Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
60 : Akhir Dari Perselingkuhan


__ADS_3

Sebagian wajah, tangan, bahkan kaki Sita maupun sang mamak, melepuh. Keduanya wajib menjalani pengobatan semacam operasi kulit. Pertanyaannya, uang dari mana?


“Mungkin ini jawaban dari Tuhan karena ternyata mereka sudah siapin uangnya dari kemarin-kemarin. Kalian sudah janjian mau jual semua sawah sama tanah, kan?” ucap Arnita lembut tak kalah lembut dari senyum di wajah cantiknya.


Bersama Restu dan juga sang putra lengkap dengan pengawalan, Arnita menemui keduanya yang tak hentinya merintih kepanasan, pedih, di puskesmas. Keduanya wajib dirujuk ke rumah sakit besar untuk menjalani perawatan intensif. Namun, biaya menjadi kendala utamanya. Malahan Arnita yakin, pak Iman menjadi bimbang dengan niat awalnya menceraikan ibu Misya.


Keterkejutan Arnita dapati dari sang bapak yang langsung menatapnya. Segera Arnita tak kembali memandangi Sita dan ibu Misya yang sebagian alis maupun rambut di kepalanya habis terbakar. Bisa kalian bayangkan betapa mengerikannya tampang keduanya. Devano saja sampai takut, dan awalnya sempat mengira keduanya itu alien.


“Bapak terkejut? Bapak merasa terzalimi?” ucap Arnita. “Ingat, Pak. Perselingkuhan tidak akan pernah terjadi jika hanya satu pihak yang menginginkan. Sebuah perselingkuhan terjadi karena kedua pihak menginginkan sekaligus menikmatii. Terbukti dalam perselingkuhan kalian sampai menghasilkan Sita, dan selama ini pun Bapak sudah bucin setengah mati ke ibllis betina itu. Sedangkan alasan semua ini ada, itu karena kegagalan Bapak dalam menjadi suami, Bapak gagal menjadi ayah, dan Bapak gagal menjadi kepala rumah tangga!” Arnita tahu apa yang ia katakan sangatlah sadis. Namun ia tak mau menutup mata bahwa sosok paling salah dalam kehancuran rumah tangga orang tuanya, justru bapaknya sendiri.


Kasus hubungan orang tuanya dengan hubungannya dan Restu sekaligus Azelia berbeda. Sebab ketika sang bapak melakukannya dengan sengaja, tidak dengannya dan Restu yang dijebak. Termasuk Azelia, wanita itu dengan sadar membalas dengan perselingkuhan juga. Yang mana keputusan Azelia malah menjadi keadaan makin runyam.

__ADS_1


“Melihat kulit bahkan daging kalian yang nyaris matang, ini sudah fatal. Sefatal yang kalian lakukan kepada mamakku. Sekarang begini saja, biar aku saja yang membeli semua sawah dan tanah karena aku yakin, dari semua itu ada keringat sekaligus perjuangan mamakku!” lanjut Arnita. “Aku ikhlas membeli semua tanah, dan membiarkan hasilnya untuk pengobatan kalian apalagi sekarang aku makin yakin, Tuhan enggak pernah tidur. Kalian fitnah aku, kalian menghancurkan aku dan mamakku, Tuhan langsung balas bertubi-tubi!” Apalagi bisa Arnita pastikan, ibu Misya dan sang putri tak mungkin kembali memiliki kulit atau postur tubuh normal lagi. Bisa dipastikan mereka akan cacatt. Sekadar bicara saja, keduanya tidak bisa lantaran sebagian bibirnya turut terbakar. Benar-benar sudah fatal, mengerikan. Sepanjang di sana saja, Arnita tak hentinya bergidik. Restu apalagi Devano makin cerewet, meminta Arnita untuk segera pergi dari sana.


“Sekarang tugas Bapak sebagai suami betina ibllis itu, Bapak wajib urus. Termasuk ke Sita. Bawa mereka menjalani pengobatan ke rumah sakit. Nanti aku kasih uang, semua sawah dan tanah biar nanti dibeli sama aku karena aku beneran enggak ikhlas, keringat dan jeripayah mamakku yang ada di sana hilang tanpa sisa. Setelah itu, Bapak cukup kembali padaku dan pastikan, putus hubungan Bapak dengan mereka. Semua tanah maupun rumah yang selama ini mereka incar benar-benar sudah jadi milik mereka. Jadi mereka enggak berhak nuntut apa-apa lagi karena Bapak ke aku pun sudah enggak bawa apa-apa.” Arnita berangsur memfokuskan tatapannya kepada kedua pasien bakar di hadapannya yang hanya bisa berlinang air mata sambil merintih lirih.


