
Balasan Restu membuat ibu Rembulan merasa sangat puas. Luka batin dan juga mental yang sempat menumpuk dan perlahan menjadi dendam, seolah dibayar lunas oleh kenyataan sekarang. Ibu Reni dan sang adik yang hidupnya sudah tidak lebih baik, tak segan memohon bantuan kepada mereka yang dulu dibuang.
“Parah sih, makanya pak Restu marah banget!” batin Mario tak mau ikut campur. Sebab berada si posisinya saja sudah sangat menyakitkan. Apalagi jika ia juga sampai merasakan ada di posisi Restu yang sampai diragukan statusnya?
“Kenapa minta bantuannya ke Restu kalau dari lahir saja, Restu sudah dibuang? Kalau mas Ramlan butuh bantuan, harusnya yang bantu ya yang selama ini mas Ramlan urus!” ucap ibu Rembulan yang tak mau lama-lama di sana.
“Ya sudah yah, ... kami pamit dulu, masih ada urusan, terus tadi cucu juga minta jalan-jalan,” ucap ibu Rembulan sengaja pamit.
Semuanya kompak berdiri dan Restu langsung sigap membantu Arnita. Kenyataan tersebut langsung membuat ibu Reni ketar-ketir.
“Sebelumnya, saya benar-benar minta maaf karena dulu, saya sudah sangat keterlaluan kepada kamu, Lan. Saya minta maaf karena dulu saya sudah sangat keterlaluan kepada kalian!” ucap ibu Reni sungguh-sungguh sambil menatap wajah ibu Rembulan maupun wajah Restu, silih berganti.
“Jangankan memaafkan, ingat kalian saja andai tidak karena mendadak teringat, saya tidak. Entah Mamah yang sudah terlalu kalian lukai karena memaafkan tak semudah meminta maaf.” Restu kembali meledak-ledak.
“Memang sudah selumrahnya orang salah meminta maaf, tapi bukan berarti kata maaf bisa membuat keadaan jadi baik-baik saja. Karena jika kata maaf bisa membuat semuanya baik-baik saja, tentu Anda juga tidak akan berakhir di kursi roda,” lanjut Restu.
“Ya sudah, kami pamit,” ucap ibu Rembulan yang kali ini benar-benar pamit.
“Permisi,” ucap Arnita yang kemudian meraih sebelah tangan Devano karena Restu ia tugasi untuk mendampingi sang mamah.
__ADS_1
Mario segera pamit kepada sang mamah untuk mengantar tamu mereka. Baru saja di teras rumah yang tidak begitu luas, langkah tamu-tamunya terhenti karena kehadiran seseorang. Pak Ramlan, pria paruh baya bertubuh kurus itu masih menuntun sepeda dan berdiri di depan gerbang rumah. Namun, fokus tatapan pria berkacamata bening itu sudah langsung tertuju kepada ibu Rembulan.
“Kayaknya ini papahnya mas Restu deh. Lumayan mirip soalnya,” batin Arnita yang merasa bersyukur karena ia sudah meminta sang suami mengawal ibu Rembulan. Sebab tanpa diduga, mereka sampai bertemu dengan pak Ramlan juga dan sebelumnya dikatakan sedang pergi oleh Mario.
Restu yang yakin pria paruh baya di depan sana merupakan sang papah, segera merangkul erat sang mamah kemudian membimbingnya pergi dari sana.
“Rembulan, ... bukan?” tanya pak Ramlan menerka-nerka, menatap wanita cantik yang mirip mantan istrinya. Walau tidak yakin karena wanita itu mirip nyonya besar yang juga sangat merawat diri, pak Ramlan sungguh penasaran dan ingin mengetahui kebenarannya.
Ibu Rembulan sampai menahan napas saking tegangnya bertemu kembali dengan laki-laki yang dulu pernah memberinya banyak cinta sekaligus luka. Apalagi ia juga sampai ditatap saksama layaknya sekarang seolah pria itu sangat penasaran dan ingin mengetahui sesegera mungkin kebenarannya.
