Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
57 : Hujan Petir


__ADS_3

“Sekali saja, tolong berguna untuk Arnita, Pak!” Restu menatap sang bapak mertua dengan mata yang sudah basah. Pandangannya menjadi tidak jelas karenanya. “Tolong ceraikan wanita ibblis itu, dan jangan memberi mereka sepeser pun uang apalagi warisan. Hanya itu! Hanya itu yang bisa mengobati luka-luka Arnita maupun almarhumah mamahnya!”


Permintaan yang benar-benar berat, pak Iman sampai tak bisa berpikir.


“Besok juga, Bapak harus melakukannya!” tuntut Restu.


Pak Iman sadar, dirinya sudah terlalu jahat kepada Arnita dan juga almarhumah istri pertamanya. Ia sungguh tidak memiliki keputusan lain agar ia bisa adil. Mengangguk, ia menyanggupi. “Jika ini satu-satunya cara untuk menebus kesalahan Bapak, baiklah. Besok pagi juga, Bapak akan melakukannya.”


“Jual rumah dan tanah Bapak. Setelah itu, Bapak langsung tinggal di sini. Biarkan wanita ibllis itu mencari kehidupan sendiri tanpa bantuan Bapak sepeser pun. Biarkan mereka merasakan apa yang selama ini mereka lakukan kepada Arnita dan mamaknya!” balas Restu masih menuntut keadilan untuk Arnita beserta almarhumah mamah mertuanya.


Pak Iman mengangguk-angguk berat karena sekadar melakukan itu saja, ia menjadi kesulitan melakukannya. Namun sekali lagi, ia tidak memiliki cara lain untuk bersikap adil selain menjalani apa yang Restu minta. Apa yang akan dilakukan memang telat, tapi daripada ia sama sekali tidak melakukannya. Kasihan Arnita.


Setelah pamit, Restu langsung masuk ke kamarnya. Arnita baru saja keluar dari kamar mandi dan sampai sudah ganti pakaian. Istrinya itu sudah memakai gaun malam transparan warna merah sambil mengeringkan wajah dan sekitar lehernya yang tampak agak basah.


“Sampai mandi?” tanya Restu basa-basi setelah ia mengunci pintu kamar mereka.


Arnita yang cemberut manja, berangsur mengangguk-angguk. “Bau minyak sama ikannya kuat banget. Tadinya mau sampai keramas lagi, tapi dingin banget. Apalagi di luar juga masih hujan.” Di hadapannya, Restu yang menyimaknya sambil terus menatapnya penuh senyum, berangsur memeluknya.


“Makasih banyak buat semuanya, Mas!” lirih Arnita sambil balas memeluk pelukan sang suami.


Seruan angin yang terdengar sangat jelas mengiringi hujan kali ini, membuat Arnita waswas. Suaranya terdengar ngeri dan Arnita refleks bergidik.


“Anginnya kenceng banget!” lirih Arnita sambil menengadah hanya untuk menatap wajah sang suami.

__ADS_1


“Rumah ini aman. Sudah aku renovasi total,” yakin Restu.


“Bukan gitu. Aku khawatir ke Vano. Sekarang, Mas tolong ambil Vano, ya. Malam ini biar Vano tidur bareng kita dulu. Enggak tega rasanya ada angin sekenceng ini, tapi dia tidur sendiri.” Arnita berbicara lirih sekaligus cepat. “Aku pakai baju dulu!” Kali ini ia tersenyum tak berdosa sembari meloloskan diri dari dekapan sang suami. Kendati demikian, tangan kanan suaminya dengan jail menabokk panttatnya.


“Jadi, malam ini libur?” tanya Restu mendadak melow menatap sedih Arnita yang sedang mengambil pakaian di koper yang tergeletak di lantai sebelah lemari.


Barang-barang di koper belum sampai disusun, termasuk pakaian. Jadi kalau mau ambil keperluan mereka, langsung mengambilnya dari sana.


“Libur? Enggak, asli enggak libur jangan sekhawatir itu, Mas.” Arnita menahan tawanya. “Sudah sekarang Mas ambil Vano dulu,” yakin Arnita.


“Bentar, ih ... kamu saja belum pakai baju.” Restu bersedekap, merasa sangat betah melihat Arnita yang hanya mengenakan gaun malam transparan layaknya sekarang.


Arnita yang sadar tengah diawasi, langsung menatap Restu dan tak segan mengomel, walau ia melakukannya dengan suara lirih.


Arnita yang langsung menatap tak habis pikir sang suami, refleks terlonjak akibat petir yang menyambar dan sampai disertai gemuruh, benar-benar keras. Rumah mereka sampai bergetar. Beruntung, tanpa kembali diomeli apalagi diusir, Restu langsung pergi setelah pria itu juga menyebut nama sang putra.


