Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
51 : Makan Malam yang Membongkar A-IB


__ADS_3

Senja masih menjadi warna penuh keindahan di akhir hari ini ketika Restu dan Mario masih sibuk di area parkir bagian depan kantor. Malahan, mereka sangat dekat dengan lobi. Karena sebelumnya, mereka kompak mendekatkan mobil mereka ke sana.


“Di mobil saya banyak barang, jadi sebagian barang-barangnya, saya titip di mobil kamu, yah, Mar!” Restu sengaja menjebak Mario agar pria itu tidak lolos dari perjodohan yang ia rencanakan.


Mario mendengkus lemas. “Ini sih bukan sebagian lagi. Ini beneran nyaris semuanya,” ucapnya yang kemudian juga berkata, “Satu lagi, ....”


“Kamu marah kepada saya?” Restu menggunakan kuasanya untuk menekan Mario. Walau kali ini, ia gagal melakukannya karena yang ada, melihat wajah Mario yang terlihat sangat kesal kepadanya malah membuatnya tertawa.


“Panggilnya jangan Mar, dong, Pak! Itu kan terdengar keibu-ibuan!” protes Mario yang kemudian menutup bagasi mobilnya.


Tak hanya bagasi mobil Mario yang langsung penuh oleh barang-barang Arnita. Karena di tempat duduk bagian penumpang juga iya. Sementara yang Restu bawa hanya tas kerja Arnita yang memang berjumlah dua.


“Mas, ayo!” seru Arnita dari jendela kaca mobil tempat duduk sebelah setir.


Restu yang masih ada di sebelah mobil Mario dan memang ada di belakang mobilnya, menjadi melanjutkan tawanya. Tawa yang tentu saja sangat tipis karena begitulah seorang Restu. Pria itu langsung menuju mobil, masuk dan segera mengemudikannya.


Melihat sang suami yang sampai bisa tersenyum, Arnita merasa papahnya Devano itu cocok dengan Mario. Tentunya bukan untuk Restu sendiri, melainkan untuk Fiola.


“Tuh orang asli sabar banget,” ucap Restu yang tentu saja memuji Mario.


Arnita tersipu. “Dia begitu karena dia lihat aku, Mas.”


Restu yang baru saja mengemudikan mobilnya, langsung menatap sebal Arnita. “Please, deh ... tanpa kamu bilang begitu pun, aku sudah cemburu.”

__ADS_1


Arnita menatap Restu sambil mengikat rambutnya. “Ngapain cemburu, sih? Wong aku cuman sayang dan cintanya ke Mas? Kalau enggak, dari dulu aku sudah terima dia atau laki-laki lain!”


Mendengar itu, Restu langsung mesem, luluh. “Cemburu juga bagian dari cinta sekaligus rasa memiliki.”


“Iya, tapi jangan berlebihan. Kan Mas tahu, aku cuma sayang dan cintanya ke Mas. Sejauh ini pun meski aku dekat dengan laki-laki lain, itu enggak lebih dari urusan pekerjaan karena sebisa mungkin aku berusaha profesional.” Arnita sengaja menjelaskan panjang lebar.


“Ok!” Dan benar-benar hanya dibalas sesingkat itu oleh Restu. Namun, Arnita merasa balasan barusan terbilang sudah level sangat manusiawi dalam kehidupan seorang Restu. Daripada hanya dibalas bergumam atau malah sama sekali tidak ditanggapi.


“Kok diem?” tanya Restu yang pada akhirnya bingung sendiri karena Arnita yang sejak pertemuan mereka setelah lima tahun berpisah menjadi jauh banyak bicara, malah kembali diam layaknya ketika mereka awal-awal kenal.


Sambil menggunakan jas Restu yang ada di pangkuannya untuk menyelimuti tubuhnya, Arnita berkata, “Sebenarnya aku ngantuk banget, Mas. Aku langsung tidur, ya? Nanti banguninnya kalau sudah sampai rumah?” Ia menatap sang suami dengan memohon.


Mata Arnita yang begitu sayu, membuat Restu tak tega. Hatinya terasa retak nyaris remuk hanya karena melihatnya.


“Nanti kamu enggak usah masak. Kamu sudah kecapaian begitu. Nanti aku saja yang atur menu, terus pak Lukman yang ambil di restoran langsung,” ucap Restu yang kemudian berkata, “Sepertinya keputusan kita mengundang orang-orang memang salah, sih. Masalahnya lagi, enggak ada momen lebih ngena dari sekarang juga.”


Restu mengangguk-angguk. “Ya sudah, sekarang kamu tidur.”


