
Devano membuka kamar orang tuanya dengan sangat hati-hati. Bocah itu mengintip dari balik pintu memastikan apa yang terjadi di kamar penuh keheningan itu.
“Aku enggak ketuk pintu,” jujur Devano.
Restu dan Arnita kompak menoleh ke pintu, kemudian keduanya juga kompak mengurai senyum.
“Sini masuk,” ucap Restu yang sampai menghampiri sang putra.
Devano segera menutup pintunya dan ia melakukannya dengan hati-hati. “Aku enggak bisa tidur,” ucapnya ketika Restu sudah langsung mengembannya.
“Ya sudah, sini temenin Didi. Didi juga enggak mau tidur,” ucap Restu.
“Didi nangis terus? Sudah buang saja!” balas Devano langsung kesal.
Restu langsung tidak bisa berkomentar. Ia pergoki, Devano yang langsung melongok, tampak kepo pada apa yang tengah Divani lakukan.
“Kok mata Didi merem terus?” tanya Devano.
Restu langsung melirik sang istri yang langsung mesem kepadanya.
“Sini, Kakak sini. Bobo dekat Didi,” ucap Arnita masih duduk selonjor di sebelah sang putri.
Devano berangsur turun, ia melangkah dengan sangat hati-hati karena takut membuat sang adik bangun. “Didi habis ngapain, kok Papah sama Mamah, belum tidur?” lirihnya yang kemudian menatap wajah Mamah papahnya, silih berganti.
“Didi habis ee, terus *****, dan barusan, baru tidur,” jelas Arnita sangat hati-hati seiring ia yang mendekap Devano dari belakang.
“Si Didi ee terus? Kok mirip bebek?” tanya Devano masih serba penasaran. Restu menjadi orang paling terhibur dengan kekepoan sang putra.
__ADS_1
Seiring bergulirnya waktu, Devano menjadi terbiasa dengan keberadaan adiknya. Rasa sayang Devano kepada sang adik juga sangat besar, sampai-sampai, tak ada orang asing termasuk itu Fiola, yang boleh dekat-dekat dengan Divani.
“Didinya buat Aunty, ya?” ledek Fiola sambil berusaha mengambil alih Divani dari dekapan Arnita.
“Aunty, pergi!” kesal Devano mengejar Fiola sampai menggunakan bantal guling kecil milik Didi untuk memukuli sang bibi.
“Tangkap, jangan sampai lolos!” tegas Restu yang tentu saja bisa dipastikan sengaja menggoda sang putra maupun Fiola.
“Mas, ini beneran aku mau ditangkap!” panik Fiola terus berlari demi menghindari Devano.
Dengan santainya Restu berkata, “Olahraga, ... olahraga!”
Tentu saja yang menyelamatkan Fiola dari amukan Devano, Mario. Di ruang keluarga, Mario membiarkan wanita yang telah menjadi teman dekatnya itu berlindung di balik punggungnya.
“Aunty minta maaf, ya? Ayo baikan. Aunty, jangan ngeledek terus dong.” Mario membujuk Devano, tapi kenyataan Fiola yang hobi meledek membuat Devano sulit memaafkannya. Apalagi Fiola selalu berdalih akan mengambil Didi.
“Loh, kenapa? Dulu katanya suruh dibuang ke kandang ayam?” ucap Fiola lagi yang memang sangat suka ketika Devano marah-marah. Karena ketika begitu, Devano terlihat makin tampan sekaligus menggemaskan. Apalagi, Devano juga memiliki kulit putih bersih yang sampai membuatnya iri.
Satu hal yang ingin Arnita katakan kepada Fiola andai iparnya itu jadi menikah dengan Mario, dan Mario juga tak sibuk mengurus keluarganya, beruntung.
Iya, Arnita merasa Fiola akan menjadi wanita yang sangat beruntung karena memiliki suami penyabar seperti Mario. Namun sejauh ini karena Arnita turut memantau, Mario sudah tak berurusan dengan kakak maupun adik-adiknya lagi. Atau memang, karena kakak sekaligus adik Mario sedang sibuk berebut warisan hingga mereka belum sempat memerah Mario? Entahlah, tapi Arnita berharap Mario benar-benar melepas tanggung jawabnya sebagai sumber nafkah keluarga besar.
Melihat hubungan Mario dengan Fiola, Arnita merasa interaksi keduanya mirip papah dan anak. Lantaran selain Mario yang sangat memanjakan Fiola, Fiola juga sangat manja. Bertutur saja, Mario selalu melakukannya dengan lirih sekaligus lembut. Sedangkan hubungan terbaru Mario dengan Devano, Devano menjadi mau menerima kehadiran Mario lantaran Devano tahu, sekarang Mario sudah dengan Fiola dan Mario tak berharap kepada Arnita lagi.
