
“Kadang, kebanyakan orang hanya melihat hasilnya, tanpa peduli proses untuk menghasilkan sebuah kebahagiaan apalagi sebuah kesuksesan besar.” Dalam diamnya, Arnita yang berdiri di balik panggung, tengah bersedekap.
Bersama kru, Arnita tengah menonton jalannya peragaan busana melalui layar kaca di atas sana. Hanya Arnita yang menyikapinya dengan datar sambil sesekali tersenyum. Lain dengan kru yang begitu heboh. Apalagi ketika Arnita memastikan ke ruang produksi. Mereka yang selama sepuluh hari ini bekerja bak kuda, sampai menangis saking terharunya. Namun ketika Arnita masuk, mereka kompak jaim.
“Terima kasih banyak untuk kerja kerasnya. Kalian sungguh luar biasa!” ucap Arnita.
“Ka-kami ...,” ucap salah satu dari mereka yang duduk di barisan paling tengah. Ia berangsur berdiri.
Setelah sampai memandangi teman-temannya dan jelas memohon persetujuan, wanita tadi berkata, “Malahan kami yang ingin berterima kasih, Ibu Arnita. Kami merasa sangat bangga karena telah menjadi bagian dari tim ini. Kami merasa bangga karena sampai diizinkan mengeksekusi desain semenajupkan buatan Ibu Arnita.”
Arnita tersipu kemudian merentangkan kedua tangannya. “Sini, ... siapa yang mau peluk?” Arnita sungguh-sungguh, dan kembali meyakinkan timnya lantaran semuanya tampan sungkan bahkan meragukannya.
Restu yang tak lama kemudian datang, sampai kebingungan mencari-cari istrinya ada di mana. Barulah setelah pria itu menatap saksama suasana keramaian du sana, dirinya menyadari, sang istri menjadi sentral dari keramaian penuh haru di sana.
“Kami mau beli beberapa blazernya, sekeren itu soalnya. Tapi bakalan dapat diskon, kan, Bu, kalau sampai borong?” tanya salah satu dari mereka dan membuat Arnita yang berlinang air mata, menjadi tertawa.
Restu yang melihat interaksi hangat antara Arnita dan timnya, langsung tersipu. “Dari semuanya, kamu yang paling muda, tapi kamu juga yang jadi panutan mereka,” batinnya.
***
“Semoga, lain kali kita bisa bekerja sama lagi!” Itulah kalimat penutup yang Arnita sampaikan di pidatonya. Wanita cantik itu berdiri di antara Fiola dan Tiara yang telah sukses mengguncang panggung peragaan busana dengan pesona mereka.
Tak beda dengan para model di sana, Arnita juga memakai salah satu blazer yang tengah diperagakan. Hanya saja, ada beberapa detail dari blazer milik Arnita yang membuatnya berbeda dari blazer lainnya. Untuk semacam rias wajah termasuk gaya rambut pun, Arnita tidak banyak melakukan perubahan dari penampilannya sebelumnya. Wanita itu hanya menjadi bagian untuk formalitas saja.
__ADS_1
Dibalik kemeriahan hari ini, tak ada yang menyangka bahwa Arnita benar-benar akan mengundurkan diri. Bahkan walau proyek yang sempat nyaris gagal total kini sukses besar, Arnita tetap dengan keputusannya untuk mengundurkan diri. Hanya Restu yang mengetahui dan memang selalu mendukung keputusan Arnita. Meski jika Arnita keluar dari perusahaan otomatis membuat perusahaan merugi, Restu tetap mendukung apa pun keputusan Arnita asal istrinya itu merasa nyaman dan tak lagi tertekan.
Setelah pesta usai, Arnita kembali ke ruang kerjanya. Wanita itu memandangi setiap desain yang menghiasi dinding di sekitar meja kerjanya. Termasuk itu beberapa foto model yang memakai rancangan pakaiannya. Mata yang awalnya berbinar, kini mulai basah. Arnita berkaca-kaca, melepas satu-persatu desain maupun foto di sana.
Termasuk beberapa contoh pakaian, dari mulai gaun, celana, blezer yang menghiasi maneken di sana, Arnita juga melepasnya dengan hati-hati. Semuanya ia susun rapi pada kotak kardus yang sampai ia packing.
“Sudah waktunya menjadi diriku sendiri tanpa terus-menerus bekerja di bawah tekanan. Aku berhak bahagia, dan aku ingin merasakannya bersama keluarga kecilku.” Arnita berpikir, menjadi IRT yang tetap menekuni bakat sekaligus hobinya mendesain sekaligus menjahit, kemudian menampung semua hasilnya di butik pribadi, akan jauh lebih baik, daripada ia bertahan di perusahaan tapi penuh tekanan.
