Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
105 : Ibarat Pelangi


__ADS_3

Kabar meninggalnya Azelia dan itu dengan cara yang begitu tragis, pada akhirnya sampai juga di telinga Restu dan Arnita. Keduanya langsung tidak bisa berkata-kata lantaran terlalu terkejut. Arnita dan Restu turut berduka, tapi keduanya juga merasa sangat lega. Rasa lega yang memang hadir lantaran selama ini, Azelia terus mengganggu mereka.


“Sudah, ... sekarang beneran enggak ada yang perlu ditakutkan lagi,” lirih Restu berusaha menguatkan Arnita. Di pinggir tempat tidur mereka, ia merengkuh tubuh sang istri yang menjadi menunduk loyo.


“Semoga amal dan ibadahnya diterima, dan Lia juga mendapatkan tempat terbaik!” lirih Arnita masih berusaha manusiawi walau di akhir hidupnya, Azelia selalu seja berulah kepadanya sekeluarga.


Bukannya mengaminkan, Restu malah berkata, “Aku nggak yakin.” Ia melirik Arnita penuh arti. “Doa terbaik saja sih.” Di hadapannya dan kening mereka masih menempel, Arnita mengangguk-angguk.


“Sebelumnya kabarnya Kenz, dan dia pun enggak kalah bikin heboh pas meninggal. Lah ini, tulang Lia katanya sampai remuk, termasuk kepalanya. Anehnya, setelah menabrak Azelia, mobilnya sudah langsung bisa direm, padahal sebelumnya menurut sang sopir, remnya sempat blong!” sambung Restu dan lagi-lagi, sang istri mengangguk-angguk.


“Aku berpikir, baik Ken maupun Lia meninggal tanpa sempat bertobat, Mas,” lirih Arnita masih bertahan menunduk.


Restu berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. “Sudahlah, ... itu akan menjadi urusan mereka dengan Tuhan. Apalagi selain mereka bukan anak kecil lagi, kita juga sudah enggak kurang-kurang kasih arahannya.”


Meninggalkan kabar Azelia dan Kenzo, Restu mengajak Arnita untuk kembali fokus pada kehidupan mereka. Menjadikan apa yang menimpa Azelia maupun Kenz, sebagai pembelajaran yang berharga. Bersamaan dengan itu, kedamaian mereka tanpa adanya Azelia juga seolah membuat waktu mereka berputar lebih cepat. Detik yang menyusun menit, jam, hari, minggu, bahkan tahun, mengantarkan mereka pada kenyataan, bahwa keempat anak-anak mereka sudah besar.


Sesuai target sekaligus rencana, Arnita dan Restu benar-benar memiliki empat anak. Devano, Divani, Deanzo, dan juga Dianri. Ada dua pasang anak yang mereka miliki, tapi dari semuanya, anak keempat mereka yang bernama Dianri yang sangat mirip Arnita. Alasan yang juga membuat mereka berhenti tak menambah anak lagi.


“Si Dean pemalas banget! Sudah kirim ke kampung saja suruh jadi petani padi saja dia sambil menggembala para janda. Eh, kambing maksudnya!” Devano yang sudah memakai seragam SMA benar-benar berisik.

__ADS_1


“Untung Kak Vano ganteng. Karena kalau enggak, pasti Kak Vano sudah sisiram pakai,” ucap Divani.


Namun, Devano yang masih sama saja layaknya ketika pemuda itu masih bocah, sengaja berkata, “Disiram pakai dolar biar tambah tampan! Ya elah, masa fisik, otak, sama rupa Kakak, masih kalian ragukan? Kalian adik-adik Kakak, kan?” kesalnya.


Divani yang memakai seragam SMP, juga Dianri yang masih memakai seragam sekolah dasar, kompak saling lirik hingga tatapan mereka berakhir bertemu. Beberapa saat setelah itu, kedua gadis cantik itu kompak menggeleng.


“Hah? Maksud kalian apa?!” balas Devano benar-benar kesal.


“Kak Vano, berisik! Kak Vano lagi datang bulan apa gimana, sih? Tapi masa iya, tamu bulanannya datang tiap saat, itu sih bukan mens lagi, tapi mengkhawatirkan!” ucap Dianri.


Devano langsung syok, tapi ia buru-buru menatap Divani yang ada di sebelah Dianri dan memang jauh lebih tinggi dari bontot mereka itu.


