
Restu yang sudah memakai piama lengan panjang warna biru gelap, membuka pintu rumah lebar-lebar kemudian membiarkannya. Pria itu mengawasi setiap suasana di sana tanpa terkecuali suasana taman.
Taman di sana terjaga sangat baik apalagi musim hujan yang tengah berlangsung membuat setiap tanaman maupun bunga, tumbuh dengan subur. Tentunya, walau hidup di perkampungan, Restu tidak khawatir pada banjir. Sebab kala renovasi kontrakan yang dulu ia khususkan untuk Arnita, ia sengaja membuat pekarangan sekitar jauh lebih tinggi dari pekarangan lainnya.
“Pah! Mana kelinci aku?” tagih Devano yang berlari tak sabar menghampiri sang papah.
Restu menahan senyumnya dan memang sengaja meledek sekaligus menggoda sang putra. Apalagi semenjak bocah itu keluar dari rumah sakit, sisi manja sekaligus pemberontak seorang Devano akhirnya hadir. Devano tak lagi menjadi pribadi datar, dingin tak tersentuh. Meski tentu saja, di beberapa kesempatan, Devano akan kembali menjadi si dingin yang tersentuh apalagi jika sedang ngambek.
Kehadiran Devano juga bertepatan dengan motor Juan yang berangsur menepi tak jauh dari gerbang rumah Restu.
“Mamahhhhh, Papah boongin aku lagi!”
Teriakan Devano barusan langsung mengusik seorang Juan. Buru-buru Juan memastikannya. Seperti suara yang baru saja terdengar, itu sungguh suara dari bocah laki-laki. Bocah itu berkulit putih bersih, bertubuh sehat, dan sangat mirip dengan Restu. Sementara ketika Juan memastikan Restu dan kini tengah ketar-ketir menyusul si bocah, Restu sama sekali tidak menua dan malah terlihat jauh lebih menjaga penampilan. Sebab walau memakai piama lengan panjang saja, tubuh Restu masih tetap terlihat kekar.
“Kakak, sini. Kakak hobi banget bikin Papah dimarahi Mamah! Sini, itu kelincinya di sana. Ada kandang mirip rumah lucu dan ada nama Kakak juga.”
“Bocah tadi mirip banget sama Restu!” batin Juan masih mengamati dari luar gerbang. Ia masih duduk di motor matic-nya, mencoba mencari tahu seperti apa istri baru Restu. Juga, ia yang akan meminta pertanggung jawaban pria itu lantaran Arnita mendadak hilang bak ditelan bumi.
Juan berangsur turun dari motornya di tengah kesibukan kedua matanya yang aktif mengawasi suasana rumah Restu khususnya sang pemilik yang kini sedang bersantai bersama sang jagoan.
“Kelincinya warnanya apa?” tanya Restu yang sampai mengemban Devano.
__ADS_1
“White.” Devano benar-benar cuek.
“Good boy!” Restu sengaja memuji Devano, mengecupp sebelah pipinya penuh sayang.
“Ini mana yang cewek, mana yang cowok, Pah?” Devano menatap serius sepasang kelinci di dalam kandang menyerupai rumah minimalis yang ada di teras depan rumah.
“Bentar,” balas Restu yang merasa perlu memastikan.
“Oh, iya ... kenapa kelinci untukku warnanya putih semua?” Kali ini Devano protes.
Restu langsung kebingungan. “Ini, berarti Papah salah?”
Belum sempat mendengar jawaban sang putra, suara bel menggema, menegaskan dari depan gerbang sana ada yang menekannya. Restu melongok ke depan, membuatnya mendapati wajah Juan di antara remang penerangan lampu di sekitar sana. Iya, walau hanya mengenal hitungan hari dan itu di masa lalu, Restu masih hafal bahwa pria yang berdiri di depan sana, pria yang menatapnya penuh kebencian, merupakan mantan calon Arnita yang pernah menghajjarnya dengan bruttal. Pria yang juga membuatnya dan Arnita terikat dalam pernikahan. Tentunya Restu tak lupa, sebelum dirinya dan Arnita didikahkan dengan paksa, pria itu tak segan menghakiminya maupun Arnita, di depan semuanya.
Sadar sang papah menatap pria di depan sana dengan tatapan tidak suka cenderung sedih, Devano sengaja berkata, “Papah kenal dia? Dia orang jahat, yah, Pah? Wajahnya kelihatan jahat, apalagi dia yang datang ke rumah kita, malah menatap Papah begitu, enggak sopan!”