“Sudah?” tanya Restu yang datang. Pria itu langsung terbengong-bengong karena barang yang harus ia bantu angkut sangatlah banyak. Karenanya, ia sampai melepas jasnya kemudian memberikannya kepada sang istri yang menertawakannya.
“Titip dulu, yah. Suami sekaligus bosmu mau jadi kuli angkut dulu,” ucap Restu.
Sambil menerima jas Restu, Arnita yang menertawakan pria itu berkata, “Bisa-bisanya, Mas jadi enggak jelas gini.”
“Enggak ada pemecatan, loh. Kamu beneran masih bisa lanjut!” yakin Mario.
“Iya, Mas. Aku tahu. Namun ini memang sudah jadi keputusanku. Aku ingin lebih fokus mengurus keluargaku,” balas Arnita tak kalah meyakinkan.
“Alasannya memang ingin lebih fokus mengurus keluarga. Namun jangan terkejut juga jika sewaktu-waktu, istriku punya brand sekaligus perusahaan sendiri,” ucap Restu kelewat santai.
Mario kebingungan menatap Arnita dan Restu silih berganti. Namun, Mario yakin kemungkinan semacam yang baru saja Restu katakan bukanlah hal mustahil. Karenanya, ia berkata, “Ya sudah, kalau itu sampai terjadi, aku pastikan, aku akan ikut kamu.”
Arnita langsung tersenyum hangat menanggapi Mario yang tak hanya sebuah pengabdian, tapi juga doa terbaik.
__ADS_1
“Ya sudah, kalau gitu bantu pindah semua ini ke mobil,” ucap Restu sengaja aji mumpung melimpahkan semua pekerjaan di sana kepada Mario.
Mario menatap ngeri Restu. “Saya rasa, sebelum saya ke sini, itu sudah menjadi jatah Pak Restu!” sewotnya. Untuk pertama kalinya ia kurang ajjar kepada atasan.
Kali ini, Arnita langsung menahan tawanya apalagi jika melihat ekspresi Restu yang langsung terlihat sangat tersinggung kepada balasan Mario.
“Namun karena Anda sudah ke sini, otomatis ini juga menjadi tugas Anda!” sewot Restu.
Mario menggeleng pelan. “Namun dari kacamata saya, itu bagian dari pengabdian suami kepada istri. Yang suami Arnita kan Anda, jadi otomatis semua ini juga menjadi tugas sekaligus kewajiban Anda!” Ia menjelaskan sejelas-jelasnya.
Arnita yang tak mau perseteruan kedua pria di hadapannya terus berlanjut, segera merapikan barang-barangnya sendiri. Ia bertindak seolah dirinya akan membereskan semuanya sendiri, hingga kedua pria yang sempat berargumen, menjadi bekerja sama.
“Karena hari ini pulang lebih awal setelah sepuluh hari jadi hantu di perusahaan, aku akan masak besar. Kalau berkenan, sekalian mampir ke rumah baru kami, yah, Mas. Nanti Mas sekalian makan malam juga,” ucap Arnita. Ia membawa tas kerjanya dan juga jas Restu, menyusul kepergian Restu maupun Mario yang masing-masing masih membawa satu dus besar.
“Berarti nanti aku sekalian ajak Fiola juga,” ucap Restu begitu yakin dengan keputusannya.
“Sayang, coba kamu telepon Fiola. Bilang, kita undang dia makan malam di rumah. Sekalian undang mamah papah juga,” lanjut Restu.
Panggilan sayang, memang sudah menjadi panggilan spesial Restu untuk sang istri. Membuat Mario merasa teraniiaya lahir batin kenapa pria itu harus menjadi bagian dari keduanya.
“Siap, Mas!” sanggup Arnita yang tahu, Restu berniat menjodohkan Fiola dengan Mario. Bagi Restu, pria sebaik Mario yang hidupnya kerap dipandang sebelah mata hanya karena latar belakang Mario dari panti asuhan, memang patut mendapatkan kesempatan.
Arnita sepakat dengan anggapan Restu, bahwa Mario pria yang tepat menjadi pasangan Fiola. Agar Fiola menjadi pribadi lebih baik lagi. Tentunya, menjadi suami Fiola juga membuat Mario memiliki kesempatan emas menjadi pimpinan di perusahaan Tuan Cheng. Bayangkan jika semua itu sampai terjadi. Orang tua Mia yang lebih rela mengorbankan putrinya daripada membiarkan putrinya bersanding dengan Mario, pasti akan menjadi orang-orang yang paling menyesal.
__ADS_1