Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
67 : Surat Balasan


__ADS_3

“Aku mau ngobrol cukup serius,” ucap Arnita setelah Restu menutup pintu kamar Devano.


Mereka baru saja menidurkan Devano. Selain itu, Arnita merasa kini menjadi waktu yang tepat untuk membahas surat dari Azelia.


Restu mengernyit serius menatap sang istri. “Ada masalah? Masih berkaitan dengan bapak?” Karena yang Restu tahu, hubungan mereka baik-baik saja. Begitupun dengan urusan pekerjaan tanpa terkecuali perihal rencananya membangun butik untuk Arnita. Semuanya benar-benar aman tanpa kendala berarti.


“Si Lia. Tadi pagi pas kita mau sarapan di teras, pak Slamet dititipi surat dari Lia. Aku sih nebaknya Lia, ya, soalnya dari ciri-ciri pemberinya, dan juga warna amplopnya, ini dia banget.” Arnita mengeluarkan amplop yang dimaksud dari laci nakas teratas sebelah ia biasa tidur.


Restu mengerucutkan bibirnya dan memang langsung menatap tak suka amplop tersebut.


“Gini, sesuai wangsit yang Lia wanti-wanti ke pak Slamet, ini surat buat Papah. Namun sebelum sampai Papah, harus lewat aku dan aku wajib tahu ini surat buat Papah dan pemberinya wanita berhijab.” Arnita menjelaskan. Di hadapannya, Restu tak hanya tampak tidak nyaman. Karena suaminya juga terlihat langsung marah.


“Beneran enggak penting itu. Sudah buang saja.” Sungguh, Restu memang marah bahkan muak. “Istri orang loh dia, tapi kelakuannya beneran bikin emosi. Dia beneran enggak pernah belajar dari kesalahannya.” Restu terpaksa menceritakan pertemuannya dengan Azelia di pasar malam kemarin malam, kepada Arnita.


“Alasan aku baru cerita ke kamu karena aku memang ngerasa dia enggak penting. Selain itu aku juga percaya, di dunia ini, kamu orang yang paling paham aku,” ucap Restu yang kemudian juga berkata, “Kalau kamu cemburu apa marah, wajar asal cemburu dan marah kamu masih normal. Nah kalau kamu sampai curiga aku ada main dengan dia, berarti aku perlu beli sikat WC buat bersihin isi kepala kamu!”


Arnita langsung tertawa sambil menggeleng tak habis pikir. “Sikat WC ... jahat banget ih Papah.”


“Jujur, aku males banget berurusan sama dia. Takutnya malah fitnah, kan? Ingat Juan yang sampai minta uang tebusan pas kita dijebak? Takutnya Azelia sama suaminya juga pengin gitu ke kita.” Restu mengambil alih amplopnya dari tangan Arnita. “Coba kita baca isi suratnya. Tapi kamu duduk dulu, Mah. Jangan kebanyakan berdiri.”


Arnita yang masih tertawa kecil perkara sikat WC berangsur naik ke tempat tidur dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


“Andai dia tahu suratnya malah jadi bahan lawakan kita, pasti dia malu!” ucap Restu yang malah jadi marah-marah.


Kali ini Arnita tertawa kecil. Kemudian, yang ia lakukan adalah tidur di pangkuan Restu. Ia menemukan kenyamanan luar biasa di sana. Di kehamilan sekarang, Arnita merasa mirip Ratu lantaran selalu dijaga oleh Restu yang juga selalu memenuhi kebutuhannya. Restu begitu memanjakannya, membuat hidupnya terasa sempurna.


“Kepalaku langsung mules bacanya. Perutku langsung pusing!” ucap Restu uring-uringan.


“Kebalik, Pah! Kok malah jadi makin mirip Vano sih?” ucap Arnita di sela tawanya. “Coba bacain juga buat aku suratnya.”


“Intinya, dia ingin aku nikahin dia lagi. Dia bilang menyesal dan baru sadar kalau selama ini, hanya aku yang dia cintai. Dia baru sadar kalau aku laki-laki terbaik dalam hidupnya,” cerita Restu.


“Kalau dia baru sadar, berarti selama ini dia kesuruppan, yah, Mas?” ucap Arnita yang kemudian terpingkal-pingkal lantaran Restu yang makin ketus mengatakan bahwa selama ini, Azelia memang kesuruppan.


“Besok-besok kita ajak dia makan bareng saja, Pah. Ajak dia ngobrol. Kalau perlu sekalian ajak si Ken juga. Sekalian ajak Juan juga boleh biar semuanya jelas dan tuntas! Nanti kita tanya, apa mau mereka? Kok bisa-bisanya kasih belum bisa move on, padahal kita saja mau punya dua anak!” usul Arnita.


