
Nyatanya, Azelia sungguh melakukan segala cara untuk menuntaskan misinya. Wanita itu nekat menyewa sebuah mobil travel untuk mengikuti rombongan Restu yang kembali ke Jakarta. Tentu saja Azelia melakukannya secara diam-diam. Dan tentunya, wanita itu juga sampai membayar sopir yang ia sewa dengan harga mahal agar pria itu tutup mulut.
Setelah tahu alamat Restu dan Arnita yang ada di Jakarta, misi seorang Azelia benar-benar dimulai. Wanita itu tentu tak berdiam diri karena andai itu terjadi, Azelia sama saja menggali kuburannya sendiri.
Azelia sengaja bekerja, melamar pekerjaan di bidang yang selama ini sempat melambungkan namanya. Wanita berhijab itu bekerja di sebuah toko kue dan letaknya tidak begitu jauh dari rumah Restu. Tanpa mempermasalahkan posisinya yang hanya menjadi tukang bantu-bantu, yang penting dirinya memiliki pendapatan tetap untuknya bisa bertahan di kota metropolitan yang terkenal kejam. Lebih beruntungnya lagi, Azelia tidak perlu susah payah mencari tempat tinggal apalagi memikirkan biaya sewanya karena ia sudah memiliki tempat tinggal di toko kue tersebut, bersama beberapa karyawan lainnya.
***
Sepuluh hari liburan di kampung membuat sederet PR menunggu. Baik Restu maupun Arnita sama-sama langsung sibuk. Keduanya langsung mengerjakan pekerjaan yang sempat mereka tunda. Restu yang kembali mengurus perusahaan, juga Arnita yang mulai mengurus butik. Kendati demikian, mereka masih kerap menyempatkan waktu untuk bertemu di jam kerja, dengan Arnita yang sengaja mengunjungi Restu bersama Devano.
Sore menjelang petang setelah satu minggu dari kepulangan mereka, Arnita sengaja mengajak sang suami maupun Devano mampir ke toko kue Azelia bekerja. Azelia yang menenteng ember berisi keperluan pel melihat kehadiran ketiganya. Azelia yang kali ini masih berhijab, langsung ketar-ketir berusaha bersembunyi. Wanita itu memilih masuk lagi dan tak jadi mengepel teras.
“Pilih kue ulang tahun yang mana buat Mbah?” tanya Arnita kepada Devano yang berdalih akan memilih secara khusus.
Hari ini menjadi hari ulang tahun pak Iman. Mereka bahkan sengaja pulang cepat untuk merayakannya secara sederhana di rumah. Devano sangat antusias dan memilih kue berwajah Tayo untuk sang kakek yang sudah menjelma menjadi teman baiknya.
Restu dan Arnita langsung terbengong-bengong atas pilihan sang putra. Keduanya kompak bertatapan dan perlahan mengurai senyuman.
“Masa tayo? Buat Mbah, loh, bukan buat Rayyan,” tegur Restu yang masih kerap sibuk dengan ponselnya walau kini sudah bukan jam kerja.
“Tapi Mbah suka tayo, Pah!” yakin Devano tak terbantahkan.
“Oke, ... oke.” Arnita yang masih mesem sengaja mengakhiri perdebatan antara anak dan suaminya. Malahan alasannya berdiri di antara keduanya sambil menggandeng keduanya juga karena hal tersebut. Karena Arnita sudah sangat hafal, kembar generasinya akan selalu sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
__ADS_1
Kue lengkap dengan lilin maupun terompet sudah terbeli, urusan mereka di sana benar-benar beres. Menyisakan Azelia yang masih sibuk mengintip dan perlahan keluar dari persembunyiannya. Azelia keluar dari toko kuenya sambil tetap membawa ember pel. Wanita itu melepas kepergian sedan hitam yang membawa keluarga kecil Restu di tengah kegelapan yang telah menggantikan senja.
“Sekarang kalian benar-benar bahagia, tapi nanti, kalian akan merasakan batunya!” sumpah Azelia dalam hatinya. Kedua tangannya langsung mengepal kencang hingga ember dan tongkat pel yang ia pegang gemetaran.
***
Kue ulang tahun pilihan Devano sukses mengejutkan sang Mbah.
“Itu yang pilih si Kakak. Tayo!” cibir Restu yang memang masih saja belum setuju sang bapak mertua menerima kue ulang tahun tayo. Lebih tak adil lagi, Devano melarangnya membeli kue yang lain.
“Mbah suka tayo kan, yah, Mbah?” ucap Devano yang jujur saja sengaja memaksa daripada ia terus disudutkan oleh sang papah. Untungnya, sang mbah yang awalnya duduk di sofa tunggal ruang keluarga lantai bawah sambil menonton televisi, langsung membenarkan bahkan memuji pilihannya.
