Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
47 : Kecolongan


__ADS_3

“Tolong beri Mas Restu kesempatan, Mah. Karena Mas Restu masih mau mengurus dan mengabdi ke Mamah saja, ini sudah sangat luar biasa,” lirih Arnita ketika mengantar sang mamah mertua hingga depan pintu ruang rawat Devano berada.


Untuk pertama kalinya Arnita memanggil ibu Rembulan dengan sebutan mamah. “Bukan hanya Fiola yang kasihan, tapi juga Mas Restu, Mah. Fiola begitu karena ulahnya. Fiola begitu karena didikan orang tuanya yang salah, kalian terlalu memanjakannya. Nah Mas Restu? Mas Restu korban keegoisan orang tuanya dan memang kejji banget.” Arnita masih berucap lirih.


“Kasihan. Pantas Mas Restu trauma banget. Untung Mas Restu enggak sampai jadi predator kejahatan gara-gara keegoisan kalian!” lanjut Arnita.


Tanpa peduli siapa lawan bicaranya, Arnita tetap mengecam perlakuan orang tua Restu yang sudah sangat mengorbankan Restu. Malahan Arnita berpikir, alasan ibu Rembulan tidak membalas dan sekadar menatapnya saja terkesan tidak berani karena wanita itu memang sadar, dirinya salah. Ibu Rembulan menyesali kenyataannya yang telah mengorbankan Restu. Pantas juga jika Restu sampai kerap Arnita pergoki waswas dan memang tidak ikhlas, di setiap ibu Rembulan dekat-dekat Devano.


***


Meninggalkan luka-luka bahkan trauma mereka yang menjadi korban keegoisan orang tua, Arnita dan Restu masih menjalankan peran mereka dengan baik. Mereka masih menjadi pasangan baik, orang tua baik untuk Devano, dan juga rekan kerja yang baik. Malahan, keduanya menjadi belajar dari masa lalu mereka yang telah menjadi korban orang tua. Mereka berkomitmen untuk menjadi orang tua terbaik untuk Devano, maupun anak-anak mereka yang lain.


Acara pemotretan tengah berlangsung. Arnita ada di sana, menjadi bagian dari tim yang kadang turut serta mengarahkan gaya, atau sekadar mengawasi dari balik kamera.


“Ini benar-benar pemotretan pertama murni hasil dari desain-desainku. Semoga laris. Deg-degan juga sih!” batin Arnita. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh karena menahan tegang.


Di sebelah Arnita, Miss Tania mendadak menjelma menjadi pedangan asongan yang sibuk menawarkan minuman sekaligus makanan kepada Arnita. Malahan setelah semua tawaran di tolak, Miss Tania yang Arnita yakini tengah berusaha mencuri hatinya, menjadi menawarinya tisu dan tempat duduk.


Dalam hatinya, Arnita berkata, “Makanya jangan kejam-kejam kalau jadi orang. Jangan punya banyak wajah juga biar enggak bingung mau pakai wajah yang mana.”


Kehadiran Restu dan petinggi penting lainnya, termasuk papahnya Fiola, makin membuat Miss Tania ketar-ketir. Mereka turut mengontrol jalannya pemotretan. Yang paling mencolok, papah Fiola yang masih sangat disegani lantaran mantan CEO itu telah naik jabatan menjadi presiden direktur, langsung menatap Arnita dengan tatapan sinis. Arnita berpikir, kenyataan tersebut terjadi, alasan Restu bersikukuh mengganti Fiola dengan runner-up ajang pencarian bakat yang Fiola ikuti, juga karena Arnita.

__ADS_1


“Asli sih, Tiara keren banget! Ke semua orang termasuk kru sampingan yang kalau menurut Fiola enggak selevel sama dia, Tiara sopan banget!” batin Arnita yang tersenyum bangga sambil bersedekap mengawasi setiap peragaan busana di balik kamera kameramen.


Tak di sana, Restu yang ada di sebelah Arnita bersama rombongan yang dibawa, dan jumlahnya ada enam orang, sampai memijat-mijat pundak Arnita.


“Mas, ih ...,” lirih Arnita sambil menatap Restu. Ia menatap senyumnya, tapi pria itu mendekapnya dari samping. Pemandangan yang makin membuat Miss Tania ketar-ketir. Di seberang sana, Miss Tania tak hentinya menatap gelisah kebersamaan Restu dan Arnita.


“Mas, kalau bukan kekuatan orang tua Fiola, harusnya Tiara juara satu ya, Mas?” bisik Arnita pada Restu yang masih mendekapnya dari samping.


