
Baru bangun tidur, Arnita sudah menjadi rebutan Restu dan Devano. Keduanya sama saja, sama-sama manja dan tidak ada yang mau mengalah.
“Papah kan sudah gede, Papah ngalah dong!” protes Devano.
“Papah kan suaminya Mamah. Ya enggak apa-apa!” balas Restu sambil terus memeluk Arnita yang masih meringkuk menghadap kepadanya, tanpa mau membaginya kepada sang putra.
“Mamah!” Devano nyaris menangis.
Arnita yang bertahan diam, menjadi kerap menghela napas pelan. “Baru satu sudah serame ini. Apa kabar kalau beneran empat?” lirihnya ketika akhirnya tatapannya bertemu dengan Restu. Kemudian, yang ia lakukan adalah mencubit gemas perut pria itu.
“Mamah ....” Devano beneran ngambek lantaran sang papah malah menciummi wajah mamahnya dan tak kunjung membaginya.
“Sini ... siniii!” Arnita buru-buru meraih tangan dan juga kepala Devano. Membuat bocah itu ada di antara dirinya dan Restu.
“Kalian itu mirip banget. Lihat, lihat wajah kalian begini kayak lihat kalian bercermin. Sudah, sekarang baikan.” Yang langsung Arnita tatap adalah Restu. “Tolong, Papah juga yang ngebet pengin punya anak!” lirihnya sengaja mengingatkan.
Restu tersenyum tak berdosa kemudian mencoba merayu Devano yang telanjur tak mau didekati olehnya.
“Sudah Vano sama Papah dulu. Ini Mamah risi banget, pengin mandi. Kalian kasih makan ayam sama bebek dulu di belakang rumah,” bujuk Arnita membingkai wajah Devano penuh sayang. Putranya itu tetap ngambek, tapi Restu memaksanya, membawa Devano pergi dari sana.
“Kita ambil telur bebek langsung dari kandang!” Bujuk rayu Restu masih terdengar jelas.
“Papah bohong!” Devano sudah terlalu hafal bahwa sang papah tipikal jail luar biasa.
Mendengar itu, Arnita hanya menghela napas pelan, menyibakkan selimut kemudian merapikan tempat tidur.
“Enggak kebayang kalau beneran jadi, tambah adik, dan Vano malah ngambek gara-gara ada saingan tetap. Sama papahnya saja gitu.” Namun Arnita yakin, program hamil yang ia jalani bersama Restu positif jadi. Tak ada tanda-tanda dirinya akan mens, meski akhir-akhir ini, dirinya juga merasa gampang lelah, persis seperti saat ia hamil Devano.
Penasaran lantaran tak ada lagi protes dari Devano, Arnita yang sudah beres membereskan tempat tidur, sengaja memastika ke belakang rumah. Ia bertemu bi Ade yang langsung menyapanya dengan senyum ramah. Wanita bertubuh gempal tersebut juga langsung menawarinya sarapan.
“Tom Jerry-nya masih di belakang, Bi?” tanya Arnita sambil meraih air hangat dari termos. Sang ART langsung menahan senyumnya. “Rempong banget Bi. Enggak ada yang mau ngalah.”
“Kalau saya lihat sih, Mas Restu beneran sudah bahagia banget. Sebelumnya, bertahun-tahun ikut beliau, saya belum pernah lihat mas Restu sebahagia sekarang,” ucap bi Ade.
__ADS_1
Arnita mesem sambil duduk dan mulai meminum air hangatnya.
“Itu taaii, Pah!”
“Enggak apa-apa.”
“Jijikk, Pah! Ih, ternyata telur gitu. Kulitnya ada tainya!”
Mendengar obrolan Restu dan Devano barusan, Arnita dan bi Ade kompak tertawa.
“Oh iya, Bun. Tadi, pagi-pagi pak Iman pamit. Rumah kebakaran, Sita sama ibu Misya kepanggang!”
Kabar dari bi Ade barusan, langsung membuat Arnita tegang. Arnita merasa syok, tapi ia langsung berusaha meredamnya.
Sekitar satu jam kemudian, setelah mandi dan juga sarapan, Arnita dan Restu memboyong Devano menuju rumah pak Iman, menggunakan mobil. Benar, ibu Sita dan ibu Misya sungguh terbakar. Ada aparat desa dan beberapa warga yang terjaga di sekitar sana. Rumah gedong semi permanen milik pak Iman nyaris ludes terbakar. Sedangkan kedua korban sudah dilarikan ke rumah sakit.
Arnita tak berniat mencari informasi lebih lanjut. Wanita itu hanya beranggapan, tragedi terbakar itu menjadi bentuk teguran dari Tuhan karena walau sebelumnya sudah sampai dipenjara, tampaknya Sita dan sang mamah, sama sekali belum berubah atau setidaknya menyadari kesalahannya. Buktinya, ada warga yang memastikan keberadaan keduanya untuk melanjutkan transaksi jual tanah dan juga sawah. Murka, tentu saja Arnita merasakannya.
