
“Mah, ... aman? Kamu enggak pusing sama lemas lagi, kan?” Restu berseru dari pintu dapur. Di dalam sana, sang istri sudah sibuk masak walau kini masih pagi. Belum ada pukul tujuh pagi, tapi karena ia berdalih lapar dan ingin makan nasi, istrinya itu langsung bangun masak untuknya.
Arnita yang memasak sendiri karena bi Ade tengah mencuci pakaian di ruang sebelah dapur, segera menoleh kemudian mengurai senyum. “Kopinya sudah ada di meja depan. Mas bilang bentar lagi sudah harus meeting online? Ada singkong keju goreng juga buat sarapan tadi bi Ade yang bikin. Enak banget Mas singkong kejunya. Aku sampai kekenyangan.” Ia terus menatap Restu yang perlahan memang menghampirinya.
“Baguslah biar kamu gendut!” ucap Restu yang kemudian menertawakan sang istri.
“Bahagia banget pokoknya yah kalau istrinya gendut,” balas Arnita sambil mengaduk nasi goreng di wajan yang api kompornya baru saja ia matikan.
“Nasi goreng? Kalau sudah ada singkong, ngapain bikin nasi goreng? Kalau gitu masak sayurnya nanti saja, nasi goreng sudah cukup sih,” ucap Restu.
“Bos kecil. Jam segini sudah beres susun lego jadi jembatan London. Katanya capek dan minta nasi goreng wajib mamah yang bikin,” ucap Arnita yang kemudian mengambil satu piring nasi gorengnya.
“Kirain buat aku,” ucap Restu terdengar sangat melas bahkan di telinganya sendiri. Arnita sampai menertawakannya.
“Mas sendiri yang ingin punya banyak anak, tapi Mas juga yang sering tantrum cemburu ke anak sendiri. Gimana Devano enggak langganan tantrum, kalau papahnya saja berbakat tantrum?” balas Arnita.
“Ya sudah sekalian suapin aku. Kayaknya ini aku lagi ngidam, bawaan jabang bayi pengin dimanja terus sama kamu!” ucap Restu meyakinkan, tapi malah menjadi bahan tertawaan oleh sang istri.
“Ya ampun, Mas! Aku sampai enggak bisa berkata-kata.”
“Mah, ih ... beneran ngidam, ini!”
“Iya, iya ... bentar, ambil piring yang lebih gede.”
“Sudah bawa saja sama wajannya. Makan langsung dari wajah.”
“Enggak boleh gitu dong, Mas. Nanti Devano ikut-ikutan, enggak baik buat ke depannya.” Arnita juga sengaja meminta Restu mengambil satu botol air mineral dari tengah-tengah meja makan untuk mereka minum. “Sarapan di teras depan saja yah, Mas. Udaranya seger banget di depan.”
“Ya sudah, aku kerjanya juga di teras saja,” balas Restu yang tak hanya membawa satu botol air mineral berukuran besar karena ia juga sampai membawa dua buah gelas.
__ADS_1
“Ibu, maaf ... ini tadi ada surat buat pak Restu, tapi katanya suruh dikasihnya ke ibu. Dia bilang, Ibu sudah tahu,” ucap pak Slamet yang memang memberikan amplop warna ungu muda kepada Arnita.
“Siapa yang kasih, Pak?” tanya Arnita yang memang baru meletakan sepiring besar berisi nasi goreng di meja bundar yang menghiasi teras depan rumah. Ia langsung mengernyit, menatap serius amplop tersebut. Hatinya langsung berdebar, menahan ngilu yang sampai membuatnya meringis sakit.
Pak Slamet yang akan langsung undur untuk lanjut mencuci mobil, tak jadi balik badan. “Tadi sih wanita yang antar, Bu. Dia berhijab.”
Detik itu juga Arnita langsung mengangguk-angguk paham. “Ya sudah, Pak. Makasih banyak, ya. Nanti kalau orangnya datang lagi, suruh masuk saja. Suruh masuk, dikasih minum, tapi pintu ke dalam dikunci. Paling itu Azelia.”
Walau tidak begitu paham dengan Azelia yang dimaksud, pak Slamet segera mengangguk paham.
“Contoh manusia enggak tahu diri ya kayak Azelia ini,” batin Arnita yang kemudian menyimpan amplop yang dimaksud, di laci meja bundar di sebelahnya.
Arnita tidak mau ceroboh apalagi bodoh. Ia paham betapa bencinya sang suami kepada Azelia. Tentunya, ia tidak mau hanya karena perkara surat yang dari cara memberikannya saja sudah sangat disengaja untuk menghancurkan hubungannya dan Restu, apa yang Azelia harapkan itu malah menjadi kenyataan.
