Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
38 : Mamah Mertua


__ADS_3

Kedatangan seorang wanita bergaya glamor dan menerobos masuk ruang rawat Devano, mengejutkan Arnita yang kebetulan sedang bekerja secara online.


Arnita yang duduk di sofa seberang ranjang rawat Devano berada, berangsur melepas kacamata beningnya. Ia menatap serius wanita cantik yang memakai nuansa hitam untuk penampilannya. Wanita yang juga langsung membuat pak Lukman tampak ketar-ketir.


Arnita berangsur berdiri meninggalkan laptop dan juga seabrek map, dokumen, termasuk desainnya di meja.


“Tes DNA! Tes DNA agar saya yakin, itu benar-benar darah daging Restu!” sergah si wanita.


Menghela napas pelan, Arnita menyikapi keadaan sekarang dengan kelewat santai. Ia melangkah mendekat, menyimpan kedua tangannya di saku celana kulot cokelat muda yang kali ini membuat penampilannya sangat santai.


“Buang-buang uang kalau sampai beneran tes DNA. Apalagi kalau Mas Restu tahu, Mas Restu pasti enggak terima. Yang ada Mas Restu malah nga-muk.” Arnita mendapati keterkejutan yang begitu nyata dari si wanita ketika kedua mata tajam mirip Restu itu, menatap wajah Devano. Apalagi tak lama setelah itu, Devano bangun dan langsung menatapnya dengan tatapan dingin. Tatapan dingin yang membuat bocah berwajah tampan itu terlihat keji. Persis seperti Restu, bahkan wanita di sebelah Arnita yang dikata pak Lukman bernama ibu Rembulan, mamah dari Restu.


Ibu Rembulan tampak syok, lemas, dan perlahan menghampiri Devano.


“Kau siapa? Berani-beraninya membuat keributan di sini,” sinis Devano.


Apa yang Devano lakulan sukses membuat bocah itu terlihat makin keji. Devano menatap marah ibu Rembulan yang sampai bocah itu usir.


“Om Lukman, aku enggak mau lihat wanita tua ini marah-marah ke Mamah!” ucap Devano mengulang permintaannya.


Arnita tetap bersikap santai bahkan walau ibu Rembulan memang mamah Restu. Tak semata karena begitulah sikap dan watak Devano. Melainkan, ibu Rembulan yang lebih dulu membuat gara-gara. Tentunya, Arnita yang sekarang bukan Arnita yang dulu. Arnita yang sekarang paling anti ditindas. Terlebih setelah perjuangan yang membuat wanita itu di titik sekarang. Bukan bermaksud sombong, tapi karena Arnita memang telanjur muak dipandang sebelah mata bahkan diinjak.


Ditambah kini Arnita memiliki Restu, Arnita tidak takut pada apa pun. Bahkan itu pada mamah mertua yang kerap membuat kebanyakan kehidupan menantu wanita, jungkir balik. Cukup Mia yang membuatnya kecolongan, tidak dengan ibu Rembulan.


Plaaaaak!


Hanta-man keras yang ibu Rembulan lakukan menggunakan tas jinjing nan mahalnya kepada tubuh Arnita, langsung membuat Devano berteriak. Devano mengusir ibu Rembulan yang bocah itu panggil wanita tua. Lain dengan Arnita yang sempat sempoyongan karena hanta-man ibu Rembulan. Tanpa bersuara, Arnita buru-buru melangkah menghampiri sang putra.


Pak Lukman menjadi serba salah. Sebab dirinya yang mengamankan ibu Rembulan juga turut wanita itu ammuk menggunakan tas mahalnya.

__ADS_1


Melangkah cepat, ibu Rembulan juga menghampiri Devano yang sudah digenggam sebelah tangannya oleh Arnita. Arnita menggunakan kedua tangannya untuk melakukannya.


“Bisa-bisanya kamu membuat anakmu babak belur begini! Itu tangan dua-duanya sampai diperban!” ibu Rembulan benar-benar emosi.


Arnita menatap ibu Rembulan. “Salahkan anak perempuan Ibu yang dengan enggak mikirnya membuang-buang waktu orang. Karena andai dia mikir dan lebih bertanggung jawab, Vano pasti enggak seperti sekarang. Penjahat itu pasti enggak ada kesempatan buat celakain Vano!” tegasnya dan si ibu Rembulan langsung kebingungan.


“Fiola, artis yang sedang naik daun dan dikata mas Restu merupakan anak Ibu, dia yang menjadi awal mula ini terjadi!” lanjut Arnita lantaran ibu Rembulan hanya kebingungan.


