
Arnita mematikan mesin jahitnya kemudian menengadah. Di atasnya, blazer pertama yang ia buat dan dulu dibeli secara khusus oleh Restu, kini terbingkai rapi, menempel di dinding menjadi pajangan layaknya benda antik nan mahal.
Bingkai berisi blazer yang sampai dihiasi tanda tangan Arnita tersebut sudah menjadi pajangan utama di sana. Pemandangan yang juga langsung menyapa Arnita di awal wanita itu kembali ke sana, tiga hari lalu. Bangga, tentu saja. Arnita sampai tak bisa berkata-kata karena cara Restu menghargainya, membuatnya terpacu untuk jauh lebih menghargai sekaligus mencintai dirinya lagi.
Arnita yang baru selesai menjahit gorden berwarna pastel, berangsur menoleh ke belakang. Di sana, Restu masih sibuk di depan laptop. Sementara di sebelahnya, Devano sedang sibuk mewarnai buku mewarnai. Kemudian, tatapan Arnita teralih menuju suasana luar. Di luar, langit yang seharian ini cerah sekaligus silau saking panasnya, kini sudah sangat gelap. Pak Slamet dan pak Lukman tengah bekerja sama mengangkat kasur yang sempat dijemur.
“Istirahat, Mah!” seru Restu meski ia tak sedikit pun melirik sang istri. Namun diamnya mesin jahit membuatnya yakin, sang istri sudah menyelesaikan jahitannya.
“Jahitnya tolong stop dulu yah, Mah, soalnya aku mau rapat lagi,” lanjut Restu.
“Mas Restu masih sibuk banget,” batin Arnita yang kembali memperhatikan punggung Restu.
Lantaran Arnita tak kunjung menanggapi, Restu berangsur menoleh, memastikan keadaan sang istri yang duduk sekitar tujuh meter dari tempat duduknya.
“Kenapa?” tanya Restu khawatir apalagi di depan mesin jahit sana, walau sudah agak menghadap kepadanya, wanita itu malah ia pergoki melamun.
Arnita menggeleng kemudian fokus menatap Restu. “Pah, tolong bantu bangun dulu. Kakiku kesemutan!” rengeknya sambil meringis menahan kesemutan di kedua kakinya yang sekadar digerakkan saja sakitnya luar biasa. Ia pasrah karena takut berakibat fatal semacam terjatuh.
Restu mengernyit makin khawatir, menyikapi keadaan sang istri dengan serius. “Tahan, ya.” Bergegas ia menghampiri kemudian langsung membopong Arnita dengan sangat hati-hati.
Restu tak lantas menuntun Arnita untuk berdiri. Malahan ia sengaja mendudukkan Arnita di sofa panjang yang ada di sebelah mereka, kemudian membiarkan kedua kaki Arnita selonjor dan perlahan memijatnya.
“Wah, aku mau duduk di kasur terus diangkat dong. Kayaknya seru!”
Suara antusias Devano barusan langsung mengusik kebersamaan Restu dan Arnita. Ternyata pak Slamet dan pak Lukman yang susah payah bergotong royong membawa kasur sudah masuk rumah, tapi bos kecil malah heboh.
“Kakak itu pak Slamet sama pak Lukman sudah keberatan. Nanti Kakak Papah saja yang gendong. Sekarang, Kakak tolong ambilkan minyak urut di meja sebelah tempat tidur Papah!” seru Restu tetap bertutur penuh perhatian.
__ADS_1
Devano yang sudah jingkrak-jingkrak kegirangan tak sabar akan langsung naik ke kasur, langsung terusik. Ia mengalihkan tatapannya pada keberadaan sang papah. Ia dapati, sang mamah yang tampak kesakitan dan tengah diurus oleh papahnya.
“Mamah sakit?” Devano langsung khawatir, dan memang paling sensitif pada semua hal yang berkaitan dengan sang mamah apalagi jika wanita cantik itu sakit.
Kegirangan Devano yang awalnya akan langsung naik kasur langsung digantikan keterjagaan. Malahan ia langsung sibuk meniupi kaki Arnita yang akan diurut oleh Restu.
“Mas, pelan-pelan. Tahan dulu jangan dipijat dulu,” rengek Arnita masih meringis kesakitan gara-gara kesemutan.
“Papah! Pelan-pelan!” omel Devano.
Restu langsung kicep. “Nih anak galaknya melebihi ibu-ibu pemilik kosan kalau lagi nagih tunggakan pembayaran!” bisik Restu pada Arnita sambil pura-pura menunduk.
Arnita yang meski masih kesakitan menjadi tertawa kecil mendengarnya. Karena begitulah Devano, paling protektif kepada Arnita. Bocah itu tak segan memarahi siapa pun yang menyakiti mamahnya.