“Mamah!” seru Devano yang baru keluar dari dalam rumah sambil membawa lego yang dibentuk menyerupai rumah. Seruan yang bertepatan dengan tertutupnya laci.
“Mamah, aku bikin ini, buat Mamah!” ucap Devano.
“Wah ... bagus banget, Kak. Sini, taruh meja buat hiasan di sini. Sekarang lego, nanti kalau Kakak sudah besar, Kakak tinggal bikin rumah beneran, ya!” seru Arnita bangga sekaligus girang.
“Nah gitu, Kakak kasih Mamah rumah karena Papah saja mau kasih Mamah butik!” ucap Restu sengaja bikin gara-gara. Lihatlah, putranya langsung meliriknya dengan sinis.
“Mamah pilih rumah lego dari aku apa butik dari Papah?” tanya Devano.
Mendengar itu, Arnita langsung panik takut Restu asal jawab.
“Dua-duanya lah, Mamah kan sayang Kakak sama Papah. Ya dua-duanya,” ucap Restu berangsur menaruh laptopnya di meja.
Arnita merasa sangat lega, walau kelegaannya juga hanya berlangsung sementara lantaran sang suami berkata, “Tapi banyakan ke Papah sih.”
__ADS_1
“Ih Papah! Banyakan apanya?” Devano langsung sewot.
“Papah ...,” tegur Arnita yang kemudian berkata, “Masih pagi, loh.”
Restu balas menatap Arnita. “Banyakan makan nasi gorengnya, kan mulut Papah besar, Mamah.” Ia bertutur sangat sabar.
“Dasar Papah si mulut besar!” sergah Devano.
“Nah, senjata makan Tuan!” balas Arnita. Ia berangsur duduk dan Devano juga langsung dipangku oleh Restu.
“Kemari, ... Papah ajarin Kakak pakai laptop,” ucap Restu sambil praktik dan memang langsung disimak oleh Devano yang sangat ingin banyak tahu. Malahan karena misinya mengajari Devano mengoperasikan laptop, bocah itu langsung anteng dan mereka otomatis akur.
“Lihat, Li. Kamu beneran harus lihat ini. Karena cinta sejati enggak harus bikin kita sibuk mencari kemudian menemukannya di orang yang menurut kita tepat. Cinta sejati tentu pasangan yang kita jaga, kita cintai, lalu kita sama-sama membangun sempurna karena hanya dengan begitu sebuah hubungan terasa istimewa. Bukan malah sibuk menjadi penjajah cinta seperti kamu yang malah bikin kamu susah sendiri,” batin Arnita sambil mengasuh kedua bayinya. Bayi kecil yaitu Devano, sementara Restu bayi tua.
“Sekarang kamu nyesal, kan, sudah menyia-nyiakan mas Restu? Padahal dulu Mas Restu sudah berulang kali kasih kamu kesempatan karena masa lalu Mas Restu yang pernah jadi korban broken home, bikin Mas Restu berusaha mencegah itu menimpa orang lain termasuk kamu maupun calon anak kalian andai kamu juga sampai hamil,” batin Arnita lagi dan sekarang kembali menyuapi Restu. Suaminya itu kemudian mengingatkannya untuk makan juga.
“Dan sekarang aku beneran enggak habis pikir sama kamu, apa maksud kamu sengaja ngerecokin hubunganku dan Mas Restu, padahal kamu saja masih berstatus sebagai istri Ken? Apa memang yang namanya selingkuh sama enggak bersyukur, sudah jadi penyakit tetap kamu? Harusnya setelah apa yang terjadi, ... harusnya kamu jauh lebih belajar dan jauh jadi manusia yang lebih baik lagi loh. Eh ini malah ... sengaja banget ngibarin bendera perang!” batin Arnita yang menjadi terusik oleh perbincangan Restu dan Devano. Restu menawari Devano sunat.
“Mumpung di kampung dan kayaknya Mamah masih pengin lama di sini karena sekarang kalau naik mobil, Mamah jadi pusing,” ucap Restu.
“Sunat itu dipotong anunya biar habis apa enggak ada, gitu, Pah?” tanya Devano serius sambil terus mengunyah nasi goreng di dalam mulutnya.
Walau sempat tercengang, pertanyaan Devano barusan juga sukses membuat Arnita tertawa. Arnita sampai lupa dengan bendera perang yang Azelia layangkan. Malahan kalau bisa, Arnita sangat berharap Azelia melihat kebahagiaan keluarga kecilnya.
“Ya enggak sampai habis, Kaka,” ucap Restu.
“Kalau enggak sampai habis, ngapain dipotong?” balas Devano sewot.
Padahal di luar sana, di dalam rumah tetangga yang ada di depan rumah Arnita, Azelia juga tengah mengintip. Wanita itu mendengkus sebal dari kaca jendela karena iri.
__ADS_1