Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
46 : Korban Keegoisan Orang Tua


__ADS_3

“Mas, aku penasaran kelanjutan kabar dari Mas Mario yang kemarin dimintai keterangan sama polisi,” ucap Arnita sambil melepas sabuk pengamannya. Ia berangsur membuka pintu sendiri sambil sesekali menatap Restu yang juga menyikapinya dengan serius. Mereka sudah sampai di tempat parkir rumah sakit, alasan mereka kembali karena di sana, Devano sudah menunggu.


“Aku yakin, sebenarnya alasannya diam karena setelah mengetahui duduk perkaranya, dia jadi merasa sangat bersalah kepadamu. Makanya dia enggak berani cerita. Nanti aku saja yang cari tahu. Nanti aku yang tanya langsung ke dia, takutnya dia juga sungkan ke kamu setelah dia tahu kamu istriku, sementara alasan Mia melakukan semua ini karena dia cemburu ke kamu,” ucap Restu.


Arnita baru menghela napas pelan, tapi di sebelahnya, Restu sudah berkata, “Kamu enggak usah mikirin ini. Biar aku saja yang urus. Lihat, kepala kamu sudah pitak. Kalau dilihat dari dekat apalagi kalau aku pas peluk kamu, kelihatan banget.”


Arnita menggeleng tak habis pikir di antara senyum santai yang menyertai tatapannya kepada Restu. Sekitar lima menit kemudian, mereka yang akhirnya sampai di ruang rawat Devano, dikejutkan oleh keberadaan ibu Rembulan di sana. Wanita bar-bar itu sedang menyuapi Devano es krim. Tak sedikit pun wanita itu terlihat bar-bar, meski di beberapa kesempatan, memang terlihat tidak sabar.


Restu dan Arnita saling bertatapan, menuangkan kebingungan mereka satu sama lain. Namun kemudian, Restu yang langsung menggandeng sebelah tangan Arnita berangsur memimpin langkah.


“Sudah lama, Mah?” tanya Restu sengaja basa-basi.


Ibu Rembulan yang tampak terkejut karena awalnya tengah ikut menonton acara kartun di televisi bersama Davano, menjadi kebingungan mirip orang linglung. Ia membiarkan Arnita menyalami tangan kanannya dengan takzim. Pemandangan yang membuat Restu kikuk, walau pria itu tetap tak sampai menyalaminya.

__ADS_1


“Ada perlu apa?” tanya Restu bertahan di hadapan sang mamah. Lain dengan Arnita yang memilih menyisihkan kedua tas kerjanya termasuk tas Restu, di meja depan sofa lipat.


“Iya, sekalian jenguk cucu. Asli ini lebih ngeselin dari kamu apa Fiola. Kamu tahu, kan, tanpa harus sebut nama?” ucap ibu Rembulan sambil melirik kilat Devano yang masih fokus menonton.


Tak hanya Arnita yang langsung menebak bahwa yang dimaksud ibu Rembulan itu Devano. Karena pak Lukman termasuk Devano, sudah langsung mengira-ngira.


“Oma berisik. Kecilin suaranya,” ucap Devano meski tatapannya masih fokus ke layar televisi di depannya.


Ibu Rembulan langsung melirik ngeri Devano. Lain dengan Arnita dan pak Lukman yang malah menahan senyum mereka.


Menghela napas, ibu Rembulan mengempaskan tatapannya kepada pak Lukman yang terjaga berdiri di seberangnya. Ia mengangsurkan gelas berisi es krimnya, meminta pria itu untuk menggantikannya menyuapi Devano.


Kemudian, yang langsung ibu Rembulan sampaikan adalah mengenai sanksi untuk Fiola. “Percayalah, proyek dari perusahaan, sangat berharga untuk Fiola. Jangan sampai kalian beneran ganti dia. Papah pun enggak setuju kalau modelnya sampai diganti.”

