
Arnita tersipu, berkaca-kaca ia menatap Restu di antara senyumnya. Setelah terkesima dan sampai menahan napas, ia mengangguk
“Tentu saja! Tentu saja harus begitu bahkan kalau bisa lebih!” Ucap Arnita. Di hadapannya, Restu mengernyit.
“Lebih?” lirih Restu memastikan.
“Vano minta, ... kamar yang mirip hutan tapi ada saljunya seperti rumahnya Pororo di desa Porong-Porong!” ucap Arnita masih lirih. Sebab kebahagiaan yang begitu besar atas keadaan kini, membuat dadanya terasa sangat sesak. Karenanya, suaranya tertinggal di tenggorokan.
Restu tersipu dan perlahan tertawa kecil.
“Mas, nyaris lupa, ya?” tuding Arnita. Di hadapannya, Restu mengangguk-angguk sambil meminta maaf.
“Aku mau foto, dong!” pinta Arnita kemudian. Ia menatap Restu penuh keceriaan di tengah senyum yang sebisa mungkin ia tahan. Pria itu tersipu kemudian mengangguk hangat.
Beberapa saat kemudian, di tempat berbeda, Devano mesem ketika foto mamah dan papahnya menjadi foto yang menghiasi inbox WA-nya. Pak Lukman yang membantunya mengendalikan ponsel pun turut tersenyum bahagia. Di foto tersebut, mamah dan papahnya terlibat makan malam romantis. Buket mawar besar di dekap penuh kebahagiaan oleh sang mamah yang tersenyum hangat menatap kamera. Tak kalah hangat dari senyum Restu yang ada di sebelahnya.
***
“Papah Mamah senang-senang?” sambut Devano ketika kedua orang tuanya datang. Arnita langsung tersenyum ceria menghampirinya sambil mendekap buketnya yang besar.
Restu yang membuka jasnya juga berangsur menghampiri sang putra. Ia duduk di sofa depan Arnita duduk. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh ranjang rawat yang Devano tempati.
“Kalau kamu sembuh, kapan pun itu, kita langsung mudik!” ucap Arnita berbisik-bisik.
Devano mengalihkan tatapannya kepada Restu. “Cincin kalian bangus.”
__ADS_1
Tak hanya Restu yang terkesiap. Karena Arnita juga dan sampai langsung menahan senyumnya. Tak disangka, Devano sampai menyadari perbedaan di jari manis tangan kanan mereka yang kini dihiasi cincin untuk menjadi simbol hubungan sakral mereka.
Mengenai cincin, tentu cincin sekarang menjadi cincin pertama yang Arnita dapatkan dari Restu, walau sebelumnya, mereka sudah menikah. Karena jangankan cincin pengikat atau setidaknya tanda dari adanya sebuah perkawinan, emas kawin pernikahan saja saat itu Restu hanya memberinya sejumlah uang yang pria itu pinjam dari Azelia.
“Papah sama Mamah mau mengadakan pesta pernikahan. Ya semacam acara untuk peringatan pernikahan. Gimana sih ngomongnya, ya. Soalnya kan kamu masih kecil,” ucap Restu.
“Ya, aku tahu. Nikah, seperti Aunty Mia sama om Mario tapi gagal,” sergah Devano memotong ucapan Restu.
Detik itu juga kebersamaan di sana menjadi hening. Arnita dan Restu saling bertatapan. Tak menyangka, Devano sampai tahu itu. Jadi, sejauh apa Mia meracuni bocah itu?
Menghela napas pelan, Arnita mengulurkan buket bunganya kepada sang suami. “Tolong taruh meja depan sofa lipat. Hati-hati, soalnya cantik banget.”
Restu yang tersipu langsung menggeleng tak habis pikir kepada Arnita sambil menerima buketnya.
Arnita langsung meraih sebelah tangan Devano, membuat jemari tangan mereka mengisi ruas satu sama lain. Hal yang juga langsung Restu lakukan setelah pria itu kembali, menaruh buketnya dengan sangat hati-hati.
Setelah sampai menoleh ke belakangnya, Arnita meminta pak Lukman untuk istirahat apalagi seharian ini, pria itu sudah menjaga Devano. Namun jujur, ada yang menjaga secara eksklusif layaknya sekarang, membuat Arnita merasa jauh lebih tenang jika harus bepergian jauh dari Devano.