“Kita buat surat balasan berarti, ya?” ucap Restu menjadi tertawa seiring jiwa jailnya yang seketika meronta-ronta.


Beberapa saat kemudian, Restu dan Arnita sungguh membuat surat balasan. Namun surat itu hanya berupa undangan ke rumah makan berikut jadwalnya. Nama Restu menjadi pengirim surat untuk Azelia. Mereka hanya mengundang Azelia tanpa Ken maupun Juan. Namun tidak menutup kemungkinan keduanya juga akan mereka undang andai keduanya juga masih sibuk merecoki hubungan mereka.


***


Keesokan harinya di pagi menjelang siangnya, menjadi hari terindah bagi seorang Azelia. Setelah lepas dari Restu membuat hidup wanita itu penuh penderitaan tiada akhir, akhirnya ada secercah harapan untuknya kembali mengenyam kebahagiaan. Bagaimana tidak? Pak Slamet yang ia titipi surat tiba-tiba datang ke kediaman orang tua Kenzo.

__ADS_1


“Semalam pak Restu sama ibu Arnita debat sengit loh, Mbak. Ini saya diutus begini pun, suruh diam-diam sama pak Restu. Jangan sampai ibu tahu, katanya.” Pak Slamet juga sudah diatur untuk mengikuti rencana Restu dan Arnita.


Berbunga-bunga, begitulah yang Azelia rasakan detik itu juga. Di halaman rumah orang tua Kenzo, ia begitu percaya dengan ucapan sopir Restu itu. Apalagi kemarin orang itu juga yang mengiriminya. Puncaknya, ketika ia diam-diam membuka surat balasan dari Restu di kamarnya dan Ken yang sengaja buru-buru ia kunci.


--Kita ketemuan di rumah makan biasa kita dinner, yuk? Besok malam sekitar pukul tujuh, ya? Kalau kamu memang bisa, cepat titip pesan ke sopirku biar aku bisa siap-siap. Bilang, jangan sampai Nita tahu.--


Restu.


Azelia tak hanya menjadi susah bernapas. Sebab setelah membaca surat balasan yang ia kenali memang tulis Restu, ia sampai berlinang air mata. Air mata bahagia.


“Akhirnya!” lirih Azelia yang kemudian melipat rapi suratnya kemudian memasukkannya ke dalam amplop putihnya lagi. Ia menyimpan asal amplop tersebut di bawah bantal lusuh yang ada di belakangnya. Bergegas ia keluar rumah dan di sana ternyata masih ada pak Slamet. Kenyataan yang juga menambah kebahagiaannya. Sebab dengan kata lain, Restu sungguh berniat menjalin hubungan dengannya.


“Pak!” seru Azelia yang sebelumnya sudah sampai menyeka air matanya.


Pak Slamet yang masih berdiri di depan mobil sebelah pintu setir, pura-pura tak kalah siaga sekaligus antusias dari Azelia.


Di rumah, Kenzo yang baru keluar dari kamar mandi dan keberadaannya ada di sebelah dapur, melangkah sambil terkantuk-kantuk. Kenzo yang sibuk menguap langsung masuk ke dalam kamar. Pria itu membantinggkan tubuhnya ke tempat tidur persis di atas bantal lusuh Azelia menyembunyikan surat balasan. Lebih kebetulan lagi, kedua tangan Kenzo juga mendekap bantalnya hingga pria itu menemukan surat balasan dan langsung membuatnya terjaga.


“Apa ini? Surat?” lirih Kenzo langsung melek, apalagi ketika pada akhirnya, ia melihat isi suratnya dan menjadikan nama Restu sebagai pengirim. Bukannya cemburu apalagi marah, Kenzo malah tersenyum senang.


“Rezeki nomplok ini. Bisa jadi tambang emas pokoknya!” batinnya yang kemudian buru-buru menyimpan amplop cinta berwarna putih itu kembali ke bawah bantal lantaran suara buru-buru terdengar mendekat. Kenzo yang juga langsung pura-pura tidur yakin, itu Azelia. Benar saja, seseorang membuka pintu kemudian masuk berhias helaan napas dan ia kenali sebagai helaan napas sang istri.

__ADS_1


“Azelia beneran bakalan jadi tambang emasku buat jebak Restu!” batin Kenzo yang memang sengaja pindah dari bantal sebelumnya.


“Ken ada di situ. Kira-kira dia tahu kalau di bawah bantal sebelah ada surat dari mas Restu, enggak, yah? Kok bisa-bisanya aku ceroboh dan asal taruh, sih!” batin Azelia deg-degan. Rasa tegang yang perlahan berubah menjadi takut.


__ADS_2