Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
93 : Anak Papah


__ADS_3

“Sayang, aman?” tanya Restu memastikan karena di dalam kamar mandi, Arnita tengah memastikan apakah benar dirinya mengalami pembukaan untuk persalinan anak kedua mereka yang memang diprediksi berjenis kelamin perempuan.


“Eh, ngapain aku dengerin dia buat nunggu di sini?” keluh Restu mempermasalahkan keputusannya.


Restu segera masuk kamar mandi yang memang tidak sampai dikunci. Di dalam, Arnita masih duduk di kloset.


“Antar ke rumah sakit saja, yuk? Takutnya memang iya soalnya rasanya juga sudah enggak jelas banget,” ucap Arnita yang memang sudah lemas.


Keringat dingin sudah mengalir membasahi kepala, wajah, dan juga sekitar lehernya. Tentu Restu langsung sigap bahkan walau kehamilan sang istri belum ada sembilan bulan. Karena satu minggu lagi saja, usia kehamilan Arnita baru genap delapan bulan.


“Kayaknya kamu kecapaian,” ucap Restu yang sudah membopong Arnita. Ia dapati, jam klasik di ruang keluarga mereka yang berdendang mengalunkan musik khas, dan menunjukkan tepat pukul satu dini hari.


“Enggak tahu. Padahal aku enggak merasa capek apa gimana,” balas Arnita mulai kerap menghela napas pelan.


Sebelum Restu benar-benar membawa Arnita pergi, ia sengaja pamit kepada pak Iman keberadaan kamarnya masih di lantai bawah. Restu menitipkan Devano kepada bapak mertuanya.


Restu membangunkan pak Lukman yang memang sampai menginap di sana. Beda dengan pak Slamet yang memang pulang pergi. Sampai di rumah sakit bersalin terdekat, ternyata Arnita sudah mengalami pembukaan empat. Arnita sungguh akan melahirkan secara normal dan baik Arnita maupun calon bayi perempuannya dalam keadaan sehat semua.


Arnita dan Restu bersuka cita menyambut kehadiran putri mereka. Restu sengaja menelepon pak Iman agar fokus menjaga sekaligus mengurus Devano. Pertama kali menemani Arnita menjalani persalinan juga menjadi pengalaman baru untuk Restu. Pria itu menemani Arnita jalan ke sana ke mari sambil memegangi botol infus karena Air ketuban Arnita memang nyaris kering.


Setelah satu jam berlalu, pembukaan yang Arnita alami sudah sempurna dan wanita itu melahirkan putrinya tanpa hambatan berarti. Malahan, Restu yang seperti merasakan sensasi melahirkan. Restu sampai lemas dan kuyup oleh keringat dingin.


“Gimana?” Ibu Rembulan dan sang suami datang bertepatan dengan bayi yang selesai dibersihkan.


Restu memamerkan sang putri yang masih cenderung mirip dengannya. “Ini mirip aku, ya? Ya ampun mirip Devano banget!” Kebahagiaan yang ia rasa membuatnya menitikkan air mata.


Ibu Rembulan langsung tertawa karena anak perempuan sang putra dan juga menjadi cucu perempuan pertamanya, wajahnya memang mirip Restu tapi lebih mirip Devano.


“Ini efek tiap hari kamu terus-terusan ngeledek Devano. Untung saja enggak sampai mirip Rayyan!” ucap pak Cheng.

__ADS_1


“Andai sampai mirip Rayyan, yang ada beneran langsung dibuang ke kandang ayam!” balas Restu dan langsung membuat semuanya kompak tertawa.


“Ya sudah sini sama Oma, biar Papah temenin Mamah!” sergah ibu Rembulan setelah memberikan tas yang menghiasi pundak kanannya kepada sang suami.


“Ya sudah, Mah. Aku temenin Nita dulu,” ucap Restu yang memberikan sang putri dengan sangat hati-hati kepada sang mamah. Apalagi ia memang belum terbiasa mengemban bayi merah.


“Ini berat badannya normal, ya?” ucap ibu Rembulan yang tak hentinya tersenyum semringah memandangi wajah sang cucu.


“Normal semua, Mah. Dengan kata lain andai dia lahir genap sembilan bulan, dia malah kelebihan bobot!” ucap Restu yang mengakhirinya dengan tertawa.


Di dalam ruang persalinan, Arnita masih menjalani pembersihan jalan lahir. Tampak dokter yang membantu Arnita menjalani persalinan tengah menyiapkan jarum dan setelah Restu pastikan, itu untuk menjahit perenium yang mengalami robekan karena proses persalinan secara normal.


“Ya Alloh ...,” batin Restu yang belum apa-apa sudah langsung lemas. Sekadar berdiri saja, ia mendadak tak sanggup.


“Pah, kenapa?” tegur Arnita.