Namun tak lama kemudian, ibu Rembulan menjauh, menuju jendela seberang kemudian menghubungi seseorang menggunakan ponsel pintarnya.


“Ke sini, kamu! Cepat ke sini jangan banyak tanya!”


Ibu Rembulan sampai teriak-teriak dan tampak sangat emosional. Arnita tidak tahu siapa yang ibu Rembulan hubungi, tapi sekitar lima belas menit kemudian, ada yang datang dan itu Fiola.


Ibu Rembulan yang awalnya berdiri di sebelah Arnita walau mereka tak terlibat obrolan, meski keduanya kompak menjadikan Devano sebagai pusat perhatian, langsung menghampiri Fiola. Menggunakan tas mahal berwarna hitamnya, ia meng-hajar sang putri tanpa ampun, meski Fiola sudah sibuk memohon ampun.


“Sudah, pergi sana!” usir ibu Rembulan yang sampai terengah-engah, setelah ia puas mengha-jar Fiola.


Fiola yang awalnya necis, langsung berantakan. Bahkan di pipi kirinya sampai ada lebam sekaligus baret.


“Mamah ini apa-apaan, sih? Sakit banget tahu!” keluh Fiola sembari memegangi pipi kirinya yang terasa paling sakit.


“Sakit?” lirih ibu Rembulan memastikan dan memang masih geram. “Sakitan mana dengan anak kakakmu? Lihat itu di ranjang rawat!” tegasnya.


Bukannya menatap yang di ranjang rawat, Fiola malah menatap kesal Arnita. “Apa?!” bentaknya pada Arnita yang malah menatapnya dengan tatapan datar.


Namun, dari samping belakang, sang mamah kembali menghadiahinya hanta-man keras menggunakan tas.


“Ih, Mamah, apaan sih? Enggak bisa diem banget!” protes Fiola.

__ADS_1


“Kalau mau ribut jangan di sini. Kasihan Vano, enggak sepantasnya Vano melihat atau pun mendengar apa yang kalian lakukan. Aku teleponin Mas Restu deh.” Arnita sungguh menelepon Restu. Sambungan telepon yang langsung mendapat balasan. Kedua wanita di depan sana langsung ketar-ketir.


“Usir saja mereka kalau mereka enggak bisa diam. Suruh pak Lukman buat panggil satpam rumah sakit!” ucap Restu dari seberang dan langsung marah-marah.


Arnita sengaja mengeraskan penuh volume ponselnya, agar kedua wanita di sana mendengarnya.


“Tunggu di situ sampai aku datang! Nanti pukul delapan malam aku sampai!” lanjut Restu masih sangat emosional.


Melihat tanggapan ibu Rembulan maupun Fiola, Arnita yakin kedua wanita itu ketakutan. Bedanya, ketika Fiola mendadak memakai masker, kacamata hitam tebal, dan juga topi seolah sengaja melakukan penyamaran, kemudian wanita itu pergi dengan langkah tergesa khas orang sangat kesal, ibu Rembulan memilih tinggal.


Ibu Rembulan menaruh asal tas mahalnya yang menjadi agak ru-sak, di sofa seberang Arnita berdiri. Ibu Rembulan langsung berusaha melakukan pendekatan kepada Devano, tapi Devano menolak.


“Ini Oma, loh.”


“Bukan, kamu bukan oma aku!”


Kesal, ibu Rembulan menatap tegas Arnita yang masih terjaga di sebelah Devano. Arnita masih duduk agak membungkuk sambil terus menggenggam tangan kanan Devano menggunakan kedua tangan.


“Kamu ini gimana, sih? Ajarin anak yang bener kenapa?” omel ibu Rembulan.


“Sudah, Bu. Tapi memang Devano enggak mau apalagi kalau Ibu terus marah-marah,” jelas Arnita berusaha sesabar mungkin.


Detik itu juga ibu Rembulan langsung diam.


“Ibu istirahat dulu deh. Tenangkan diri Ibu, makan apa minum apa? Itu di kulkas ada smoothie,” lanjut Arnita berusaha bersikap sehangat mungkin meski sebelumnya, mereka belum kenal bahkan sekadar melihat foto satu sama lain.


“Ya sudah deh, Oma mau minum smoothie dulu. Vano mau Oma suapin?” ucap ibu Rembulan sambil melangkah loyo menuju kulkas.


Bukannya menjawab, Devano malah menatap sang mamah. Wanita cantik itu memberinya senyum hangat, tapi ia membalasnya dengan sangat datar, selain ia yang kemudian menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2