Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
71 : Reuni Mantan


__ADS_3

“Reuni mantan. Tapi mantan yang sudah sama-sama punya pasangan. Bukan mantan yang masih jadi istri orang, terus sengaja selingkuh sama mantan terindah, tapi malah sengaja memutar balikkan fakta demi tetap terkesan suci di mata orang-orang.” Arnita tersenyum puas memandangi wajah Azelia maupun wajah Kenzo. Tak ada tanda-tanda keduanya bahagia layaknya yang ia rasa. Malahan, keduanya terlihat panik sekaligus malu.


Restu dan Arnita tak hanya datang bertiga karena mereka juga sampai membawa pak Iman lengkap dengan pak Lukman dan pak Slamet. Mereka datang beramai-ramai menggunakan mobil.


“Ini kok Ken sampai ada di sini? Padahal kan aku sudah pamit mau pergi kondangan sama keluargaku dan kami sampai menginap, dan Kenzo pun langsung kasih izin,” batin Azelia. “Terus, kenapa Arnita sampai ikut bahkan ramai-ramai begini datangnya? Restu kepergok, apa bagaimana?” pikir Azelia lagi masih ketar-ketir.


Azelia masih yakin, Restu tulus mengajaknya bertemu layaknya surat balasan yang ia dapatkan. Ia sama sekali tidak curiga, dan malah merasakan itu pada Ken yang tiba-tiba hadir di sana. Apalagi sejauh ini, setiap Ken marah, pria itu tak segan main tangan bahkan menendang.


“Kalau Ken beneran sampai tahu, ... enggak. Enggak. Mas Restu pasti akan melindungiku!” pikir Azelia.


“Kenapa Ken sampai datang, padahal aku hanya undang kamu?” tanya Restu yang menuntun Devano untuk bersama pak Lukman.


“Mas, aku bisa jelasin.” Azelia langsung gelisah. Ia segera mendekati Restu, tapi Restu yang masih digandeng Arnita memilih mundur. “Aku beneran pilih, kamu, Mas!”


Pengakuan Azelia barusan langsung membuat semuanya tercengang, kecuali untuk Azelia sendiri yang terlalu yakin, Restu masih mau menerimanya lagi.


“Pilih Restu bagaimana? Bukannya kamu sudah punya suami?” sergah pak Iman refleks.


Azelia langsung mendengkus sinis bapak Arnita yang ada di belakang Arnita.


“Ini ada apaan, sih?” tanya Devano kepada pak Lukman yang sampai membekap kedua telinganya. Pak Lukman seolah sengaja membuatnya tidak bisa mendengar percakapan di sana.

__ADS_1


“Bajiingan emang kamu, ya! Sudah punya istri masih gangguin istri orang!” kesal Kenzo kepada Restu.


“Ken!” sergah Azelia tak kalah kesal. Ia hendak mendekati Restu semacam berpegangan pada tangan atau malah memeluk tubuh Restu, tapi Arnita kembali menghalanginya. Arnita berdiri di depan Restu dan tak mengizinkannya mendekat apalagi sampai lebih.


“Yang bajjingan itu kalian, makanya kalian cocok. Bajinggan teriak bajjingan kepada orang, hanya untuk dikira suci? Atau malah sengaja biar bisa dapat uang?” tegas Arnita.


“Kalau kalian tidak merasa sebagai bajjingan, duduk. Kita selesaikan semuanya sekarang juga!” tegas Restu. Tangan kirinya yang tidak digandeng Arnita, mendekap erat perut istrinya itu.


Karena Azelia dan Kenzo tak kunjung duduk, Restu sampai membentak. “Duduk!”


Walau terpaksa, Kenzo dan Azelia akhirnya memilih duduk. Namun sampai di titik ini, Azelia belum sadar dirinya hanya dijebak. “Semangat buat perjuangin aku, Mas!” batin Azelia terlalu yakin saking ngarepnya ingin hidup bahagia lagi dengan Restu.


“Ya kenapa? Memang kenyataannya kamu suami gagal dan aku enggak pernah bahagia karena kamu memang gagal,” ucap Azelia sinis kepada Kenzo yang duduk persis di sebelahnya.