__ADS_1


“Buat musim besok, aku maunya tetap ganti, Mah. Buat pembelajaran ke Fiola, agar dia jauh lebih menghargai. Besoknya lagi, baru. Ini pun wajib dipertimbangkan, layak enggaknya Fiola jaga image perusahaan?” ucap Restu yang kemudian sampai menghela napas dalam. “Pokoknya Mamah santai saja, ... gini-gini, aku memikirkan semuanya, kok. Sekarang yang perlu Mamah lakukan, Mamah cukup jalani pendekatan dengan Fiola. Soalnya orang yang banyak muka seperti Fiola takutnya salah sikap dan malah keliru kasih tanggapan. Jadi, memang lebih baik dibiasakan disiplin ke dia.”


Restu yang menjelaskan nyaris ketiduran, tapi Arnita yang menyimak, membangunkannya pelan. Arnita berangsur menatap sang mamah mertua. Melalui tatapannya, wanita itu seolah tengah memohon bantuan kepadanya.


“Saya juga sudah mengatakan ini ke Fiola karena kebetulan, siang ini dia datang ke perusahaan, Bu. Saran saya, ... ikuti saja cara Mas Restu karena tadi pun, saya sudah pelan-pelan nasihati.” Arnita turut mengomentari. “Fiolanya mau, kok. Tapi ya gitu, masih berharap enggak ada hukuman.”


“Sebenarnya sekarang kunci kebahagiaan Fiola ada di orang tuanya. Karena setelah dia sampai punya Rayyan, masa iya kalian masih sebebas itu ke Fiola? Malahan menurut saya, Rayyan ini ibarat bom waktu buat Fiola. Dari adanya dia, maupun sikap Fiola ke dia. Jangan sampai, Fiola dan Rayyan jadi sasaran empuk netizen atau malah haters!”


Restu berangsur membuka matanya. Ia menatap sang mamah kemudian berkata, “Jejak digital enggak bisa dihapus di tengah kecanggihan teknologi sekarang, Mah. Jangan sampai, Rayyan juga merasakan apa yang dulu Mamah lakukan ke aku. Karena enggak diakui oleh mamah benar-benar menyakitkan dari semua luka yang pernah aku! Sampai sekarang!” Restu bertutur sangat serius, lirih, tapi emosional.


Ibu Rembulan langsung menggeragap, tak berani menatap Restu maupun Arnita yang sudah langsung menatapnya dengan menerka-nerka.


“Dulu, demi menikah sama papahnya Fiola, Mamah enggak mengakui aku. Aku dititipin ke papah aku, tapi papah aku yang kesel dengan tingkah Mamah juga setengah hati. Jadi, aku beneran sakit hati sepanjang waktu karena mamah tiriku juga jahat,” lanjut Restu. “Enggak apa-apa sih, aku bilang gini di depan istriku dan bahkan anakku. Buat pembelajaran saja, jangan sampai dicontoh. Jadi, kalau aku sampai ditanya pilih anak apa istri, kalau kasusnya kayak kasusku dan Mamah, aku sebagai suami akan memilih anak karena mamah saja memilih laki-laki lain. Namun jika pilihan itu harus dihadapkan pada pernikahanku yang sekarang, ... apa yang harus aku pilih jika kami saja baik-baik saja? Yang harus kami lakukan walau lima tahun terpisah kan memang harus sabar dan berikhtiar, bukan malah menjalani pernikahan yang baru seperti yang kalian paksakan. Alhamdullilah, kan, enggak ada hujan enggak ada angin, aku bertemu anak dan istriku.”

__ADS_1


Di titik ini Arnita jadi mengerti, kenapa dulu Restu dengan sigap akan menceraikan Azelia andai Arnita terbukti hamil. Bahkan walau Azelia tak sampai selingkuh. Tak semata karena Restu yakin berpoligami hanya akan menyakiti mereka. Karena setelah Restu merasakan ketidaknyamanan hidup di tengah keluarga hancur, pria itu tidak mau anaknya mengalami hal serupa.


“Tapi orang tua Mas Restu kejam banget sih. Mamah sampai enggak mengakui, papah sampai ogah ngurus hanya karena kesel ke mamahnya mas Restu,” pikir Arnita yang kemudian juga mengoreksi ucapannya. Karena di luar sana, masih banyak yang lebih parah dari Restu hanya karena keegoisan orang tua.


__ADS_2