Arnita mengangguk-angguk sambil mengulas senyum. Tak butuh waktu lama untuknya lelap dan menemukan kenyamanan luar biasa karena semua beban hidupnya sudah ia lepas. Tak sekadar masalah pekerjaan, melainkan juga keadaan Devano yang jauh lebih baik. Devano mengalami peningkatan kesehatan pesat, semenjak Restu menjadi bagian dari mereka.


Langit semakin gelap digantikan dengan petang ketika akhirnya mobil Restu memasuki kawasan perumahan elite. Mobil Restu berhenti di depan rumah bergerbang tinggi dan memiliki dua lantai. Rumah minimalis bernuansa putih dan keemasan itu memiliki halaman yang terbilang luas. Bunga-bunga di taman pun tampak sangat terawat. Seorang satpam langsung keluar membukakan gerbang, tak lama setelah Restu menekan klakson.


Walau hanya memiliki dua lantai, rumah Restu terbilang mewah. Di sudut taman samping saja sampai disertai kolam ikan dan di sana ada Devano yang sedang bersantai bersama pak Lukman. Bocah itu langsung memasang wajah datar ketika mendapati mobil Mario menjadi bagian dari kepulangan orang tuanya.

__ADS_1


***


Acara makan malam di kediaman Restu berakhir dengan hangat, walau dari awal kebersamaan mereka diwarnai banyak kecanggungan. Khususnya bagi Mario, dan juga Fiola.


“Apakah kamu merasa dendam kepada saya, hingga kamu tidak mau kembali menjadi bagian dari perusahaan?” Tuan Cheng menatap Arnita penuh keseriusn.


“Kamu jangan marah-marah ke Mamah!” kesal Devano yang langsung dipeluk oleh Arnita.


Karena meski kedua tangan Devano masih diperban, bocah itu hanya tinggal menunggu pemulihan. Restu yang duduk persis di sebelah Arnita, di tempat duduk ujung berhadapan dengan Tuan Cheng, menjelaskan. Alasan Arnita mengundurkan diri, murni karena istrinya itu ingin lebih fokus mengurus Devano.


“Devano kan sudah punya penjaga khusus. Kalian pun bisa membawanya ke kantor kapan pun!” Tuan Cheng begitu ngotot karena ia sadar, Arnita bisa menjadi tambang berlian untuknya. Yang otomatis, kehilangan Arnita juga membuat perusahaan seperri kehilangan sebagian nyawa.


“Maaf, Pah. Namun memang seperti yang Mas Restu katakan, saya ingin fokus menjadi IRT, mengurus keluarga saya. Selain saya yang memang sedang promil.” Arnita meyakinkan.


Hubungan Arnita dan Restu sukses membuat sekelas Fiola baper. Wanita itu menjadi sibuk menahan senyum apalagi kini, ia duduk berhadapan dengan Mario.


“Kamu enggak mau fokus urus anak juga seperti istriku?” todong Restu yang dari awal sudah mengawasi gerak-gerik Fiola apalagi wanita itu juga yang menjadi acara makan malam kali ini ada.


Tak hanya Fiola yang syok. Karena kedua orang tua wanita itu juga kompak memelotot menatap Restu. Mario juga sebenarnya terkejut dengan perkataan Restu barusan, tapi Mario yang memang tipikal pemikir positif, tidak sampai berpikir, Fiola sudah memiliki anak, hingga Restu berucap seperti itu.


Mario meraih gelas berisi air putihnya dan memang masih tersisa setengah. Ia meminumnya tanpa menatap siapa pun karena bagaimanapun, di sana ia paling asing.


“Rayyan sudah sebesar itu, dan sampai sekarang, yang dia tahu aku papahnya. Memangnya sebagai mamahnya, kamu enggak malu melihat darah dagingmu sebingung itu? Dia beneran enggak paham siapa orang tuanya loh, Fi!” Restu tetap berbicara walau kedua mata Fiola dan orang tuanya hampir loncat menggerogotinya. Termasuk itu Mario yang sampai terbatuk-batuk, setelah sebelumnya, pria itu juga sampai menyemburkan air minum yang ada di dalam mulutnya dan harusnya ditelan. Bukan malah disemburkan.

__ADS_1


“Hah? Fiola, masih sepiyik ini sudah punya anak?!” batin Mario benar-benar syok, tapi ia tetap tidak berani menatap siapa pun, apalagi setelah adegan ia menyemburkan air minum di dalam mulutnya.


“Ya Tuhan ... pas aku seusia Fiola, aku masih sibuk mikirin tugas kuliah sambil jadi barista biar tetap bisa menyambung hidup! Karena meski kuliah pun aku masih dapat beasiswa, ya tetap saja masih banyak pritilan yang harus dibayar!” batin Mario lagi, merasa tak habis pikir pada Fiola. Terlebih jika ia mengingat betapa mengesalkannya wanita itu yang kerap menguji kesabarannya di setiap diajak kerja sama.


__ADS_2