Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
74 : Menutup Kisah


__ADS_3

Kabar Azelia yang terus menunggu di depan gerbang, disampaikan langsung oleh Bi Ade melalui sambungan telepon WA, membuat Restu apalagi Arnita makin enggan pulang ke rumah.


“Mau langsung ke Jakarta?” tanya Restu di malamnya. Arnita yang baru duduk di pinggir tempat tidur, menjadi galau.


Arnita menoleh ke belakang, di sana Devano sudah lelap. Efek setengah hari main di bawah terik matahari yang sangat panas membuat kulit bocah itu menjadi jauh lebih gelap.


“Demi keamanan bersama, ... kita enggak punya pilihan lain selain itu, yah, Mas?” ucap Arnita. “Aku khawatir, Azelia dan orang tuanya macam-macam. Mereka kan sudah biasa main keroyokan!” Arnita masih sangat ingat ketika dirinya terus-menerus dikeroyokk Azelia sekeluarga. Iya kalau hanya semacam dimakki dan dipukkuli. Arnita pernah nyaris ditelanjjangi setelah sebelumnya sampai dimakki dan dipukkuli.


Restu yang menguap berangsur jongkok. Kedua tangannya berpegangan pada kedua lutut Arnita. Sementara untuk menatap wajah istrinya, ia harus menengadah. “Kamu masih betah di sini?”


“Sebenarnya begitu,” balas Arnita. “Malahan aku juga merasa, urusan aku sama Juan belum beres, Mas.”


“Sama Sita dan ibu Misya juga, ... aku merasa balas dendamku belum tuntas. Kepada Lia pun begitu. Apalagi sampai detik ini, Lia belum menyadari kesalahannya,” lanjut Arnita.


Restu mengangguk-angguk paham. “Baiklah kalau begitu, ... kita masih akan di sini,” ucapnya. Hanya saja, tentu ia akan jauh lebih protektif kepada Arnita maupun Devano.


***

__ADS_1


Sudah hari ketiga, tapi ternyata Azelia masih ada di sana, di depan gerbang yang sekitarnya dihiasi tikar dan bantal. Malahan Azelia seolah sengaja melangsungkan camping dadakan walau tanpa tenda.


Tak mau pusing, Restu meminta pak Slamet untuk putar balik. Mereka mampir ke bengkel Juan untuk mengisi angin. Berbeda dari biasanya, kali ini Juan juga tak bersemangat. Namun di akhir ketika Juan harusnya menerima pembayaran, pria itu malah menangis-nangis memohon maaf kepada Arnita.


“Aku benar-benar minta maaf, Nit. Perlu kamu tahu, sampai detik ini kamu satu-satunya yang aku mau. Kamu satu-satunya yang aku sayang. Malahan alasanku enggak mau nikah lagi karena aku sangat menyesal pernah membuat pernikahan kita gagal. Dan aku hanya akan menikah kalau itu sama kamu!” ucap Juan meraung-raung di depan kaca pintu penumpang Arnita duduk.


Mendapati itu, Arnita sengaja menurunkan sedikit kaca jendelanya. “Terima kasih untuk semua luka-lukamu, Ju. Karena luka-luka darimu juga, sekarang aku bisa bersama laki-laki yang tulus mencintaiku. Sekali lagi, ... terima kasih banyak. Karena tanpa keegoisan sekaligus sikap semena-mena kamu, mungkin aku tidak akan sebahagia sekarang.” Kali ini, Arnita sungguh menutup kisahnya dengan Juan. Ia sungguh melepaskan rasa sakit hati bahkan dendamnya kepada pria itu.


Sadar sang istri sudah sampai menutup pintu kacanya, Restu yang duduk di sebelahnya, meminta pak Slamet untuk melaju. Tujuan mereka selanjutnya adalah rumah sakit Sita dan ibu Misya dirawat.


“Kamu sudah merasa jauh lebih lega, kan?” tanya Restu pada Arnita sesaat setelah ia menggenggam tangan kiri istrinya itu.


“Rasanya beneran lega, Pah!” bisik Arnita menjadi berlinang air mata.


Restu mengangguk-angguk paham seiring ia yang mengeratkan genggaman tangan mereka.