Restu yang sadar sang mamah membutuhkan bantuannya sengaja melepas kacamata hitamnya. Ia menatap pria yang harusnya memberinya kasih sayang seorang papah, dengan saksama. Pria itu langsung terkejut ketika tatapan mata mereka bertemu apalagi biar bagaimanapun, mata dan alis mereka sangat mirip.
“Aku kira kamu akan kaya raya setelah kamu membuangku yang kamu anggap sebagai pembawa sial, Mas! Tapi ternyata, kamu masih jalan di tempat,” ucap ibu Rembulan yang kemudian menggeleng tak habis pikir.
Pak Ramlan langsung celingukan dan tak berani menatap rombongan di hadapannya.
“Mamah, panas,” keluh Devano.
Restu yang mendengar itu langsung balik badan, menatap sang putra yang memang ada si belakangnya. “Kakak capek? Sini Papah gendong, jangan ke Mamah nanti Mamah capek apalagi di perut Mamah kan ada adek Kakak,” sergahnya langsung memberikan punggungnya kepada sang putra. Tentunya, ia juga sengaja melakukannya, untuk menunjukkan kepada sang papah, begini loh jadi papah yang baik. Bahkan Restu sampai mengatakannya kepada sang papah.
__ADS_1
Pak Ramlan langsung kebingungan. “Kalau kamu ada di posisiku saat itu, pasti kamu juga akan,” ucapnya yang langsung ditahan oleh Restu.
“Jangan pernah menyamakan saya dengan laki-laki pengecuut seperti Anda! Anda merupakan laki-laki yang saat itu telah menjadi suami sekaligus seorang papah, jadi harusnya Anda tahu apa tugas dan kewajiban seorang papah yang sebenarnya!”
Karena wajah Arnita makin pucat, Restu tak lagi fokus kepada pak Ramlan. “Mah, tolong bawa Nita ke mobil.”
Ibu Rembulan langsung merangkul Arnita. Mereka sungguh langsung bubar begitu saja tanpa pamit apalagi melanjutkan obrolan mereka dengan pak Ramlan. Pak Ramlan kebingungan, tapi ia yang sampai mengejar juga tetap dicueki.
“Itu beneran Rembulan dan Restu?” lirih pak Ramlan terbengong-bengong melepas kepergian alphard putih yang membawa rombongan mantan istri dan juga anaknya. Semuanya serba terlihat mewah sekaligus mahal. Padahal tiga puluh satu tahun lalu, ia bahkan tak sampai memulangkan Rembulan. Ia meninggalkan wanita itu di rumah sakit tak lama setelah Rembulan melahirkan Restu.
“Dibayar lunas sih kalau kayak gini caranya!” batin Mario masih menjadi pengamat baik.
Jujur, apa yang Restu lakukan juga sempat ingin Mario lakukan. Namun karena dari semua anak dirinya menjadi satu-satunya yang paling mapan, Mario tidak memiliki pilihan lain selain peduli. Apalagi dari kelima saudaranya, yang benar-benar peduli apalagi sampai mau keluar uang untuk ibu Reni, sangat jarang. Alasannya masih sama, tak semata karena mereka minim biaya. Namun karena di masa lalu, ibu Reni tipikal mamah yang sangat keras. Buktinya saja, Mario sampai dititipkan ke panti asuhan.
Masih penasaran dan sulit untuk percaya, pak Ramlan yang masih menuntun sepedanya, memastikannya kepada Mario.
“Beneran itu bos kamu?” tanya pak Ramlan untuk ketiga kalinya.
Mario menghela napas dalam kemudian mengangguk-angguk. “Kalau Paman masih enggak percaya, besok Paman datang saja ke kantorku. Suaminya ibu Rembulan walau datangnya enggak pasti jam berapa, setiap harinya selalu datang. Paman mau bertemu dengan suaminya ibu Rembulan, enggak?” Dalam hatinya Mario berujar, siapa tahu pak Ramlan ingin mengenal suami dari mantan istrinya, dan orangnya sangat disegani banyak orang. Walau tentu saja, itu tak mungkin pak Ramlan lakukan karena andai iya, sama saja dengan bunuh dirii.
__ADS_1