Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
41 : Papahnya Vano


__ADS_3

Arnita yakin, Mario sudah mulai menduga, bahwa pria yang selama ini Arnita yakinkan sebagai suaminya, memang Restu. Iya, Arnita yakin, Mario tidak bisa menepis kenyataan tersebut. Bahwa Restu merupakan alasan selama ini Arnita tetap tak bisa menerima cinta Mario. Restu menjadi alasan Arnita selalu meminta Mario untuk bersikap biasa saja karena hubungan mereka tak lebih dari kakak adik, atau hubungan senioor dan atasan.


“Mas Mario, ... kebetulan bertemu di sini. Oh, iya ... kenalkan, ini papahnya Vano. Ternyata beliau atasan baru kita,” ucap Arnita lembut. Ia menyunggingkan senyum terbaiknya. Namun bukan bermaksud pamer, melainkan baginya, sudah semestinya pria sebaik yang juga sangat tanggung jawab seperti Mario, memiliki pasangan tepat. Sudah semestinya Mario berhenti mengejarnya.


Namun andai Arnita belum memiliki hubungan dengan Restu apalagi hubungan mereka sampai menghasilkan Devano, tentu Arnita mau-mau saja memiliki hubungan lebih dengan Mario. Andaipun masih ada yang berkomentar miring tentangnya, sudah Arnita jelaskan dari awal dirinya juga mengenalkan diri sebagai istri orang. Orang-orang di sekitarnya saja yang kadang melebih-lebihkan. Baik itu Mia yang ternyata diam-diam sampai mempengaruhi Devano. Juga Mario maupun laki-laki lain yang masih saja bertahan mengejarnya.


Masih ada yang mau berkomentar Arnita bo-doh, tahu masih jadi istri orang malah dekat dengan laki-laki lain? Maaf banget, aku harus bilang gini, bacanya jangan merem, ya. Jangan sampai, pembaca yang baru gabung mau baca, langsung mundur enggak jadi baca gara-gara komentar yang bertentangan dengan tulisan sekaligus ceritaku. Mohon maaf banget, sumpah mohon maaf banget.


Apa yang Arnita lakukan sudah langsung membuat Mario kacau. Pria itu langsung tidak bisa berpikir, pemacu kehidupannya seolah berhenti bekerja, tanpa terkecuali jantungnya. Hingga yang ada, ia juga merasa sangat sesak dan sakitnya sungguh luar biasa.


Bagi Mario, Arnita wanita yang sangat baik. Wanita berbakat yang sangat ulet. Wanita tahan banting yang kadang di beberapa kesempatan, Mario pergoki diam-diam menangis akibat luka dan beban yang wanita itu dapatkan, termasuk dari rekan kerjanya.


Bukan perkara sulit untuk jatuh cinta kepada Arnita. Karena selain berbakat, sangat baik, santun, tegas, hingga wanita itu juga memiliki jiwa pemimpin tinggi, Arnita juga sangat cantik.


Karena Mario masih saja diam, Restu yang sadar mengenai apa yang tengah pria itu katakan, sengaja berdeham. Ia mengulurkan tangan kanannya. “Pak Mario, ... terima kasih banyak karena selama ini, Pak Mario sudah selalu membantu Arnita. Malahan saya yakin, tanpa bantuan Pak Mario, saya belum bisa bertemu dengan istri maupun anak saya. Arnita sudah menceritakan semuanya kepada saya, dan saya benar-benar berterima kasih!”


Mario masih mematung, menatap pedih uluran tangan kanan Restu. Terlalu menyakitkan, membuatnya seolah dipaksa menelan buah simalakama. Ia dipaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan. Namun melihat Arnita yang terlihat sangat tenang sekaligus nyaman di samping Restu, hati kecil Restu menasihati. Bahwa seindah-indahnya sebuah hubungan adalah hubungan yang terjalin dari mereka yang saling mencintai. Seperti yang tergambar dari kebersamaan Arnita dan Restu saat ini.

__ADS_1


Berat, Mario memindahkan buket mawar di tangan kanan, ke tangan kirinya. Ia menjabat tangan kanan Restu. Pria itu tersenyum semringah dan begitu hangat hingga kebahagiaan yang Restu rasakan hanya karena memiliki istri sebaik sekaligus secantik Arnita, terasa menular kepadanya.


