Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
64 : Secuil Penderitaan Azelia


__ADS_3

Semua pesanan Restu sudah pria itu boyong. Pria itu tampak makin semringah sekaligus antusias. Azelia yang masih mengawasi dari kejauhan juga langsung kembali mengikuti. Wanita itu ingin tahu, seberapa cantik istri Restu yang digadang-gadang warga kampung, sangat cantik dan bisa dipastikan orang kota. Orang kaya!


Sangat cantik, orang kota, dan juga kaya, ketiga kenyataan tersebut memang menjadi nilai jual tersendiri yang juga membuat seseorang jauh lebih berlevel di mata orang kampung mereka, termasuk juga bagi seorang Azelia.


Setelah diikuti, Restu menuju salah satu meja yang ada di tempat istirahat dan keberadaannya tak jauh dari sederet wahana. Di sekitar meja yang Restu datangi ada seorang wanita tengah fokus mengurus seorang bocah laki-laki. Wanita itu melepas jaket si bocah kemudian menggunakan tisu kering yang diambil dari meja untuk mengelap wajah dan juga leher si bocah.


Dari penampilan sekaligus warna kulit saja, Azelia sudah bisa menduga, keduanya merupakan anak dan istri Restu. Terlebih di sana ada dua orang pria yang selalu siaga membantu. Tak mau hanya melihat dari kejauhan, Azelia nekat mendekat.


“Jangan gendong ke Mamah, sini sama Papah saja,” tegur Restu yang baru meletakan semua belanjaannya.


“Kenapa? Aku maunya sama Mamah,” balas Devano langsung sewot.


“Kasihan adiknya, Kak,” balas Restu berusaha memberi sang putra perhatian.


Devano langsung mendengkus kesal. Sambil bersedekap menatap sebal perut mamahnya, ia mundur, membuatnya berada tepat di depan pak Lukman.


“Adiknya titipin ke pak Lukman saja kenapa, sih? Aku saja dititipin ke pak Lukman, kan? Atau kalau enggak, kasih saja buat pak Slamet!” Setelah berucap yakin layaknya tadi, Devano juga menatap pak Slamet yang masih berdiri di sebelah pak Lukman. “Pak Slamet, tuh ambil adiknya di perut Mamah!”


Pak Slamet dan pak Lukman langsung mesem sambil sesekali saling lirik. Lain dengan Restu yang langsung mengemban sang putra, mencoba menenangkannya. Sementara yang Arnita lakukan tentu saja menyiapkan makanan mereka.

__ADS_1


“Pak Slamet sama Pak Lukman makan dulu. Ayo duduk jangan malu-malu. Kita makan bareng. Ini minumnya juga ambil mau minum es teh, apa es buah!” ucap Arnita yang kemudian kegirangan berusaha menatap suaminya.


Azelia yang masih mendekat, sudah langsung gemetaran hebat hanya karena mendengar suara Arnita barusan. Kedua kakinya tak kuasa menopang tubuh, Azelia mulai limbung di tengah tatapan tak percayanya yang terus mencoba memastikan wajah si wanita. Iya, wanita yang Azelia yakini memang Arnita. Azelia hafal suara Arnita, meski sampai detik ini wajah putih mulus si wanita cenderung menunduk dan tertutup sebagian rambut panjang yang tergerai.


Arnita berangsur menoleh untuk menatap Restu yang memang ada di belakangnya. Detik itu juga dunia seorang Azelia kian berputar lebih lambat.


“Tadi aku baru mau WA ke Mas buat tolong cariin semacam es buah apa es campur, eh ini sudah ada!” ucap Arnita yang kemudian mengucapkan terima kasih kepada sang suami.


Deg! Dada Azelia seolah dipalu sangat keras, selain wanita itu yang refleks menelan ludah. Limbung dan berakhir jongkok, Azelia tak sanggup menyaksikan kebersamaan hangat di sana. Azelia sungguh tidak bisa menerima kenyataan jika wanita yang dimaksud malah Arnita. Wanita sangat cantik dan dikira orang kota sekaligus orang kaya oleh warga benar-benar Arnita!


“Tadi yang di perut WA lewat hati, Mah. Bilang gini, Pah, pengin es campur! Gitu!” ucap Restu sengaja menggoda sang istri dan memang sengaja memanjakannya.