“Sayang, coba sekarang cerita ke Mamah, ... Aunty Mia, cerita apa saja ke kamu? Aunty Mia, enggak suka ke om Mario?” ucap Arnita sangat hati-hati.
“Iya lah. Om Mario kan jahat!” sergah Devano ketus.
Terdengar Restu yang menghela napas. Kenyataan yang langsung mengalihkan fokus perhatian Arnita.
“Devano sayang, ... apa pun itu yang terjadi dengan aunty Mia dan om Mario, beneran enggak ada hubungannya dengan kamu. Enggak ada hubungannya dengan kita.” Jujur sebenarnya Resty merasa serba salah berkomunikasi dengan Devano yang levelnya sudah sangat dewasa.
__ADS_1
“Begini, jangan kesal dulu. Dengerin Papah sama Mamah dulu.” Restu mencoba meredam kekesalan sang putra yang tampaknya akan membela Mia. “Kita kan enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Iya, kan? Kamu juga sebenarnya enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kamu bilang om Mario jahat karena kata aunty Mia, kan? Nah, gimana kalau ternyata aunty Mia bohong?”
Sepanjang Restu berbicara dengan Devano, mengajak bocah itu bertukar pikiran dan membahas semua yang sudah Mia ceritakan, Arnita menjadi sadar. Alasan Devano sangat membenci Mario karena Mia sudah lebih dulu meracuni Devano. Mia sudah mengatakan banyak kebohongan mengenai Mario kepada Devano. Pantas Devano sangat anti kepada Mario. Pantas bocah itu menyebut Mario jahat, payah, dan Devano benar-benar lebih galak dari Rafatar ketika mamah Gigi dikerjai teman artisnya. Ternyata memang karena Devano sudah telanjur termakan cerita Mia.
“Sekarang Vano paham, kan? Mulai sekarang enggak usah memikirkan aunty Mia, om Mario, dan siapa pun itu selain kita. Sekarang kan sudah ada Papah. Nantinya, Vano juga akan selalu sama Papah sama Mamah. Vano bakalan sekolah dan punya banyak teman. Terus, Papah sama Mamah juga bakalan bikin kamar mirip desa Pororo,” ucap Restu sejelas-jelasnya kepada sang anak.
“Desa Pororo?” lirih Devano langsung melirik sinis sang papah.
Restu kebingungan dan langsung menatap sang istri yang sudah memberinya kode keras. Arnita berkata, “Bukan desa Pororo, ... desa Porong-porong!”
“Innalillahi, salah lagi!” batin Restu yang langsung mengoreksi ucapannya.
Keesokan harinya, Arnita dibuat kewalahan menghadapi perhatian dari Miss Tania. Wanita itu mendadak sangat baik kepadanya. Ia sampai diberi hadiah tas mahal.
“Ini Miss Tania kenapa, sih?” tanya Arnita. Sudah sampai mendatangi ruang kerjanya dan sampai sungkem, hal yang tentu saja belum pernah wanita itu lakukan kepada karyawan yang levelnya ada di bawahnya, kini juga sampai ada tas mahal sebagai hadiah.
“Enggak ada apa-apa, ibu Nita!” ucap Miss Tania kembali duduk di depan Arnita. “Malam ini, niatnya saya dan suami saya baru bisa jenguk anak ibu Nita. Maaf banget, yah, soalnya waktunya, duh ... sesibuk ini!”
Arnita mengangguk-angguk. Meski tentu saja, membahas keadaan Devano dengan Miss Tania, membuatnya ingat kata-kata jahat yang ia dapat dari wanita tersebut ketika ia izin cuti. Izin yang tentu saja untuk menjaga Devani, walau sehari. Namun bukannya diberi izin apalagi dukungan, Miss Tania malah mendoakan agar Devano mattii.
“Ini maaf banget, Miss. Ini saya enggak sedang ulang tahun. Dan saya pun, memang enggak bisa menerima hadiah semahal ini.” Arnita menyodorkan kembali kotak tas berwarna oren di hadapannya. Tas mahal nan ori yang baru bisa ia beli jika ia menggunakan empat bulan gaji kerjanya secara full.
“Enggak apa-apa, Bu Arnita. Anggap saja itu tanda permintaan maaf saya sudah berkata kasar ke Ibu Arnita pas Ibu izin buat rawat anaknya. Apalagi, ... Pak Restu sampai nyaris ngamuk,” ucap Miss Tania.
Menghela napas pelan, dalam hatinya Arnita berkata, “Pantes ....”
__ADS_1