Restu mengulas senyum menanggapi sang putra yang memang tumbuh menjadi pribadi kritis.
“Kakak masuk rumah dulu, yah. Papah mau ke orang itu dulu,” ucap Restu mencoba memberi sang putra pengertian.
Devano sengaja menggeleng. “Enggak, Pah. Kita masuk bareng-bareng saja. Jangan peduliin orang itu. Toh, ini sudah malam. Malam-malam main ke rumah orang kan enggak sopan.” setelah berucap demikian, Devano juga berkata, “Ya sudah, Pah. Ayo masuk! Kita siap-siap masak saja. Mamah bilang, Mamah mau masak.”
__ADS_1
Restu mengulas senyum, kemudian menyanggupi permintaan sekaligus arahan sang putra. Kendati demikian Restu merasa tak habis pikir, kenapa seorang Juan masih saja mencari gara-gara kepadanya, padahal jelas-jelas, Arnita sudah mengakhiri hubungan mereka? Tentunya, Restu juga tak lupa, pria itu sudah berulang kali semena-mena kepada Arnita. Malahan Juan pernah sangat menatap jijikk Arnita.
Sadar Restu malah sampai menutup pintu, kenyataan tersebut benar-benar membuat seorang Juan kesal. Juan yang kini membiarkan rambut di kepalanya gondrong, selain kulitnya yang makin kusam sekaligus gelap, mengepal kencang.
Tak mau diabaikan begitu saja, Juan sengaja menekan bel di depannya beberapa kali. Malahan saking emosinya, pria itu meninjju alat penghasil suara tersebut. Bukan alat tersebut yang rusakk, melainkan punggung jemari tangan Juan yang sampai lecet.
Sekitar sepuluh menit kemudian, sesuai rencana, Devano tengah membantu sang mamah menyiapkan masakan. Restu juga ada di situ dan tadi sempat menceritakan kedatangan Juan kepada Arnita sambil berbisik-bisik. Restu sengaja melakukannya demi membatasinya dari Devano.
“Kalau nanti malam-malam sampai datang lagi, gimana, Mas?” lirih Arnita tengah melumuri campuran tepung kering pada ikan gurame besar di wadah. Ia menatap sang suami penuh kepastian.
Restu belum sempat menjawab, tapi bel rumah sudah kembali bunyi.
“Nyebelin banget yah tuh orang, sudah malam masih saja mau main! Enggak sopan banget!” kesal Devano.
Mendengar itu, Arnita dan Restu yang tengah bertatapan, refleks melirik Devano. Bocah itu melangkah kesal keluar dari dapur. Alasan yang membuat Arnita meminta Restu untuk segera menyusul. Terlebih Devano yang tidak mau dilarang, berdalih akan menemui yang datang agar tidak main malam-malam.
“Kakak, biar Papah saja yang urus.” Satu hal yang menjadi alasan kuat Restu dan Arnita kompak memanggil Devano kakak. Tak lain karena mereka memang sedang program hamil demi menghadirkan adik untuk Devano.
Devano terus saja dengan niatnya. Pak Lukman dan sopir mereka dan kebetulan ada di ruang tamu, sampai bergegas membukakan pintu sesuai arahan Devano maupun Restu. Keduanya siap menjalani pengawalan. Tak disangka, yang datang bukan lagi Juan, melainkan pak Iman, bapak Arnita. Di depan gerbang sana, pria itu berdiri, menatap marah ke arah Restu.
Gerimis mulai mengguyur, membuat Restu mengemban sang putra, membawanya berlindung di bawah payung. Mereka dipayungi oleh pak Lukman. Sementara sang sopir juga turut mendampingi memakai payung sendiri.
__ADS_1
“Pak Iman, aku juga tidak akan pernah lupa. Sampai detik ini kamu masih menjadi luka tetap Arnita. Jadi, jangan salahkan aku jika aku menyakitimuu melalui kebahagiaan kami!” batin Restu sengaja meminta sang sopir membuka gembok gerbangnya. Tentunya, ia sengaja meminta sopirnya itu untuk memayungi sang bapak mertua.
Dalam hatinya, Restu yang menatap dingin kedua mata pak Iman yang menatapnya penuh kebencian, berkata, “Balas dendam benar-benar dimulai .....”