“Lemes!” jujur Restu, tapi langsung panik dan buru-buru lari kemudian mendekap tubuh sang istri hanya karena ia memergoki sang dokter akan mulai melakukan jahitan ke jalan lahir Arnita.


Mendengar itu, Restu langsung mengerutkan dahi menatap wajah sang istri yang sudah sibuk meringis. “Kata-katanya mirip sinetron Azab. Dikiranya selama ini aku enggak perhatian apa ke kamu!” lirihnya berkeluh kesah kepada sang istri dan Arnita langsung tertawa walau tubuhnya mulai menggeliat menahan sakit efek jahitan.


“Maaf, ya?” lirih Restu antara jujur tapi juga sekaligus mengalihkan perhatian Arnita agar istrinya itu tak hanya fokus dengan rasa sakitnya.


“Maaf kenapa, Mas?” balas Arnita.


“Ya gara-gara ngelahirin anak kita, kamu harus merasakan proses ini,” balas Restu yang benar-benar merasa terpukul lantaran proses persalinan benar-benar mengerikan melebihi dari yang ia baca di artikel maupun tonton di beberapa video informasi. Sebab di beberapa hari terakhir, Restu sudah mempersiapkan diri untuk menemani Arnita menjalani persalinan dengan membaca beberapa artikel maupun menonton video khusus.


Terharu dengan balasan Restu, Arnita sampai berkaca-kaca. “Sudah jadi kodratku melahirkan, Mas. Yang penting, Mas selalu sayang ke aku dan juga keluarga kecil kita.”


“Itu sih pasti. Selalu, kan?” balas Restu.

__ADS_1


“Jangan ngledek Vano terus biar dia enggak tantrum mulu. Enggak lucu kalau Mas sampai dibuang juga,” lanjut Arnita masih bertutur lirih. Apa yang ia katakan langsung membuat sang suami sibuk menahan tawa.


“Asli, adiknya Vano mirip banget sama Vano. Nyaris enggak ada yang dibuang. Mata, alis, bibir, hidung, dagu, beneran enggak ada yang beda masalah wajah. Telinga pun sama!” cerita Restu.


“Berarti memang masih anak papah, mirip kakaknya. Terus, yang mirip aku kapan?” balas Arnita.


Restu yang masih menahan tawanya berkata, “Mungkin nanti yang ke tiga sama ke empat!”


Arnita tersenyum miris. “Kalau yang ke tiga sama ke empat juga masih mirip papahnya?”


Restu tertawa pasrah. “Berarti harus munculin anak ke lima!”


Arnita langsung tersipu apalagi setelah itu, Restu yang membenamkan wajah di bantal sebelahnya merengek nyaris menangis.


“Enggak kebayang kalau beneran lima. Ini saja aku sudah lemes banget, malah sampai mules ya Alloh kebelet,” lirih Restu.


Arnita menjadi menertawakan Restu. Tanpa terasa proses jahitan yang ia jalani. Sang dokter baru saja mengabarkan semuanya sudah selesai dan Arnita hanya tinggal menunggu masa pemulihan.


“Beneran sudah beres, Dok?” tanya Restu tak percaya.


“Masa dijahit semuanya, ya kasihan, Pah!” balas sang dokter yang kemudian pamit dan Restu sampai menjabat tangannya sambil tak hentinya mengucapkan terima kasih.


“Targetnya masih tiga lagi, Dok! Karena yang sekarang dan merupakan anak kedua, wajahnya masih Papah banget. Mamahnya pengin anaknya mirip mamahnya juga,” cerita Restu.


Sang dokter yang merasa lucu mendengar itu, sengaja berkata, “Berarti selama belum ada yang mirip Mamah, terus lanjut digas, yah, Mah?” Ia mengakhiri ucapannya dengan tertawa. Tawa yang langsung menular kepada orang tua yang sedang sangat berbahagia di sana yaitu Restu dan Arnita.


Tak lama setelah dokter dan suster yang menangani Arnita pergi, Restu meminta orang tuanya untuk masuk, membiarkan sang putri yang ia beri nama Divani, dekat sekaligus bercengkerama dengan sang mamah.


Arnita langsung berbunga-bunga menyambut sang putri yang wajahnya sungguh sangat mirip dengan kakaknya yang super datar. Menghadapi Devano yang serba kaku saja, ia kewalahan. Apa kabar jika Divani juga masih memiliki sifat yang sama dengan sang kakak?

__ADS_1


“Alhamdullilah sudah sepasang, ya?” syukur ibu Rembulan dan membiarkan sang cucu perempuan mendapatkan ASI pertamanya dari Arnita.


Kebahagiaan telah sepenuhnya menyelimuti kebersamaan mereka. Lantas, apa kabar Azelia yang malah tidak mengetahui mengenai kelahiran ini karena biar bagaimana pun, Arnita menjalani persalinan lebih awal?


__ADS_2