Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
35 : Papah


__ADS_3

Terpikir oleh Arnita, jangan-jangan, alasan sang putra menjadi pribadi dingin sekaligus arogan, juga karena disengaja? Maksudnya, Devano telah menyerap banyak informasi yang tak seharusnya putranya itu ketahui? Terbukti, Devano juga sampai mengetahui perkara kartu keluarga Arnita yang memang hanya berisi Arnita dan Devano, menjadikan Arnita sebagai orang tua tunggal bocah itu hingga Devano berdalih, dirinya tidak memiliki papah.


Beberapa saat kemudian, langkah tergesa Restu mendekat, menghentikan renungan Arnita. Dalam sekejap, pria itu menjadi bagian dari kebersamaan Arnita dan Devano. Tangan kanan Restu merangkul kepala Arnita, menyandarkannya ke pinggang kanannya. Sementara tangan kiri membingkai wajah kanan Devano. Restu berpamitan dan akan meninggalkan mereka karena pria itu memang sangat sibuk.


“Pihak kepolisian sudah langsung menyelidiki CCTV dan mereka sudah mengamankan Mia.” Restu berbisik-bisik kepada Arnita karena pria itu tak mau sang putra mendengar obrolan yang tak sepantasnya. Apalagi jika dilihat,  Devano putra mereka tipikal yang sangat cerdas sekaligus kritis.


“Papah benar-benar akan kembali, kan?” Devano menatap tajam Restu.


Papah, akhirnya Devano memanggil Restu dengan sebutan itu. Tak hanya Restu yang langsung terbengong-bengok tak percaya menatap Devano. Karena hal tak kalah mengejutkan juga menjadi tanggapan Arnita kepada sang putra. Keduanya kompak tersenyum bahagia memandangi wajah Devano.


Kini, Restu menatap yakin sang putra tanpa sedikit pun keraguan. “Kalau kamu butuh Papah, kamu bisa meminta Mamah untuk menghubungi Papah. Papah pasti akan langsung menjawab. Bahkan jika memang mendesak, Papah akan langsung datang.”


Kemudian, Restu langsung meminta ponsel Arnita. Melalui ponsel pintar milik Arnita, ia menghubungi nomor ponsel miliknya. Setelah terhubung dan membuat ponselnya berdering, Restu mengembalikan ponselnya kepada Arnita.


“Mungkin Papah akan pulang telat karena banyak banget yang harus Papah urus, tapi Papah usahakan sebelum pukul sembilan malam, Papah sudah sampai di sini.” Restu masih meyakinkan sang putra.


“Aku tidak akan tidur sebelum Papah kembali dan menepati janji,” ucap Devano sengaja mengancam. Ia bahkan menatap Restu melalui lirikan keji.

__ADS_1


Mendapat tanggapan tersebut, Restu refleks menoleh, menatap Arnita yang kemudian juga menatapnya sambil tersenyum sungkan. Melalui senyumnya itu, Arnita ingin berkata, “Begitulah putramu, sangat mirip denganmu. Kalian ibarat pinang dibelah dua.”


“M-mas ... aku butuh blender, aneka buah, oat, madu, dan semua bahan buat bikin smoothie. Karena ketimbang jus biasa, Vano jauh lebih suka smoothie. Semacam makan lain pun, Vano terbilang kurang suka,” ucap Arnita sungkan. Walau paham Restu tidak akan pernah merasa keberatan apalagi terbebani dengan permintaannya, rasanya Arnita masih sangat canggung apalagi mereka baru bertemu setelah lima tahun terpisah.


Mendengar apa yang Arnita katakan, Restu langsung tersenyum bangga seiring ia yang kembali membingkai wajah Devano dan kali ini menggunakan kedua tangannya. “Kita sangat mirip. Karena daripada jus biasa, Papah juga lebih suka smoothie. Ya sudah, Papah belanja bentar ke market terdekat, biar Mamah juga bisa full jagain kamu!”


Sekitar satu jam kemudian, Arnita sudah langsung sibuk menyiapkan smoothie stroberi, pisang, bluberi, dan juga bahan lainnya. Sedangkan di sebelahnya, Restu mencuci gelas untuk smoothie yang turut pria itu beli. Ada 4 gelas kaca bertutup yang Restu beli.


“Kok Mas sampai beli empat gelas? Dua saja juga cukup,” ucap Arnita.