Ditinggalkan Arnita, Juan hanya mampu meratapi kepergian Alphard hitam yang membawa Arnita. Bersamaan dengan itu, hati Juan juga menangis, menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu khususnya mengenai alasan hubungannya dan Arnita berakhir. Tak semata ketika ia menemukan Arnita malah satu kamar dengan Restu di pagi yang harusnya menjadi hari pernikahan mereka setelah kedua sejoli itu malah dijebak Sita, tapi juga kejadian setelah itu. Kejadian yang membuat Arnita dipandang sebelah mata, kottor sekaligus hinaa dan salah satunya olehnya. Juan dengan kejji memperlakukan Arnita layaknya wanita murrahan yang bisa seenaknya Juan sentuhh atau malah beli.

__ADS_1


“Aku benar-benar minta maaf, Nit!” isak Juan yang kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menekap wajah. Ia berangsur jongkok tanpa peduli pada orang-orang di bengkelnya dan masih menjadikannya sebagai pusat perhatian. Karena kebetulan, kini bengkelnya sedang ramai pengunjung.


Setelah mengarungi perjalanan hampir satu jam lamanya, akhirnya mereka sampai di rumah sakit Sita dan ibu Misya dirawat. Restu dan Arnita hanya turun berdua, keduanya menyuruh Pak Lukman, pak Slamet, maupun pak Iman untuk tetap di mobil menjaga Devano yang masih lelap.


Ruang rawat kelas menengah menjadi tujuan keduanya. Saling bergandengan, Restu dan Arnita yang sengaja memakai masker demi kesehatan bersama, masuk ke ruang Melati Sita dan ibu Misya menjalani perawatan. Di ruang tersebut tidak hanya dihuni Sita dan ibu Misya. Karena di ruang terbilang luas di sana ada dua pasien bakat lainya.


Ibu Misya dan Sita dirawat oleh saudara mereka. Ada dua wanita sebaya ibu Misya di sana, tengah mengurus Sita dan ibu Misya. Sita dan ibu Misya terus saja merintih kesakitan. Keduanya terlihat sangat tersiksa bahkan. Arnita sampai berpikir, andai diberi tawaran untuk mati, pasti Sita dan sang Mamah langsung memilih mati saja.


Dari semua pasien di sana, luka Sita dan sang mamak menjadi luka paling parah. Bibir keduanya sampai hanya tinggal sebelah. Sita tinggal bibir kiri, sang mamah tinggal sebelah kanan. Belum lagi penampilan keduanya yang juga tak kalah mengenaskan. Alasan yang jujur saja langsung membuat Arnita menutup kisah mereka dalam hidupnya. Terlebih rintih sakit sekaligus kepanasan keduanya mirip gambaran secuil rintih sakit dari penghuni neraka.


“Mas, sudah. Sekarang aku sudah ikhlas. Mau mereka fitnah aku lagi sampai bibir mereka habis, biar itu jadi urusan mereka sama Tuhan mereka,” lirih Arnita sesaat setelah sampai mendekap sebelah lengan Restu menggunakan kedua tangannya dengan mesra.


Restu balas tersenyum kepada Arnita sambil mengangguk-angguk. “Karma kan kita sendiri yang buat. Mereka hobi fitnah, ya pantas saja kalau bibir mereka nyaris habis!” ucapnya.


“Amit-amit jauh-jauh sifat tercella seperti itu!” lirih Arnita sambil mengelus-elus perutnya.


“Jadi, kita langsung ke Jakarta?” tanya Restu yang langsung memboyong pergi sang istri dari sana.

__ADS_1


Dalam kesakitan akibat luka bakar yang ia derita, Sita yang melihat kepergian Arnita dan Restu, mengenali keduanya. Karena walau keduanya kompak memakai masker dan tak sampai menyapa apalagi mendekat, Sita yakin itu Arnita.


“Nit, ... maaf, ya. Maaf karena selama ini, aku sudah jahat banget ke kamu!” batin Sita yang menjadi berlinang air mata. Sampai detik ini, bibirnya masih sibuk merintih lirih mengeluhkan rasa sakit nan panas yang tak kunjung berkurang, walau sederet pengobatan sudah ia jalani. Malahan makin ke sini, Sita juga tidak yakin, baik dirinya maupun sang mamak masih bisa kuat melanjutkan pengobatan apalagi kehidupan.


__ADS_2