Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
103 : Devano Dan Segala Pesonanya


__ADS_3

Devano dan segala pesonanya.


Jika seseorang tidak disukai karena kekurangannya, tidak dengan Devano yang menjadi tidak disukai oleh sebagian temannya hanya karena bagi mereka, Devano terlalu sempurna. Dari Devano yang begitu kritis, Devano yang terlalu lurus, juga Devano yang terlalu tampan sekaligus pintar.


Ketakutan itu mendadak muncul mengungkung hati seorang Arnita karena saat sedang bersamanya saja, mereka yang tidak menyukai Devano dengan sangat terang-terangan menatap Devano penuh kebencian.


“Ya Tuhan, ... anakku hebat! Dia pasti bisa melalui ini,” batin Arnita yang kemudian berkata kepada suaminya, “Justru karena ini sekolah elite, mereka yang terbiasa dimanja dan diperlakukan layaknya raja, enggak bisa menerima kenyataan kalau di sampai ada yang lebih keren dari mereka.”


“Aku rasa juga begitu. Ya sudahlah kita enggak usah khawatir, apalagi pihak sekolah sudah izinin pak Lukman jaga-jaga di depan kelas. Malahan kita harusnya bersyukur, Devano seistimewa ini. Buktinya, Tuan Cheng saja sampai ingin jadiin dia penerus,” balas Restu masih mengemban Divani. Dari depan tenda yang ditempati sang putra bersama teman laki-lakinya, ia melepas kepergian Devano yang langsung membagikan pizza bawaannya. Devano membagikannya dibantu pak Lukman karena Restu dan Arnita memang sengaja membeli pizza dalam jumlah banyak. Ada dua puluh lima dus besar dan guru-guru Devano juga sampai kebagian.


Ketika Restu dan Arnita akan pergi ke area tunggu dan itu berupa hamparan tikar yang digelar lengkap dengan beberapa bantal, Devano mendadak lari menghampiri.


“Kenapa, Ka?” tanya Arnita lembut dan sampai membingkai wajah Devano yang kali ini memakai seragam pramuka lengkap.


Devano yang menengadah demi balas menatap sang mamah berkata, “Itu nanti si Fiola jangan boleh nyanyi-nyanyi di sini, ya. Malu aku kalau temenku pada tanya, itu Fiola saudara kamu?”


Belum beres menyimak, Restu sudah langsung tertawa. Sebenci itu Devano kepada Fiola, tapi tampaknya teman Devano memang tidak menyukai Fiola. Atau malah, efek Fiola pernah beberapa kali gagal mengambil nada tinggi ketika live, hingga Devano menyamakan insiden itu mirip suara kentut kucing?


“Kaka jangan gitu. Kan Aunty sudah latihan lagi. Enggak selamanya Aunty nyanyinya gitu. Lagian Mamah yakin, alasan Aunty gagal ngambil nada tinggi pas live meski memang enggak hanya sekali tiga kali, kan karena Aunty kecapean. Ya pokoknya gitu, apalagi sekarang saja sudah terbukti, Aunty enggak sumbang lagi suaranya,” ucap Arnita. “Jangan dilanjut yah, Kak. Aunty sudah banyak belajar kok. Nanti lihat saja, Aunty pasti bisa.”

__ADS_1


“Tapi yang kemarin saja sumbang, Mah!” protes Devano walau ia melakukannya dengan lirih.


Arnita yang menjadi mesem, berangsur mengangguk-angguk paham. “Ya sudah, sekarang Kakak makan pizza-nya dulu. Mamah sama Papah, nunggu di sana.” Karena nanti malam, acara camping Devano usai. Tak sampai ada acara menginap walau ada api unggun berukuran kecil.


Teringat keluhan Devano yang tak mau Fiola menyanyi di acara sana, Arnita dan Restu saling berkode mata. Namun, Restu yang tidak mau ada insiden baru, sengaja meminta Fiola untuk tidak menyanyi. Termasuk kepada Mario yang malam ini menemani Fiola, Restu sampai menitipkan sang adik kepada pria itu, memastikannya agar Fiola tidak bernyanyi.