“Halah! Kalau enggak dipuji ya Kakak nangis!” sindir Restu masih saja cari gara-gara dengan sang putra. Arnita sampai menghadiahinya cubitan gemas di perut. Kemudian, yang mereka lakukan adalah sama-sama fokus dengan perta ulang tahun kecil-kecilan untuk pak Iman. Mereka mengabadikannya melalui ponsel Arnita, meminta pak Lukman untuk mengabadikan momen itu dalam bentuk foto maupun video.
***
Kini menjadi pertemuan pertama mereka walau Fiola sudah satu minggu di Jakarta sejak kepulangan wanita itu dari acara liburan bersama di kampung. Liburan bersama yang membuat Fiola mendapat banyak fans garis keras dan itu dari warga kampung Arnita.
Tentunya, alasan keduanya baru bisa bertemu, efek kesibukan masing-masing. Kini saja Mario sampai menunggu hingga akhirnya bertemu dengan Fiola, di belakang panggung.
“Aku beneran sudah lepas semuanya. Aku beneran sudah enggak ikut campur, terserah mereka mau gimana.” Sambil terus meyakinkan, kedua Mario juga tak hentinya mengerjap sendu. Mata yang memang terlihat sangat lelah, selain Mario yang memang menjadi jauh lebih kurus.
“Sekarang Mas tinggal di mana?” lanjut Fiola berangsur duduk kemudian menghabiskan sisa air mineralnya.
__ADS_1
“Ya di apartemen.” Mario juga berangsur duduk di kursi tunggu depan Fiola.
“Kalau saudara Mas minta ini itu termasuk apartemen Mas gimana? Sekarang saja, rumah bersama mamah Mas dan keluarganya sudah langsung jadi bahan rebutan.” Setelah berucap demikian, Fiola sengaja berkata, “Maaf-maaf saja, yah, Mas. Kau begini karena aku telanjur emosi sama tingkah keluarga Mas yang ih banget. Terserah Mas mau menilaiku bagaimana, yang jelas mereka patut dihujat.”
Mario mengangguk-angguk. “Aku pun sudah capek, Fi. Makanya ya udah, aku diem.”
“Ya sudah, Mas diem saja. Nanti kalau mereka sampai macam-macam, biar aku yang maju! Tapi Mas diemnya jangan sampai kasih-kasih lagi. Sudah lepasin saja mereka, sudah tua juga. Kalau memang butuh, suruh usaha, kerja. Alasan Mas punya uang lebih dari mereka pun karena mau kerja!”
“Apa-apaan, enggak mau kerja kok pengin hidup enak. Aku saja yang sudah sultan masih banting tulang biar bisa dapat penghasilan sendiri!”
“Sudah, kamu enggak usah marah-marah, nanti tenggorokan kamu sakit dan kamu enggak bisa nyanyi lagi. Habis ini, masih mau manggung lagi, kan?” balas Mario masih menyikapi Fiola dengan sabar. Sangat beda dari ketika mereka belum dekat.
Fiola yang kali ini memakai gaun putih selutut dan menggerai rambut panjangnya hingga membuat penampilannya mirip bidadari, berangsur mengangguk. “Iya. Sampai pukul dua belas malam. Sejam lagi!” ucapnya dengan emosi yang berangsur reda apalagi kini ia mendadak ingat ucapan Restu yang memintanya untuk tidak terlalu keras kepada Mario takutnya Mario malah tak hanya jatuh sakit, tapi juga terancam jadi ODGJ karena semuanya serba sibuk menuntut. Pihak keluarga serba harta, Fiola serba ingin Mario berubah secepatnya, belum lagi pria itu juga memiliki kesibukan lain termasuk itu pekerjaan di perusahaan yang kadang sangat tidak manusiawi.
“Ya sudah, aku tungguin. Kamu mau makan apa, enggak? Aku lihat di mejamu enggak ada makanan dan hanya buah sama air putih?” balas Mario yang kemudian beranjak berdiri, siap mencarikan makanan untuk Fiola.
“Sebenarnya aku pengin banget makan yang lain selain buah sama minum air. Soalnya gara-gara liburan di kampung, berat badanku melonjak drastis dan banyak kostum yang enggak bisa aku pakai. Ya sudah, enggak ada pilihan lain selain diet gila-gilaan daripada diomelin atasan!” jelas Fiola yang menjadi menunduk murung.
Mario menghela napas kemudian berangsur duduk kembali. Ia menatap Fiola dengan tatapan prihatin seiring kedua tangannya yang ia kantongi di saku sisi mantelnya.
“Makan apa saja oke, sih. Asal wajar dan jangan lupa olahraga. Nanti pulangnya kita langsung kuliner deh. Yang penting kamu jangan bilang-bilang ke manajer kamu!” bisik Mario dan sampai mencondongkan wajahnya ke wajah Fiola mengingat suasana di belakang panggung kebersamaan mereka terbilang bising.
Fiola langsung setuju. Wanita cantik itu langsung mengangguk seiring senyum ceria yang terurai. Malahan walau sudah harus naik ke panggung padahal baru istirahat sebentar, Fiola tetap ceria karena yakin, pulang nanti dirinya akan berkuliner bebas sekalian kencan dengan Mario.
__ADS_1