“Duanya buat aku, biar nanti disimpan di kulkas ruang kerjaku,” ucap Restu yang refleks tersenyum tak berdosa sambil menatap Arnita. Senyum yang menjadi senyum pertama dalam kebersamaan mereka setelah lima tahun lamanya terpisah. Juga, senyum pertama di tengah kebersamaan mereka yang malah dibuka dengan musibah.


Tak butuh lama, Arnita sudah menghasilkan smoothie dengan warna yang begitu cantik. Jatah untuk Restu langsung Arnita masukkan ke dalam salah satu koleksi kantong jinjing berukuran sedang, miliknya. Tampak Restu yang masih menemani Devano. Pria itu sampai agak meringkuk di atas kepala Devano. Seolah berbicara melalui hati, obrolan keduanya juga berlangsung sangat lirih.


Restu meninggalkan sang sopir yang juga merangkap sebagai ajudan, untuk membantu Arnita. Pria bertubuh tinggi itu sengaja Restu tinggal di depan pintu ruang rawat Devano. Arnita sudah langsung berkenalan lantaran wanita itu mengantar Restu hingga lift di sebelah ruang rawat Devano. Adegan yang mengingatkan Restu ke masa lalu mereka. Bakti Arnita sebagai seorang istri tak pernah pudar walau waktu telah menggerus hubungan mereka.


Bagi Arnita, adanya Restu membuat semuanya terasa mudah tanpa kendala berarti. Walau ketika Devano kesakitan, Arnita juga akan turut merasa ngilu. Tak jarang, meski susah payah menahan kesedihan sekaligus air matanya, melihat Devano kembali gemetaran mirip menggigil kejang, Arnita tak kuasa tenang apalagi baik-baik saja.

__ADS_1


“Jadi, apa alasanmu setega ini, Mi? Lihat, Devano kesakitan begini!” Dalam hatinya, Arnita meraung-raung mengutuk ulah Mia yang di rekaman video CCTV kiriman Restu, dengan sengaja mendorong Devano di tangga darurat.


Arnita tak terima karena putranya dibuat kesakitan layaknya sekarang. Seorang dokter dan seorang perawat yang langsung siaga datang setelah Arnita menekan nurse call, tampak tak tega melihat Devano. Arnita sampai nekat menelepon Restu, meminta pria itu untuk datang sekaligus ada di sana. Arnita yang tidak bisa mengontrol emosinya melakukannya sambil marah-marah.


Yang Arnita butuhkan hanya Restu karena nama pria itu juga yang terus dipanggil sang putra. Walau Mario sudah berulang kali menghubungi baik melalui pesan maupun telepon, memberikan perhatiannya kepada Devano maupun Arnita, kenyataan tersebut tidak mengubah kekalutan Arnita.


“Udah enggak sesakit tadi, kan?” lirih Arnita dan suaranya terdengar sengau, selain kedua matanya yang sangat sembam.


Kedatangan pak Lukman selaku sopir sekaligus ajudan yang Restu tinggal, seolah menjadi angin segar untuk Arnita maupun Devano yang sudah jauh bisa tenang.


“Sebentar lagi pak Restu datang. Namun jika memang ada yang bisa saya kerjakan, saya akan mengerjakan segera mungkin, Bu!” ucap pak Lukman sangat santun.


Arnita yang awalnya agak mengungkung tubuh sang putra menggunakan kedua tangannya, berangsur menatap pak Lukman. Arnita menggeleng kemudian menolak secara halus.


“Enggak ada, Pak. Tunggu pak Restu saja. Sebentar lagi, pak Restu datang, kan?” balas Arnita berusaha sabar. Ia sampai menengadah hanya untuk menatap pak Lukman. Sementara di kedua tangannya, tangan kiri Devano, ia genggam dengan hangat sekaligus hati-hati. Ia menciumii tangan tersebut, menuangkan perhatian sekaligus kasih sayangnya.


Baru dibicarakan, Restu sudah muncul. Pria itu datang dengan agak berlari. Napasnya sampai ngos-ngosan, penampilan berantakan, terlepas dari pria itu yang sampai berkeringat.

__ADS_1


“Heiiii ....” Restu memutari ranjang rawat dan berdiri di seberang keberadaan Arnita. Ia langsung mendekap kepala Devano, menempelkan wajahnya di sebelah wajah sang putra penuh sayang. Pemandangan yang malah membuat Arnita merasa makin sesak saja.


__ADS_2