Kenzo menggeleng tak habis pikir, merasa harga dirinya diinjak-injak. Kemudian, tatapan marahnya teralih dari Azelia yang jelas tak mau bersamanya lagi. Bahkan sekadar ditatap, Azelia terlihat jelas tidak mau.


“Bangsaaat, kamu, ya!” tegas Kenzo kepada Restu yang duduk di hadapannya dan masih didampingi Arnita.


Seorang pelayan yang datang membawa teh panas, tak kalah terkejut dari mereka yang menjadi bagian dari sidang dadakan di sana hanya karena ucapan Ken barusan. Namun yang lebih mengejutkan lagi ketika Arnita mengambil segelas teh panas untuk menyiram wajah Ken. Juga, segelas teh panas lagi untuk wajah Azelia hingga rias cukup tebal yang mempercantik wajah wanita itu langsung luntur.


“Kalian kalau ngomong, tolong dikira-kira dulu, daripada hasilnya malah bikin kalian malu!” tegas Arnita marah.

__ADS_1


Beruntung, pak Lukman yang sengaja mengemban Devano sudah sampai membenamkan wajah bos kecilnya ke dadanya hingga Devano tak sampai melihat adegan sangar Arnita kepada Azelia dan Kenzo.


“Baca kedua surat itu baik-baik. Harusnya kalian mikir, aku ke sini membawa keluarga kecilku ingin menegaskan, aku enggak butuh noda yang dari dulu sudah berusaha aku buang!” tegas Restu menatap wajah Azelia dan Kenzo yang kepanasan, silih berganti.


“Tanyakan kenapa istrimu semurahan itu. Minta dia buat mikir dan jangan ganggu aku apalagi rumah tanggaku lagi karena kami sudah sebahagia ini? Lumrahnya, ngapain aku menampung noda bahkan kottoran kalau dari dulu saja sudah susah payah aku buang?” tegas Restu walau ia melakukannya dengan suara lirih.


“Kalian ini bukan anak kecil loh. Kalian ini sudah sama-sama tua. Kalian yang memulai dan kalian juga yang berulah. Maaf, waktu kami terlalu berharga buat berurusan dengan orang seperti kalian.” Setelah berucap demikian, Restu juga berkata, “Sekarang katakan, apa mau kalian!”


“Aku enggak terima karena ini sama saja kamu mempermainkan istriku!” kesal Ken yang dari awalnya memang ingin menguras uang Restu melalui kasus ini. “Aku bakalan laporin kamu ke polisi! Ini namanya pelecehaan! Main-main kamu yah, sama aku!” Kemudian tatapannya teralih dari Restu dan menjadikan Arnita sebagai tujuan. “Kamu lagi, ... kamu asal siram air panas seperti tadi dikiranya aku takut,” ucapnya yang sebenarnya belum selesai.


Namun Arnita yang sudah langsung menatap marah Kenzo berkata, “Bilang saja kamu butuh duit! Laki-laki tak berguna seperti kamu kan memang hanya bisa dapat uang dengan cara begini!”


Restu yang masih kelewat tenang berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. “Aku sudah memanggil pak RT dan juga pak RW kita. Aku sengaja mengundang mereka untuk menyaksikan sidang ini karena apa yang Azelia lakukan yaitu mengirimi surat seperti itu sangat mengganggu kami!”


“Heh, Lia ... mikir kamu! Jangan baper apalagi geer kenapa! Sudah sampai dipenjara, masih saja enggak sadar!” lanjut Restu.


“Tunggu sebentar lagi, mereka pasti datang! Nah akhirnya mereka datang,” lanjut Restu lagi dan menjadikan dua motor yang baru saja memasuki tempat parkir depan sebagai fokus perhatian. Kedua motor itu berisi dua laki-laki berpakaian rapi.


“Mas Restu, kamu hanya sedang pura-pura demi cari aman, kan, Mas? Agar kita tetap bersama-sama?” batin Azelia yang kemudian sampai langsung mengatakannya saking penasarannya.


“Amit-amit jabang bayi ...,” ucap Restu refleks sambil menggeleng tak habis pikir. “Lihat, aku sampai merinding gara-gara kedangkalan cara pikir kamu!” Ia sampai menunjukan kedua tangannya yang kebetulan walau memakai kemeja lengan panjang warna biru tua, tapi bagian lengannya disingsing hingga siku.

__ADS_1


__ADS_2