Jika ditanya apakah Arnita kasihan? Arnita akan menggeleng tegas sambil berkata tegas juga. Bahwa dirinya sama sekali tidak kasihan apalagi dari tatapan ibu Misya dan Sita kepadanya saja, keduanya tampak dendam. Bibir gosong itu seolah berusaha merapal sumpah serapah tanpa sadar diri. Mengecap Arnita sebagai wanita kejii padahal keduanya juga yang kebangetan. Termasuk kenapa juga keduanya tetap tidur anteng padahal suasana malam kemarin sangat ekstrim? Rumah mereka bahkan nyaris gosong total, bisa-bisanya keduanya tetap tidur dengan damai?


“Beruntung sih kalian masih hidup karena aku yakin, ini cara Tuhan minta kalian buat introspeksi diri!” lanjut Arnita. Ia nyaris pergi dari sana, tapi sang bapak menahan. Pak Iman menjatuhkan talak tiga kepada ibu Misya, di hadapan semuanya. Berderai air mata pria tua itu berlutut ke Arnita sambil meminta maaf.


“Datangi makam mamak, Pak. Nyekar, bikin semacam kirim doa bersama juga. Biar mamak tenang. Hanya itu yang aku minta dari Bapak. Setelahnya, setelah tugas Bapak mengurus pengobatan mereka selesai, Bapak cukup datang ke aku karena aku juga enggak rela, Bapak dijadikan babbu sama mereka.” Arnita yang masih berlinang air mata berangsur jongkok. Ia membantu sang Bapak untuk berdiri, kemudian membiarkan pria itu kembali memeluknya. Sungguh adegan yang sangat mirip drama. Terlepas dari itu, Arnita tak mungkin menjabarkan keadaan Sita dan ibu Misya lebih rinci karena itu bisa membuat setiap yang mengetahui jijiik.


Surat perjanjian sungguh dibuat. Tiga petak sawah dan juga tanah yang pak Iman miliki, sudah atas nama Arnita. Restu mentransfer sebagian jumlah uangnya karena pak Iman hanya minta diberi setengah bagian.

__ADS_1


“Biar adil, ... setengah buat mereka, setengah lagi buat Nita sama mamaknya,” ucap pak Iman.


Lagi-lagi Arnit menitikkan air mata. Selain menepis tatapan sang bapak, wanita itu juga memilih pergi dari ruang tunggu di depan IGD ibu Misya dan Sit menjalani penanganan. Arnita berusaha tegar sambil terus mengemban Devano. Ia menyerahkan semuanya kepada Restu yang ditemani pak Slamet. Sementara ia dan Devano masih dikawal oleh pak Lukman.


Tak lama kemudian, Arnita mengunjungi makam sang mamak yang sama sekali tidak terawat. Nisan terbuat dari kayu saja sudah sangat kusam. Menegaskan, sang bapak sama sekali tidak pernah mengurusnya. Dengan kata lain juga, setelah Arnita pergi, selama lima tahun terakhir, makam tersebut benar-benar tidak ada yang mengurus.


Menggunakan kedua tangannya, Arnita menuntun sang putra untuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di sana.


“Nanti aku tanya ke pak RT buat urus makam mamak kamu biar lebih rapi, terus sekalian diadakan kirim doa bersama. Apa sih namanya kalau di kampung ini, tahlilan?” ucap Restu yang baru kembali membawa kembang dan juga air khusus yang pria itu beli dari pasar. Sebab berbeda dari makam di kota-kota, di makan sana tidak ada yang menjual seperangkat nyekar.


Arnita menatap Restu kemudian mengangguk. “Mak, aku percaya, di balik kesuksesan sekaligus kebahagiaanku, doa-doamu menjadi benteng utama aku memiliki semuanya. Terima kasih banyak, Mak. Terima kasih karena Mamak tetap mencintaiku, walau Bapak yang membuatku ada menjadi bagian dari hidup Mamak, sudah menyakiti Mamak dengan kejji. Terima kasih tetap mencintaiku, walau Mamak harus merasakan banyak ketidakadilan. Terima kasih, karena doa terbaik Mamak, sekarang aku sudah memiliki kebahagiaan nyata, kebahagiaan sempurna bersama keluarga kecilku. Jadi mulai sekarang, Mamak wajib istirahat dengan tenang. Mamak berhak bahagia, Mak. Aku sayang Mamak!” batin Arnita yang tentu saja sudah sampai mengenalkan Restu maupun Devano putra mereka.

__ADS_1


__ADS_2