Padahal di kamar, Devano tetap santuy, tidur di tengah suasana kamar yang remang. Selain itu, di waktu yang sama, pak Lukman yang awalnya Restu ketahu sudah ke belakang untuk istirahat, juga turut datang.


Beberapa saat kemudian, Restu sudah membopong Devano, sedangkan Arnita yang sudah memakai piama kimono, juga langsung menyusul. Tak lupa, Arnita memastikan keadaan sang bapak. Karena semarah apa pun dirinya kepada pria itu, Arnita tetap peduli. Status mereka benar-benar tidak bisa diubah apalagi dihapus. Karenanya, yang harus Arnita lakukan saat ini ialah pelan-pelan membuat sang bapak menjadi seperti yang ia mau.


“Sampai mati lampu biasanya ada yang korsleting, yah, Mas?” lirih Arnita yang masih mendekap Devano. Di kamar, mereka mengandalkan lampu senter ponsel mereka yang ditaruh di nakas sebagai sumber penerangan.


Restu yang mendekap Arnita karena pria itu memilih tidur di sebelah Arnita, mengangguk-angguk, membenarkan anggapan istrinya.

__ADS_1


“Efek petir yang keras banget mungkin. Ada saluran yang kena,” ucap Restu.


“Bisa jadi sih, Mas. Soalnya yang di depan rumah bapak, tabungnya juga sering kena,” balas Arnita.


“Apa aku lihat keluar, soalnya tadi juga kayak ada yang meledak?” tawar Restu.


“Jangan ih, Mas. Kan pak Lukman sama pak Slamet sudah cek juga. Lagian kalau hujan ada petir malam-malam sampai mati lampu kayak gini, aku takut banget,” balas Arnita sampai meraih, berpegangan pada sebelah tangan Restu yang mendekap tubuhnya.


Seperti yang Arnita dan Restu bahas, beberapa tabung di tiang listrik sekitar jalan sekaligus depan rumah warga, memang ada yang tersambar petir, dan salah satunya, tabung listrik yang ada di depan kediaman pak Iman. Kobaran api langsung menyambar kabel listrik menuju kediaman pak Iman. Di dalamnya, ibu Misya maupun Sita yang sudah tidur pulas di kamar terpisah, tetap anteng. Keduanya sama sekali tidak menyadari, bahwa kobaran api sudah perlahan melahap rumah gedong setengah permanen yang belasan tahun terakhir, menjadi tempat tinggal mereka.


“Hujan sama petirnya sudah berhenti, tapi aku masih deg-degan,” lirih Arnita yang berangsur balik badan kemudian memeluk Restu sangat erat.


“Alasan kamu deg-degan bukan karena hujan maupun petir. Karena alasan kamu deg-degan ya ... aku!” ucap Restu sengaja menahan tawanya dan memang menggoda istrinya.


Arnita yang tersipu berangsur mencubit gemas hidung Restu. Setelah mengakhiri ulahnya, Arnita menggantinya dengan memandangi kedua mata Restu penuh cinta. Di tengah suasana remang dari cahaya senter ponsel di nakas belakang Restu, Arnita berangsur mengecup lembut bibir bawah suaminya itu.


“Mas, demi Vano, ... dan juga demi kebaikan hubungan kita, kalau memang ada apa-apa, langsung bahas saja, ya?” lirih Arnita masih menatap lekat kedua mata Restu. “Kalau menurut Mas aku kurang apa, aku keterlaluan apa bagaimana? Mas cukup bilang saja, pasti nanti aku berubah. Cukup orang tua kita saja yang hubungannya enggak jelas, enggak dengan kita. Aku beneran ingin sama-sama hingga akhir. Aku ingin jadi pasangan terbaik. Aku ingin jadi orang tua baik. Aku ingin bisa jadi teman baik untuk Mas dan anak-anak kita.”


“Kita pasti bisa!” sergah Restu.


Jawaban yang juga langsung membuat Arnita tenang. Arnita yakin, mereka sungguh mampu apalagi mereka akan melakukannya bersama-sama. Walau di balik ketenangan sekaligus keyakinan itu, hati Arnita juga terenyuh hanya karena nasib hubungan orang tua mereka yang jauh dari kata baik dan malah membuat mereka menjadi korban. Hubungan yang menjadi trauma tersendiri hingga sebisa mungkin, Arnita berupaya agara anak-anaknya tidak pernah merasakannya.


Lalu, bagaimana kabar Sita dan juga ibu Misya yang tetap lelap tidur meski rumahnya sudah dilahap jago merah? Apakah ini bertanda Tuhan benar-benar marah pada keduanya yang telah dengan sengaja melukai Arnita dan juga almarhumah mamahnya?

__ADS_1


__ADS_2