“Mengenai kabar yang beredar, ... nanti saya bantu meluruskannya, ya, biar mereka berhenti salah paham. Apa pun itu, saya ingin mengabarkan, bahwa Arnita istri orang seperti yang selama ini Arnita kenalkan. Bahkan sekelas Miss Tania ikut heboh gara-gara ini. Miss Tania sampai meminta mamahnya Vano menerima cinta Anda, hanya karena Miss Tania sudah terlalu pusing direcoki sama istri-istri karyawan di sini.” Tentu Restu sedang meluruskan keadaan secara halus. Meminta seorang Mario untuk berhenti berharap kepada Arnita.


Jujur, sebenarnya Arnita tidak tega. Apalagi kejadian yang terjadi membuat tampang Mario sangat pi-lon. Arnita berpikir, dunia seorang Mario langsung hancur hanya karena kebersamaan sekarang. Karenanya, Arnita sengaja mengalihkan fokus perhatian mereka.


“Mas Mario tahu, ternyata Mia sengaja mendorong Vano dari tangga darurat!” sergah Arnita sambil menatap serius Mario.


Mario tercengang mendengar itu. “Hah, kok bisa?”


Restu ketar-ketir lantaran Mario turut ikut keluar bersama Arnita. Karenanya, Restu sengaja menyusul dan masih berdiri di sebelah Arnita. Apalagi Restu yakin, alasan Mario sampai membawa buket mawar merah dan itu bersembunyi di lift, sengaja untuk memberi Arnita kejutan romantis.


Setelah obrolan selesai dan Arnita juga pamit masuk ruangannya, tinggallah Restu dan Mario. Keduanya hanya berdua, tapi Mario yang belum bisa menerima kenyataan menyadari, buket mawar di tangannya sangat mencolok. Karenanya, ia sengaja memberikan itu kepda Restu.


“Semacam hadiah sambutan, Pak Restu!” ucap Mario berusaha sesantun mungkin kepada pria yang baginya sangat beruntung.


Walau ragu, Restu tetap menerimanya. “Terima kasih banyak, Pak Mario!” walau dalam hatinya, ia malah berkata, “Bilang saja kalau kamu awalnya mau kasih nih buket ke istriku, tapi karena kamu telanjur malu, kami bilang buangnya ke mana?”

__ADS_1


Lift di sebelah mereka terbuka dan seorang wanita yang berpenampilan necis tapi menutup wajah dan kepalanya menggunakan topi, kacamata, sekaligus masker, keluar dari sana. Restu langsung mengenal wanita itu sebagai adik tirinya.


“Ini buat kamu. Dari pria itu. Itu namanya Mario, jabatannya manajer pelaksana. Gantenglah, lumayan mirip Ajussi Kroya!” ucap Restu buru-buru menunjuk lift yang baru tertutup dan membawa kepergian Mario.


“Hah?” Fiola langsung melepas kacamatanya kemudian menatap lift yang masih tertutup.


“Serius.” Restu meninggalkan Fiola setelah buketnya diterima.


“Ini dari Mas, kan? Karena ternyata, Mas juga sayang, Mas cinta juga ke aku?” todong Fiola.


Restu melirik sinis Fiola. “Enggak usah halu apalagi kesuru-pan kenapa, sih? Jelas-jelas aku kakak tiri kamu, masih saja mikir yang enggak jelas. Memangnya kamu juga belum bisa melihat betapa aku sangat mencintai Arnita?” Setelah berkata demikian, Restu menjadi kepikiran. “Terus, alasan kamu ke sini, ... kamu mau ngapain? Kamu mau ganggu bahkan bikin hidup istriku makin susah lagi?”


Melihat Restu sampai mendelik, Fiola benar-benar takut. Fiola tak memiliki pilihan lain selain menurut pergi setelah Restu sampai mengusirnya. Fiola pergi menggunakan lift lebih dulu, sementara Restu memilih menunggu.


“Wanita yang pakai topi, kacamata, sama masker hitam, dia pakai jaket parasut kedodoran masih warna hitam, sudah keluar dari kantor belum, Pak?” Demi memastikan Fiola tak lagi mengganggu Arnita, Restu sengaja menghubungi pihak keamanan kantor melalui sambungan telepon.


Di lantai bawah, Fiola yang melangkah buru-buru karena takut pada Restu, tak sengaja berpapasan dengan Mario. Dik itu juga dunia seorang Fiola langsung berputar lebih lambat, selain wanita muda itu yang juga refleks melangkah lebih pelan.

__ADS_1


__ADS_2