Layaknya Arnita yang fokus melihat peragaan busana di hadapan mereka, Restu berbisik, “Bukan juara satu pun, Tiara sudah menjadi juara satu di hati penggemarnya.”


“Iya, tapi menurutku, ini juga kejam.” Arnita masih berbisik.


“Enggak ada usaha yang mengkhianati hasil, Sayang. Kalaupun enggak dapat jadi gelar juara satu, dia pasti akan mendapat rezeki dari tempat lain!” yakin Restu masih berbisik-bisik.


“Mas ...?” lirih Arnita memberi Restu peringatan.


Restu menggeleng santai. “Enggak apa-apa. Kita lagi kerja santai, kok. Biar enggak tegang banget.” Ia masih berbicara berbisik-bisik.


Arnita menahan tawanya. “Memangnya apa bedanya, kerja santai sama kerja yang enggak santai? Yang harus kita lakukan, profesional, kan?”


“Yang penting kamu enggak kayak Miss Tania. Sumpah, aku kasihan lihatnya. Kok jadi mirip pedagang asongan gitu,” bisik Restu.

__ADS_1


Mendengar itu, Arnita tidak bisa untuk tidak tertawa. Susah payah ia melakukannya lantaran di sana masih banyak orang. Termasuk Mario yang kembali datang, tapi sepanjang kebersamaan dari awal, pria itu sangat pendiam. Seolah ada masalah besar yang sengaja dipendam.


“Kasihan sih Mas Mario. Setelah cintanya terhalang kasta, Mia juga yang lebih dulu pacaran, tunangan, bahkan dalam waktu dekat akan menikah, masih dia juga yang disalahkan. Kalau sudah begini, harusnya ke depannya orang tua lebih care sekaligus tanggung jawab ke anak. Enggak asal larang tanpa kasih arahan sama pendekatan khusus,” batin Arnita yang jujur saja merasa sangat kasihan kepada Mario. Dalam hatinya ia hanya bisa berharap, Mario mendapatkan jodoh tepat. Jodoh yang mampu mencintainya tanpa ada kendala kasta lagi. Sebab meski di dunia ini yang Mario miliki hanya orang tua angkat, pria itu tetap menjalankan perannya sebagai seorang anak dengan sangat baik. Termasuk dalam urusan pekerjaan, Mario juga tipikal yang sangat gigih.


Sore menjelang petang, acara pemotretan selesai. Sementara keesokan harinya, pemasaran besar-besaran dilakukan. Baik yang secara offline maupun online. Semua pemasaran langsung dipantau oleh perusahaan secara online. Arnita sudah sangat harap-harap cemas karena biar bagaimanapun, ia menjadi orang paling tanggung jawab untuk hasil dari karyanya. Termasuk itu Miss Tania, Mario, bahkan sekelas Restu.


Restu mendatangi ruang kerja Arnita dan menemukan wanita itu tengah menatap serius layar laptopnya. Pemandangan yang sudah langsung menambah kekhawatiran Restu di tambah ekspresi Arnita juga sangat tegang.


“Biarkan aku membeli sebagian stok di luar!” sergah Restu serius.


Arnita yang terusik, langsung menggeleng sambil menatap suara Restu yang memang langsung ia kenali. “Jangan, Mas. Jangan. Biar semuanya berjalan dengan semestinya.”


“Hal semacam ini sudah terbiasa terjadi, Sayang!” Restu meyakinkan dengan nada yang terdengar emosional.


Alasan yang membuat Arnita yakin, memang ada yang tidak beres, genting, bahkan ... fatal. Ia membiarkan Restu merapatkan jarak wajah mereka. Pria itu menggunakan kedua tangan untuk mengungkungnya. Satu tangan di pinggir meja, satu lagi di tempat duduk Arnita. Jarak wajah mereka tak kurang dari satu jengkal.


“Ada yang lebih gawat dari ini!” tegas Restu. Mata tajamnya perlahan tampak basah sekaligus merah.


“M-maksud, Mas?” balas Arnita yang sekadar bernapas saja, sudah berasa susah bahkan salah.


“Produk blazermu yang sedang digarap masal, dan penggarapannya baru saja beres, ... sudah beredar luas di pasaran. Semua tiruan sudah sangat laris karena dijual dengan harga yang jauh lebih murah dari calon produk kita!” balas Restu.

__ADS_1


Restu memang masih berucap lirih, tapi kenyataan itu sudah langsung membuat langit kehidupan Arnita runtuh.


Kenapa bisa begitu? Kenapa sudah sampai beredar luas di pasaran sedangkan Arnita yakin, proyeknya itu sangat rahasia?


__ADS_2