“Lusa, Minggu pagi, kamu ke kantor lagi, kan?” tanya Restu kepada Mario.
Restu dan Arnita duduk di sofa panjang yang ada di sana. Restu memangku Divani, Arnita mendekap Devano yang bersandar manja ke bahunya. Sementara di seberang mereka, Mario dan Fiola duduk bersebelahan.
__ADS_1
“Iya, soalnya pagi-pagi sekali persiapan pemotretan sudah dimulai,” balas Mario sambil mengangguk-angguk sopan.
“Kakak, ayo kita ke dapur siapin makan buat Aunty sama Om Mario. Kalian makan, ya. Aku hangatin dulu makanannya,” pamit Arnita yang sudah langsung berdiri.
Restu yang paham Mario akan menolak karena takut merepotkan apalagi kini sudah malam, sengaja menyuruh Fiola untuk membantu Arnita di dapur. “Biar cepat. Kasihan Mario pasti lapar, lemes gitu.”
Tentu Fiola tak berani menolak dan langsung mengangguk patuh. Fiola meninggalkan ponsel maupun tas mahalnya di sofa bekas ia duduk.
“Bersamanya juga makin membuatmu lelah, ya?” lanjut Restu setelah Fiola benar-benar pergi. Ia mengakhiri pertanyaannya dengan tawa geli.
Mario mesem. “Setidaknya, hidupku jadi enggak hampa banget sih. Selalu rame.” Ia mengangguk-angguk dan Restu malah tertawa.
“Rame karena dia berisik terus, ngomel ini itu?” balas Restu.
“Dia begitu karena dia sayang banget ke aky, sedangkan dia juga tahu, hubunganku dengan keluarga aku bagaimana. Jujur, kadang aku akan, ih kok gini banget sih dia? Tapi pas lihat wajahnya, mau dia senyum atau judes sekalipun, ... sumpah bebanku terasa hilang!” jelas Mario.
Mendengar itu, Restu susah payah menahan tawanya karena takut mengusik sang putri yang baru saja mulai tidur. Apalagi Mario saja sampai berbisik-bisik ketika membalas setiap pertanyaannya.
“Minggu malam kan dia ada konser di Bandung, dan otomatis kamu enggak nemenin karena perusahaan juga ada acara pemotretan dan biasanya sampai malam, kan?” lanjut Restu ingin mencari tahu lebih dalam sejauh apa hubungan sang adik dengan Mario yang juga masih berstatus sebagai anak dari tantenya.
“Nah, itu ...,” ucap Mario yang tak kuasa melanjutkan ucapannya sambil menatap pasrah Restu.
Dan Mario paham, alasan Restu malah menertawakannya karena kakak dari Fiola yang juga masih anak dari pamannya itu tahu maksudnya. Malahan Mario yakin, Restu jauh lebih paham sifat sekaligus keadaan Amanda.
“Ngambek parah dia, meski aku bilang pasti aku VC. Ya sudah, habis beres pemotretan aku langsung susul dia ke Bandung.” Bagi Mario, alasan sebuah hubungan bertahan karena ada pihak yang mau menekan ego, mau mengalah ketika pihak satunya ingin dimengerti. Apalagi sejauh ini, Fiola yang memang berisik, Fiola yang juga manja, tetap memiliki sisi lain yang selalu menjadi sumber kebahagiaannya. Sisi lain yang juga membuatnya merasa nyaman hingga Mario menganggap, wanita itu sebagai rumahnya.
“Kalau dia keterlaluan kamu wajib tegur,” lanjut Restu yang memang seperti dengan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Mario yang mengambil segelas oren jus miliknya, mengangguk-angguk. “Aslinya dia juga pengertian kok. Alasan dia kadang arogan dan judes banget, aku rasa memang karena tuntutan pekerjaan yang bikin dia terlalu stres. Satu minggu yang lalu aku sampai tawarin dia, apa mau berhenti saja dari dunia entertainment? Soalnya kalau dia selalu emosional begitu dan terus menyiksa dirinya dengan hal yang bikin dia enggak nyaman beneran enggak baik buat dia. Namun dia enggak mau dan janji bakalan lebih bisa kontrol diri lagi.”
Restu mengangguk-angguk, merasa nyambung sekaligus cocok dengan pola pikir Mario. Tak sangka, pria yang pernah menjadi saingan beratnya dalam mempertahankan Arnita di awal pertemuan kembalinya dengan Arnita, malah akan menjadi iparnya.