mau.


Ketika mereka sampai kamar Devano, mereka dibuat bingung dengan keadaan di sana. Karena di tengah kasur, Devano tengah duduk sila sambil memakan stok camilannya.


“Papah pikir, Kakak lagi marah. Eh lagi makan,” ucap Restu yang kemudian duduk di pinggir tempat tidur persis di sebelah Devano.


“Ya memang marah, tapi aku tetap harus makan biar aku kuat, Pah!” tegas Devano meyakinkan.


Arnita yang masih berdiri di sebelah Restu, refleks menepuk sebelah bahu suaminya itu sambil menahan tawanya.


Tak beda dengan Arnita, sebenarnya Restu juga ingin tertawa. “Kakak makan sendiri, itu kelincinya enggak dikasih makan, nanti mereka sakit.”


Mendengar itu, Devano langsung terkesiap. Ia sampai berhenti menguyah. “Gara-gara Papah, aku jadi lupa kasih makan kelinci-kelinciku!”


“Ya karena aku sibuk jagain Papah, biar Papah enggak diambil dedek apalagi si Rayyan yang manja itu! Iihh, kan jadi lupa lagi mau kasih makan kelinci!”


Setelah sempat tantrum parah, Devano pergi dari kamar. Namun dalam hitungan menit, bocah itu kembali mengambil satu bungkus besar camilan keripik kentang kesukaannya.


“Ngapain bawa itu?” Restu masih asyik menggoda sang jagoan. Baru ia sadari, menggoda Devano menjadi vitamin tersendiri untuknya.


Devano yang kembali memenuhi mulutnya dengan keripik kentang, melirik sinis sang papah. “Biar aku kuat, Pah. Aku harus banyak makan!”


Restu yang menahan tawanya, berangsur mengangguk-angguk paham. Bersama Arnita, ia kompak menahan tawa dan baru melepasnya ketika sang bos kecil pergi. Karena jika mereka sampai tertawa di hadapan Devano, kejadiannya akan lebih fatal.


“Papah sama Mamah jangan ketawa-ketawa, ya! Aku tambah marah kalau Papah Mamah ketawain aku!” tegas Devano mendadak kembali sambil marah-marah kemudian makan lagi.


Arnita dan Restu langsung tidak berkutik. Keduanya langsung mingkem, kemudian menunduk patuh.


Hari ini Restu dan Arnita menyadari, bahwa kecemburuan bukan hanya milik orang dewasa yang terlibat perkara cinta atau baru tahap iri dan ingin memiliki. Sebab rasa cemburu juga akan dirasakan oleh anak-anak apalagi bagi mereka yang memiliki trauma tersendiri seperti Devano.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Restu mengemban Devano, membimbing bocah itu memberi makan kedua kelincinya. Di sebelah, Arnita menemani sambil memberikan stok wortel.


“Buang itu si Rayyan ke kandang bebek belakang biar kena taaii!” Devano masih marah-marah.


Perut Arnita sampai kaku karena menahan tawanya.


Lain dengan Restu yang mulai terbiasa dengan kemarahan Devano. Restu yang tersenyum santai berkata, “Kalau Rayyan dibuang ke kandang bebek belakang, yang ada Rayyan jadi masuk ke rumah terus ketemu Papah!”


Mendengar itu, Devano langsung panik menatap wajah sang papah. “Kalau gitu suruh di Jakarta saja dia. Cari kandang bebek yang ada di Jakarta saja buat buang dia biar kena taai!”


“Kakak, kenapa Kakak enggak sayang Rayyan? Rayyan kan adik Kakak,” ucap Arnita berusaha memberi sang putra pengertian.


“Enggak mau! Rayyan mau ambil papahku!” tegas Devano yang sampai mendekap erat tengkuk Restu menggunakan kedua tangannya.


“Rayyan kan mau punya papah juga, Kak. Itu, om Mario mau jadi papahnya Rayyan. Kakak sudah tahu, belum?” ucap Restu berusaha merangkul hati sang putra.


Detik itu juga Devano diam dan tampak merenung serius. “Masa, sih?”


“Nah, makanya. Nanti kalau ke Jakarta, bantu bikin om Mario jadi papahnya si Rayyan, ya?” lanjut Restu masih usaha.


Devano kemudian menatap Arnita, lalu berganti kepada Restu. “Memangnya, kita ke Jakartanya kapan?”


“Kapan-kapan saja, sih. Kakak bilang, Kakak betah di sini? Mamah pun kayaknya masih betah,” balas Restu.


“Ya sudah, kita di sini saja dulu, biar enggak ketemu si Rayyan. Nanti kita pulangnya kalau si Rayyan sudah punya papah saja biar dia enggak rebut-rebut papah aku!” tegas Devano yakin dengan keputusannya.


“Heh, kelinci, kamu punya papah enggak? Harus punya, yah, nanti kalau kamu enggak punya papah, kamu diledekin juga kayak aku!” Devano mengajak kelincinya berbicara sambil memberikan wortel kecil yang ia dapat dari Arnita.


Detik itu juga Restu dan Arnita terdiam. Sebenarnya, harusnya Devano tak sampai merasakan perundungann semacam yang baru saja bocah itu katakan kepada kelincinya. Namun karena keegoisan Mia yang meracuni pikiran Devano, Ingatan Devano telanjur terkontaminasi.


“Kelincinya punya papah, tapi papahnya sibuk kerja cari uang buat anak kelincinya, makanya papahnya enggak pulang-pulang. Dulu pun alasan Papah enggak pulang-pulang karena Papah sibuk kerja biar dapat banyak uang buat Kakak sama Mamah.” Restu meyakinkan.


Perlahan tapi pasti, Restu sengaja menghapus efek jahat dari ingatan sang putra. Pria itu menggantikannya dengan kenangan yang lebih indah untuk bekal Devano menjalani kehidupan menjadi orang yang lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2