“Kakak, ayo sini naik kasur Kakak. Kasur Kakak kan enggak seberat kasur mamah papah!” seru pak Lukman yang baru keluar dari kamar Arnita dan Restu setelah sebelumnya menaruh kasur di sana. Tampak bi Ade yang bergegas masuk kamar dan bisa dipastikan wanita itu akan memasang bed cover.
“Sudah sana ikut, katanya Kakak pengin naik kasur,” lirih Arnita sambil menatap kedua mata tajam sang putra yang akan menjadi sendu jika ia sedang kesakitan layaknya sekarang. “Mamah enggak apa-apa, cuman kesemutan, dipijat bentar juga sembuh,” yakinnya lantaran Devano masih terlihat sangat mengkhawatirkannya.
“Papah ih. Berat aku enggak ada dua puluh kilo. Aku baru delapan belas kilo!” protes Devano sambil menatap sebal papahnya.
“Sudah sana Kakak naik,” ujar Arnita di sela tawanya apalagi di luar sana, pak Slamet dan pak Lukman, tampak sudah menunggu bos kecilnya.
“Mah, berat banget. Beban hidup mereka saja sudah berat, Mah. Kalau ditambah yang ada encok!” ucap Restu paling bisa meledek putranya.
Devano yang kesal langsung naik ke punggung papahnya hingga pria itu makin sibuk tertawa.
“Kakak ... Kakak, nanti yang ada malah Papah yang encok. Turun, jangan begitu. Sudah sana naik kasur saja. Jarang-jarang kan bisa gitu,” ucap Arnita.
__ADS_1
“Dasar Papah!” omel Devano, bos dari semua bos di keluarga kecil mereka.
Setelah buru-buru turun, Devano langsung lari sangat bersemangat. Bocah itu begitu antusias naik ke kasur. Walau yang ada, pak Lukman dan pak Slamet jadi tidak bisa mengangkat.
“Kan, kan ... Papah bilang apa?” seru Restu sambil memijat kaki Arnita. Istrinya itu tak lagi kesakitan dan tampaknya kesemutan di kaki Arnita mulai reda.
“Pah, bantuin cepetan biar aku bisa naik. Ini mau hujan, nih!” teriak Devano tak sabar.
Pada akhirnya, Restu ikut turun lapangan apalagi Arnita juga sampai mengutus. Arnita masih ingat, dulu, masa kecilnya juga tak beda dengan Devano. Dulu, naik ke tempat duduk semacam risban yang akan diangkat, menjadi salah satu hal paling menyenangkan untuknya. Padahal alasan risban diangkat karena untuk dirapikan dan otomatis adanya Arnita malah makin menambah beban.
Selanjutnya yang terjadi, Devano yang tampaknya ada dendam pribadi kepada Restu karena terus dijaili, malah sengaja menjadikan papahnya itu kuda-kudaan.
“Papah rapat dulu.”
“Kalau gitu aku ikut. Aku mau main laptop lagi.”
“Ya sudah, ya sudah ... kalau gitu, Kakak pakai baju dulu. Jangan cuma pakai kaus kotang gitu.”
“Aku pakai kacamata juga enggak, Pah, biar mirip Papah?”
“Jangan, nanti mereka bingung mana yang Papah karena kita terlalu mirip.”
Arnita yang masih duduk selonjor dan memang menjadi penonton sampai menitikkan air mata saking bahagianya melihat kedekatan Restu dengan Devano. Luka di masa lalu yang telah membuat Restu menjadi korban keegoisan orang tua, telah menjadikan Restu sebagai pribadi yang sangat penyayang kepada anak-anak. Tentu Arnita tidak lupa, di awal pernikahan mereka, seorang Restu sampai menyunatkan anak bi Ade. Kala itu, Arnita memergoki Restu sampai menangis hanya karena melihat kebahagiaan anak bi Ade setelah disunat.
“Yang lagi akur, ... tapi Mas Restu memang papah terbaik,” batin Arnita sambil menyeka sekitar matanya. Kedua kakinya sudah bisa bergerak dengan normal. Ia melangkah keluar menuju meja teras dan mengambil amplop kiriman Azelia dari sana.
“Surat cintanya, aku bahas nanti malam saja. Enggak penting juga, tapi Mas Restu wajib tahu,” pikir Arnita. Ia sengaja menyimpannya di kamar. Tampak Devano yang sedang dipilihkan pakaian oleh Restu di kamar bocah itu. Restu memilihkan lengan panjang mirip yang pria itu pakai.
__ADS_1
“Celananya pakai ini saja, Pah. Enak pakai kolor. Kan enggak dilihat sampai bawah-bawah, kan?”
Devano masih saja sibuk menawar dan Arnita hanya bisa menertawakannya diam-diam. Tak lupa, sebelum kembar beda generasi itu benar-benar fokus rapat online, ia sengaja memamerkan gorden buatannya.