Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
62 : Hamil Lagi Dan Makin Sayang


__ADS_3

“Kayaknya sih memang ada, coba cek pakai test pack dulu, ya,” ucap sang dokter yang sampai memeriksa perut Arnita menggunakan stetoskop.


Detik itu juga Restu nyengir seiring hati pria itu yang menjadi berbunga-bunga. Lain dengan Arnita yang malah menjadi deg-degan, tegang.


“Loh, ibunya jadi tegang. Deg-degan gini,” ucap sang dokter. Pria paruh baya berkulit putih itu kemudian menatap Restu yang berdiri siaga di sebelah ranjang pemeriksaan keberadaan Arnita. “Boleh hamil lagi kan, Pah?” tanyanya lembut, sengaja memberi kode.


“Boleh banget Dok. Kan memang lagi progam!” balas Restu semringah.


Sang dokter langsung tertawa. Lain dengan Arnita yang diam-diam mencubit gemas perut sang suami, tapi kenyataan tersebut malah membuat kebahagiaan seorang Restu kian membuncah. Apalagi ketika akhirnya test pack yang Arnita gunakan untuk mengecek tes kehamilan sampai dihiasi dua garis merah. Garis yang satu lagi memang masih baru samar, tapi perlahan makin jelas.


“Ih beneran yah, aku hamil lagi. Ini berarti langsung jadi gitu ya? Kayak pas Devano karena memang belum ada satu bulan. Alhamdullilah kalau gitu. Mas Restu sampai seseneng gitu!” batin Arnita. Ia sengaja menyimpan test pack-nya sebagai kenang-kenangan.


***


“Yakin, kuat buat turun?” tanya Restu memastikan.


Arnita mengangguk-angguk. “Cuma lihat-lihat, soalnya Vano masih betah. Bisa ngambek dia kalau langsung diajak pulang. Tapi anaknya di mana, ya?” ucap Arnita. Ia membiarkan Restu menuntunnya keluar dari mobil, dengan sangat hati-hati. Pria itu sampai membopongnya hanya karena tak mau ia menapakkan kaki di area tak rata.


Pak Slamet yang memang bersama mereka, langsung masuk ke dalam. Pria itu buru-buru kembali kemudian mengabarkan bahwa Devano tengah naik perahu. Bocah itu mengemudikan perahunya sendiri, tapi masih dipantau siaga oleh pak Lukman. Devano terlihat sangat bahagia apalagi ketika bocah itu melihat kehadiran papah mamahnya.


Restu melambaikan tangan kanannya kepada sang putra karena bocah itu berteriak memanggilnya maupun Arnita. “Ini sudah main apa saja, Pak?” tanya Restu.


Daripada bertanya permainan apa saja yang sudah dicoba sang putra, Arnita lebih tertarik pada bawaan di kedua tangan pak Lukman. Ada satu gelas pop ice dan satu botol air mineral di kantong yang menghiasi tangan kiri. Sementara di kantong sebelah kanan berisi bakso, sosis, dan juga jagung bakar.


“Itu bensin-nya, yah, Pak?” tanya Arnita sambil tertawa, merasa gemas pada tingkah putranya yang bisa ia pastikan sampai minta dibeli makanan dan minuman yang ia sebut bensin.


“Iya, Bu. Katanya lapar. Minta sendiri, suruh pilih, tanya-tanya kan, itu pedes enggak, enak, enggak? Tanyanya langsung ke yang jual lagi,” ucap pak Lukman sambil menahan tawanya.


“Kembarannya bapaknya. Bapaknya kalau mau beli apa yang, ditanya penjualnya. Yang namanya jualan ya pasti bilang enak,” ucap Arnita yang kemudian tertawa. Tentu saja ia menertawakan suaminya.


Restu hanya menatap Arnita penuh arti seiring senyum lepas di bibirnya yang seolah tidak akan pernah surut.


“Pak Lukman sama Pak Slamet, kalau mau cari makan, cari saja dulu. Gantian paling yah, soalnya si Devano kan enggak mau diem. Nah, itu mau udahan pasti mau coba wahana apa lagi,” ucap Restu. Di kol buatan yang ada di sebelahnya, sang putra dengan begitu bersemangat mengayuh perahu karetnya.

__ADS_1


“Aku mau naik kuda itu yang muter-muter!” sergah Devano, yang belum sampai saja sudah cerewet. Padahal sebelum ada Restu, sekadar bicara saja Devano sangat irit.


“Sama Papah, yah, naiknya. Kita bareng-bareng!” sergah Devano yang baru saja diemban pak Slamet. Tatapannya fokus kepada sang papah.


“Kalau Papah sampai naik, kuda-kudaannya langsung remuk!” ucap Restu.


“Oh iya ... Papah gendut, ya. Ya sudah sama Mamah saja yang kecil. Mamah kan kecil,” sergah Devano.


Arnita menertawakan kejujuran sang putra yang menjadi sangat ekspresif.


“Siapa bilang Papah gendut? Papah enggak gendut, ih!” protes Restu.


“Ah iya, bukan gendut tapi gede. Gimana sih, bilangnya, Mah?” balas Devano.