“Enggak terbayang, gimana rasanya dipanggang hidup-hidup, dan sampai sekarang masih hidup!” batin Arnita yang sangat penasaran, apakah teguran kali ini, masih belum bisa membuat kedua wanita itu jera?
“Pah, pergi yuk? Lingkungan ini enggak baik buat Vano,” bisik Arnita yang langsung disanggupi oleh Restu.
Restu yang sampai memanggul Devano, membimbing Arnita ke mobil setelah sebelumnya, mereka juga kompak bersalaman pamit kepada setiap warga sekaligus aparat di sana.
“Ban depan sebelah kanan anginnya kurang, yah, Pak?” tanya Restu kepada sang sopir.
Di sebelah Restu, Arnita langsung berkata, “Paling ya ke bengkel Juan.”
“Enggak ada yang lain, gitu?” tanya Restu sambil menatap sang istri.
“Sekalian say hai, Pah. Siapa tahu dia kangen kamu,” ujar Arnita yang awalnya sedang mengecek ponselnya sambil membiarkan Devano meringkuk di pangkuannya.
Restu tersenyum geli. Tangan kirinya meraih punggung kepala sang istri kemudian sibuk membelai di sana.
__ADS_1
“Mau sekalian say haii ke Lia, enggak? Dia sudah nikah lagi, kan, sama mantan terindahnya?” lanjut Arnita.
Restu kembali menatap sang istri dengan senyum yang kian lepas. “Ini misi?” lirihnya memastikan.
“Tentu!” balas Arnita sambil tersenyum elegan. “Aku yakin, kita sudah langsung jadi trending topik orang kampung, dan baik Juan maupun Lia, pasti sudah langsung penasaran.”
Restu mengangguk-angguk paham seiring senyum di wajahnya yang kian lepas. “Kita enggak mau jalan kaki saja?”
“Bos kecil enggak suka kotor-kotor, Pah. Jalanan berlumpur, becek, yang ada nanti dia berisik. Paling nanti sore kalau agak panas dan jalanan enggak becek ya,” balas Arnita.
Restu tersenyum geli menertawakan sang putra. “Mirip siapa sih ini? Tantrum mulu!” Restu mencubit gemas pipi sang putra dan langsung mendapat lirikan tajam dari yang bersangkutan. Bibir berisi milik Devano yang sangat mirip dengan bibirnya, sudah langsung manyun menutup rata hidung.
“Sini, sini ... sama Papah saja. Itu di perut Mamah ada dedeknya, kasihan nanti sakit!” bujuk Restu berusaha mengemban Devano. Ia terlalu yakin program hamil Arnita jadi, apalagi sejauh ini, mereka sama-sama sehat.
Arnita yang langsung tersipu, menatap tak percaya sang suami. Melalui lirikan, ia mengajak Restu untuk memastikan ekspresi sekaligus tanggapan Devano mengenai bocah itu yang akan diberi adik.
“Gimana, Kak? Kakak mau punya adik, kan?” tanya Arnita sengaja memastikan.
Devano langsung merengut, buru-buru pindah dari pangkuan sang mamah. Sambil bersedekap, ia berkata, “Nanti adiknya kasih ke pak Lukman saja!”
Mendengar itu, tak hanya Restu dan Arnita yang tertawa. Karena pak Lukman yang dimaksud maupun sang sopir yang mengemudi dengan sangat hati-hati, juga menjadi sibuk menahan tawa mereka. Sebab tertawa ditahan saja sudah langsung membuat bos kecil murka. Apalagi kalau mereka terus tertawa.
“Ya jangan dikasih ke Pak Lukman. Kakak harus sayang adiknya,” ucap Arnita berusaha membujuk sang putra, tapi Devano menolak. Bocah itu langsung menjaga jarak kemudian memeluk Restu.
“Oh, sekarang jadi anak Papah?” Arnita menertawakan Devano. Gemas jika bocah itu sudah ngambek. Apalagi, Restu dengan sengaja memanfaatkan kesempatan untuk menguasai Devano. Pria itu langsung sangat memanjakan Devano.
“Mamah kan sudah punya adek bayi!” kesal Devano.
Arnita menahan senyumnya sambil melirik penuh arti Devano, kemudian berganti pada Restu yang juga malah sengaja memamerkan pelukannya dan Devano.
“Anda jahad sekali ... nanti malam, Anda tidur di luar, ya?” ancam Arnita dan sukses membuat kedua pria dewasa di depan, menertawakannya.
Lain dengan Restu yang langsung ketar-ketir. Apalagi ketika Arnita dengan sengaja membuka kaca jendela mobilnya, tak lama setelah mereka sampai bengkel Juan. Restu langsung kebakaran jenggot, berusaha menaikan kembali kaca jendelanya.
__ADS_1