“Pah, kalau aku mau mi ayam!” rengek Devano yang masih diemban oleh Restu.


“Wah, siap ... siap! Buat Kaka apa sih yang enggak!” jawab Restu tengah berusaha merayu, memberi Devano arahan untuk terbiasa menerima kehadiran calon adiknya.


“Katanya enggak mau makan ayam? Kata Kakak, ayam jijik, kan, eenya di kandang?” sindir Arnita.


“Kalau eenya di toilet namanya Kakak, kan?” saut Restu.

__ADS_1


Devano cemberut sambil menunduk. “Ayam enak!”


Mendengar keluhan terbilang mengomel barusan dari Devano, Restu dan Arnita, kompak menahan tawa mereka tanpa berani menunjukkannya kepada Devano. Karenanya, keduanya kompak memalingkan wajah.


“Pak Slamet, tolong belikan mi ayam untuk Kaka, yah. Kalau Pak Slamet mau, sekalian pesan saja. Sekalian pak Lukman. Mah, kamu mau sekalian?” ujar Restu yang langsung menyiapkan uang untuk membayarnya.


“Enggak, Pah. Ini sudah ada lontong, es buah, ini pecel apa karedok?” jawab Arnita.


Azelia yang masih jongkok, menangis tersedu-sedu, menggunakan kedua tangannya untuk menekap erat wajahnya. Kemudian, yang ia lakukan adalah membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Ia sungguh tak sanggup melihat apalagi menerima kebahagiaan Restu dan Arnita.


“Bisa-bisanya aku menyumbangkan laki-laki sebaik Mas Restu untuk Arnita!” kesal Azelia dalam hati.


“Kenapa harus Arnita? Kenapa mereka tetap bersama padahal setelah aku usir, harusnya hubungan mereka juga berakhir!” batin Azelia lagi. Baru saja ada yang menyandungnya dari samping dan itu membuatnya berakhir terduduk nyaris meringkuk. Karena di waktu nyaris bersamaan Arnita menoleh ke arahnya, Azelia buru-buru memunggungi Arnita kemudian merangkak dan berangsur berdiri.


“Enggak kebayang kalau Nita tahu keadaanku yang sekarang. Arnita pasti langsung sujud syukur bahkan jogedan!” batin Azelia buru-buru pergi dari sana.


“Padahal aku pikir, Mas Restu hanya menggertakku. Mas Restu tetap akan mencintaiku, setia menungguku walau aku dipenjara bahkan sampai menikah dengan Kenz. Padahal aku pikir, setelah aku sampai nikah sama Kenz, Mas Restu bakalan ngajak aku balikan karena itu satu-satunya cara agar kami bisa menikah lagi. Namun, ... kenyataannya malah jauh dari yang aku pikirkan,” batin Azelia. Sepanjang jalan, ia yang berjalan kaki, terus menyesali keputusan sekaligus kebodohannya di masa lalu.


“Ternyata cinta memang ada kadaluwarsanya, dan aku merasakannya. Betapa cinta seorang Mas Restu kepadaku juga memiliki masa akhir,” batin Azelia lagi. Kedua kakinya hang hanya memakai sandal jepit, berangsur berhenti melangkah. Kedua mata sembamnya menatap pintu kayu yang sebagiannya sudah keropos dimakan usia. Itu pintu rumah orang tua Kenz. Karena hampir setengah tahun ini semenjak keluar dari penjara, ia dan Kenz tinggal di sana. Kehidupan yang sungguh jauh dari bahagia. Semuanya serba kekurangan baik lahir maupun batin. Karena semenjak menikah, Kenz yang masih pengangguran tapi hobi mabuk, judi dan demen main wanita khususnya para biduan cantik, Kenz juga tak lagi seromantis saat Azelia mencari pelarian dari Restu. Kenzo laki-laki pemalas yang juga kasar. Tak sekadar tutur katanya, tapi juga kenyataan pria itu yang tak segan ringan tangan. Bahkan di beberapa kesempatan, Kenz tak segan menendang Azelia.

__ADS_1


“Andai Arnita mau berbaik hati. Andai Arnita sadar diri dan mau membuat Mas Restu menikahiku lagi,” batin Azelia masih enggan pulang ke rumah orang tua Kenzo suaminya.


__ADS_2