Arnita hanya tersenyum sambil menggeleng tak habis pikir menyikapi tingkah anaknya yang juga sampai memamerkan otot kedua lengannya.


“Sudah mirip Papah, kan?” ucap Devano kali ini sengaja memamerkan kedua lengannya yang baginya sangat kekar mirip lengan sang papah.


“Diisi pakai apa sih biar kayak punya Papah? Makan banyak, ya? Ya sudah Pak Lukman, aku mau makan yang banyak biar gede kayak Papah!” sergah Devano makin bersemangat.


“Nih anak kayaknya lagi happy banget. Beda dari sebelumnya yang tantrum terus,” ucap Restu sambil merangkul punggung Arnita.


Arnita menatap sang suami penuh keseriusan. “Apa sebenarnya Vano bosan dan pengin jalan-jalan yah, Mas?”


“Bisa jadi, sih!” sergah Restu yang kemudian mengangguk-angguk. “Vano beneran pengin gede kayak Papah?” Kali ini ia sengaja meledek sang putra.


Vano yang masih diemban pak Slamet sambil memakan sosis bakar, langsung menatap sang papah. “Iya, Pah!” ucapnya serius di tengah mulutnya yang masih penuh sosis bakar.


“Banyak-banyak makan telur rebus!” yakin Restu. Detik itu juga sang putra langsung meringis.


“Ih, jijihh ih, ... keluarnya ada eenya!” balas Devano telanjur jujur dan memang jijikk pada telur. Karena sejak pagi itu, pagi di mana Restu mengajak Devano mengambil telur bebek langsung dari kandang, Devano langsung tidak doyan telur.


Tak hanya Restu dan Arnita yang menertawakan ulah menggemaskan Devano. Karena dua pria yang mengasuh juga sampai sibuk menggoda Devano.

__ADS_1


“Tadi yang Kaka makan itu kan telur gulung. Itu bahannya telur,” ucap pak Lukman meyakinkan sambil membukakan tutup botol air mineralnya untuk Devano yang ingin minum air putih.


“Tapi itu enak, Pak!” ucap Devano.


“Tapi itu telur juga, Kaka,” yakin pak Lukman.


“Ah, masa? Bukannya itu tadi enggak bulat, enggak ada cangkangnya juga?” Devano ngeyel.


“Telur gulung yang dikocok terus pakai tusuk gitu, kan?” tanya Restu.


“Iya, Pak. Si Kaka habis lima tusuk tadi,” ucap pak Lukman.


Devano kikuk tak berani menatap sang papah yang langsung meliriknya sambil tersenyum mengejek.


“Itu bukan telur ih!” tegas Devano.


“Kalau itu bukan telur, terus apa? Endog?” tanya Restu yang kemudian tertawa.


Lebih tepatnya, bersama Devano, Restu menjadi pribadi lain. Bukan lagi pria dingin paling irit bicara yang tidak pernah tersenyum lagi. Karena saat bersama Devano, selain kerap tertawa lepas, Restu juga hobi jail.


“Bukan endog. Endog itu telur kan? Yang digulung-gulung tadi itu gorengan tusuk!” yakin Devano tetap tidak mau kalah.


Setelah obrolan mereka, Restu sengaja mengajak Arnita untuk duduk di salah satu tempat makan yang ada di sana. Sedangkan Devano sengaja ia titipkan kepada pak Lukman dan Pak Slamet untuk bersenang-senang, mencoba semua wahana sambil menikmati aneka jajanan.


“Sayang, kamu mau makan apa? Masih aman, kan, enggak pusing lagi?” tanya Restu yang duduk di kursi sebelah Arnita.


Arnita mengangguk-angguk. “Aman, Mas. Pusingnya tinggal dikit. Kayaknya aku pusing efek mabuk naik mobil deh, Mas!” Ia yakin. Karena kalau di luar mobil layaknya sekarang, pusing dan mualnya tak sekuat sebelumnya.


“Lah, terus besok kita balik ke Jakartanya gimana? Masa iya kamu di kampung dulu? Ya aku yang enggak bisa,” balas Restu. “Serius, Mah. Aku beneran enggak bisa jauh-jauh dari kamu. Aku enggak bisa jauh-jauh dari Devano apalagi sekarang kamu lagi isi lagi.”


Arnita hanya tersipu, tapi tak beda dengan Restu, ia juga jadi tidak bisa jauh-jauh dari pria itu.


“Aku beneran enggak tahu harus gimana bilangnya, tapi hamilnya kamu yang sekarang, beneran bikin aku makin sayang. Aku ingin jadi suami siaga buat kamu, apalagi pas Vano, aku enggak bisa dan aku ingin menebusnya di kehamilan yang sekarang,” ucap Restu seiring ia yang menggenggam kedua tangan Arnita. Menggenggam lembut seiring tatapan penuh senyum mereka yang menyatu, menjadi saksi nyata dari kebahagiaan mereka. Apalagi, Restu tak canggung merangkul, memeluk Arnita penuh sayang lengkap dengan menciumminya.

__ADS_1


__ADS_2