“Kakak jangan galak-galak ke adiknya,” lirih Arnita saking gemas dan bingungnya harus memperlakukan Devano bagaimana agar bocah itu tidak terus galak.


“Kakak, lihat, ... kepala Papah nyaris botak, Sayang! Stop jadi pemarah apalagi ke adik-adik, ya.” Restu yang datang bersama Arnita, juga tak kalah bingung bagaimana caranya menjinakkan Devano.


“Tukang rambut palsu kan masih banyak, Pah! Malahan bagus kalau Papah sering beli, ibaratnya Papah kasih mereka rezeki sekaligus Papah berarti juga udah mengapreasiasi karya rambut palsunya,” ucap Devano berusaha bijak.


Restu yang sudah memakai pakaian rapi berupa setelan jas abu-abu lengkap dengan dasi, refleks mengacak-acak kepalanya hingga rambut yang awalnya sudah rapi, kembali berantakan. Mendapati kenyataan tersebut, Arnita yang awalnya pusing dengan sikap seorang Devano, malah menjadi menahan tawanya.

__ADS_1


“Kak Didi, Dean mana?” Arnita mengawasi sekitar, mengabsen anak-anaknya yang masih kurang satu dan itu Deanzo. Bocah berusia dua belas tahun itu tak ada di sana.


“Tidur lagi kayaknya, Mah,” balas Divani memasang wajah ngenes. Ia yang kali ini mengurai rambut panjang bergelombangnya, mendengus pasrah.


Mendengar itu, Restu refleks menelan ludahnya. “Anak laki-laki yang satu pemikirannya lebih ajaib dari cenayang dan cerewetnya enggak kaleng-kaleng, tapi yang satu lagi pendiam kebangetan dan kebiasaannya malah tidur!” batin Restu uring-uringan sendiri. Malahan saking pendiamnya Deanzo, remaja itu bisa tidur sambil berdiri dan itu bukan mengigau. Termasuk sekadar sedang makan pun, Deanzo bisa mendadak tidur jika tidak diingatkan. Pantas saat hamil Deanzo, baik Arnita maupun Restu tidak ada yang mengidam. Restu berpikir, itu sudah bertanda karena sang putra yang tetap ganteng paripurna memang hobi tidur saking pendiamnya.


“Satu lagi, Pah, Mah. Aku kesel banget, masa di sekolah, Didi jadi rebutan cowok!” lapor Devano sudah kembali berisik.


“Masa iya, aku jadi rebutan waria, Kak? Terlalu ngeri kalau itu terjadi. Yang penting kan aku enggak ladenin. Aku cuek ke mereka. Salahku di mana? Bahkan siswi SMA Kakak jadi bikin beban hidup aku bertambah setiap saat karena mereka sibuk titip hadiah buat Kakak. Dikiranya aku ini kurir! ” sebal Devani sambil melirik sebal sang kakak.


“Kamu masih kecil loh, jangan pacar-pacaran. Takutnya mereka macam-macam. Awas saja mereka, dikiranya mataku enggak seawaa CCTV!” sebal Devano yang langsung menyalami tangan kanan Restu karena ia dan adik-adiknya harus segera berangkat sekolah. Mereka memang masih diantar jemput semuanya. Masalahnya jika Dean selalu tidur, mereka juga jadi tidak bisa menunggu.


Restu dan Arnita berangsur naik ke lantai atas, memastikan Dean. Suardana di atas benar-benar sepi, seolah di lantas tidak ada kehidupan lagi, padahal jelas di sana masih ada Deanzo.


“Ini sih positif tidur!” yakin Restu yang kemudian meraih gagang pintu kamar Dean dan perlahan membukanya.


Benar seperti kekhawatiran mereka, Dean yang sudah memakai seragam sekolah dasar malah kembali tidur meringkuk di sofa depan tempat tidur. Mendapati itu, Restu dan Arnita refleks menoleh yang mana tatapan keduanya refleks bertemu.


Wajah ngenes sekaligus sedih seorang Arnita, perlahan menjadi senyum. Senyum yang sulit Arnita akhiri lantaran wanita itu juga malah menjadi tersipu.

__ADS_1


“Ibarat warna, anak-anak kita pelangi, yah, Mah?/Ajaib semua!” ucap Restu dan langsung dibalas oleh Arnita yang sibuk tersenyum sambil mengangguk ceria.


__ADS_2