“Memangnya suaraku jelek, ya?” keluh Fiola.


“Bukannya jelek, tapi gini loh, biarin yang nyanyi Didi saja. Lihat, Didi lucu banget kan, kuncirnya mirip anti petir seribu dimensi!” ucap Mario yang memang sampai tertawa, tapi alasannya tertawa bukanlah karena kuncirnya Divani seperti yang ia katakan, melainkan karena keluhan Fiola yang mempertanyakan kualitas suaranya.


Di sebelah mereka, Restu dan Arnita juga menjadi susah payah menahan tawa mereka. Namun, mereka berangsur meredamnya sambil mengobrol dengan keluarga lain.


“Aku, disuruh nyanyi? Enggak, aku enggak bisa nyanyi.” Di depan api unggun, Devano langsung berucap lantang. Ia menatap kedua wajah orang tuanya yang langsung menahan senyum memandanginya.


“Yang benar saja, siapa di sini yang suka nyanyi, tapi jangan Fiola,” jujur Devano lagi.


Restu dan Arnita termasuk Mario, sudah langsung ketar-ketir mendengarnya. Apalagi ketiga guru pemandu di sebelah Devano langsung menanyakan alasan Devano melarang Fiola nyanyi di acara mereka.


“Ya karena Fiola penyanyi, dia artis dan ... kita wajib bayar mahal kalau mau dengar suaranya yang kadang masih suka sumbang,” ucap Devano sambil terus menatap kedua mata Arnita. Jarak mereka sekitar sepuluh meter, dan Arnita masih duduk santai di hamparan tikar bersama wali murid lainnya.

__ADS_1


“Devano sudah pinter boong,” bisik Restu tepat di sebelah telinga kanan Arnita sambil tersenyum geli.


Arnita yang sampai tertawa geli, berangsur mengangguk-angguk. “Tadi aku sudah kasih arahan, dan luar biasa banget dia langsung paham.”


Mendengar itu, Restu langsung mesem. “Pantas, pawangnya sudah bertindak!”


Kemudian, fokus mereka kembali kepada Devano yang masih ditahan untuk bernyanyi, memimpin nyanyian di acara perpisahan yang akan segera dilangsungkan.


“Kalau Aunty Fiola enggak boleh nyanyi di sini, berarti Vano harus nyanyi, kan, biar ada yang nyanyi?” ucap guru pemandu di sana.


“Ya jangan aku juga. Nanti kalau apa-apa serba aku, jadinya pasti bakalan banyak yang makin iri. Kemarin saja katanya ada yang enggak mau sekolah gara-gara aku terlalu keren. Memangnya aku sekeren itu, ya? Padahal aku merasa biasa saja,” ucap Devano lagi.


Fiola langsung heboh, mengatakan kepada Restu dan Arnita bahwa ketimbang jadi penyanyi, Devano lebih cocok jadi pelawak.


“Ini siapa yang mau nyanyi? Nanti aku kasih hadiah pizza lagi,” lanjut Devano yang kemudian memberikan mikrofonnya kepada teman-temannya. Nyaris semuanya tidak ada yang mau, tapi Devano memberikan mikrofonnya kepada teman kelasnya yang memiliki tubuh paling gendut. “Suara Samuel bagus banget. Dengerin saja.”


Samuel yang sudah langsung memegang mikrofon, mendadak pucat sekaligus berkeringat. Melihat itu, Devano yang baru undur dan duduk di tempat duduk semula, berangsur menghampiri Samuel. “Kalau kamu mau jadi penyanyi hebat ngalahin Fiola, kamu enggak boleh grogi apalagi takut. Sudah kamu nyanyi saja, kalau kamu malu, merem. Tapi meremnya jangan lama-lama, takutnya pas kamu buka mata, yang lain sudah pada kabur.”


Apa yang Devano katakan dan memang tertangkap mikrofon hingga suaranya menguasai kebersamaan di sana, kompak membuat semuanya terbahak. Restu dan Arnita merasa sangat terhibur. Persis seperti yang Fiola keluhkan, diam-diam Devano memiliki bakat menjadi pelawak.

__ADS_1


__ADS_2