
Sebuah mobil sedan masuk ke pekarangan mansion keluarga Ardianata. Vano turun dari mobilnya, dia masuk kedalam mansion terlihat wajah yang nampak lelah.
"Apa Syilla sudah pulang? " tanya Vano pada salah satu pelayan.
"Nona muda sudah pulang tuan" jawab pelayan tersebut.
Vano pun menaiki tangga menuju kamarnya saat di membuka kamar. Kamar terlihat kosong tapi Vano mendengar gemericik air dikamar mandi,mungkin Syilla sedang mandi pikir Vano.
Vano melepaskan jas kantornya dan juga dasi tidak lupa dia menggulung lengan bajunya. Vano terlihat sangat tampan dengan baju kemeja dan rambut yang terlihat acak-acakkan menambah kadar ketampanannya. Andai para wanita melihat Vano seperti ini mungkin akan berteriak histeris .
Vano memainkan ponselnya sambil menunggu Syilla yang masih berada dikamar mandi. Saat dia tengah asik memainkan ponselnya pintu kamar mandi terbuka menampilkan Syilla yang keluar dengan memakai handuk berwarna putih sebatas dada dan paha memperlihatkan kulit putih mulusnya dengan rambut yang dicepol asal.
Vano mendongak menatap kearah Syilla sambil meneguk salivanya kasar bagaimana dia tidak tergoda dengan menampilan Syilla yang seperti ini dan hasrat laki-lakinya mulai bangkit.
Sedangkan Syilla masih belum menyadari keberadaan Vano. Karna biasanya Vano pulang jam 07:00 sedangkan jam masih menunjukkan jam 06:00 itulah kenapa Syilla keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk dia mengira Vano masih lama pulang dari kantor.
Syilla menuju lemari khusus baju ketika dia sudah mengambil bajunya Syilla hendak berbalik tapi dia menabrak sesuatu saat dia medongak Syilla langsung membulatkan matanya. Tiba-tiba saja Vano sudah berada dibelakangnya sambil menatap lekat Syilla.
"Apa kau sengaja menggoda saya hmm" ujar Vano yang tak lepas memandang wajah Syilla.
"A-apaan sih o-om a-aku gak godain om kok" bantah Syilla dengan ucapan yang terbata-bata.
Syilla mundur pelan-pelan tapi Vano lebih dulu menahan pinggangnya.
"Om lepasin aku" ujar Syilla dengan wajah yang terlihat panik.
"Saya tidak akan melepaskan kamu" bisik Vano ditelinga Syilla.
Syilla yang merasa ada alarm bahaya itu. Berusaha segera lepas dari Vano .
"Om please! Lepasin aku" mohon Syilla.
"Tapi kamu harus bertanggung jawab? " ujar Vano.
"Perasaan aku gak buat salah deh" ujar Syilla
"Kamu masih belum paham? " tanya Vano
Syilla hanya menggelengkan kepalanya dengan tampang polosnya tentu itu menggemaskan bagi Vano.
"Dia sudah bangun karna mu" ujar Vano
Syilla yang mulai paham melihat kearah celana vano dan benar saja bawah celana Vano terlihat kencang.
Syilla tidak mau keperawanannya harus diambil Vano walau dia mulai mencintai pria ini bukan berarti dia harus menyerahkannya kecuali Vano sudah memiliki perasaan cinta padanya.
__ADS_1
Tidak ada cara lain Syilla pun menginjak kaki Vano. Membuat pria itu meringis kesakitan. Syilla tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan langkah cepat dia masuk kekamar mandi dengan membawa baju.
Didalam kamar mandi napas Syilla naik turun untung dia cerdas kalau tidak habis dia dengan orang itu.
Syilla keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian tidur dilihatnya Vano duduk dikasur sambil menatap tajam dirinya.
"Sakit ,ya om? " tanya Syilla dengan wajah tak bersalah.
"Menurutmu? " Vano balik bertanya
"Kayanya gak sakit deh" jawab Syilla
Vano ingin sekali menghabisi gadis yang ada di depannya ini . Vano masuk kekamar mandi dengan wajah yang terlihat marah dan tentu dengan hasrat yang tidak bisa dia tahan terpaksa harus bersolo karir dikamar mandi dan itu semua karna Syilla.
🌹🌹🌹🌹🌹
Syilla turun dari mobil Vano karna mulai sekarang Vano akan selalu mengantar Syilla mungkin Vano ingin lebih dekat lagi dengan gadis ini.
"Om makasih udah anterin aku" ujar Syilla dengan senyumannya.
"Hmm" dibalas Vano dengan deheman
tapi ini malah membuat syilla kesal
"Terus saya harus jawab apa? " tanya vano
"Balas iya kek atau sama-sama" ujar Syilla
"Iya" ujar Vano
Mobil itu pun mulai berjalan sampai jauh tak terlihat. Syilla pun masuk ketempat kerjanya tapi malah melihat adegan berantem sahabatnya.
"Heh apa lo berani sama gue" tantang Dinda pada Nina sambil menggulung lengan baju pendeknya.
"Lo pikir gue takut sama lo" Nina tak mau kalah
"BERHENTI" teriak Syilla
"Kalian kenapa sih berantem mulu? Ini masih pagi dan juga malu dilihat sama orang" Syilla yang mencoba melerai mereka berdua.
"Ini sahabat lo bilang kalau cincin emas
gue imitasi" ujar Nina sambil menunjuk kearah Dinda.
"Gue gak ngomong gitu ,gue cuma bila mungkin imitasi" sahut Dinda
__ADS_1
"Sama aja Jubaidah" celetuk Nina
"Heh jangan panggil gue Jubaidah, Markonah" Dinda tak Terima.
"Elo juga jangan panggil gue Markonah, Marpuah" sahut Nina
"Elo... " belum sempat Dinda berbicara tapi sudah dipotong Syilla.
"Sekarang berhenti berantem dan cepat kita kerja kalau enggak gue laporin ke bos" ancam Syilla.
"Untung ada Syilla kalau enggak gue buat lo kaya perkedel" celetuk Dinda
"Enteng ede Syella keleu enggek gee beut le keye perkedel! wlee" Nina mengejek perkataan Dinda sambil menjulurkan lidahnya dan langsung berlari keluar. Dinda yang ingin mengejar langsung di tahan oleh Syilla.
"Udah dari pada lo ngejar dia lebih baik kita kerja" ujar Syilla.
"Iya Syilla" jawab Dinda dengan wajah lesu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Sedangkan dikantor Vano masih fokus ke laptopnya sambil tersenyum sendiri mengingat kejadian kemarin sungguh Syilla sangat lucu dengan wajah paniknya. Padahal dia hanya menggodanya saja tapi ternyata Vano tidak bisa mengendalikan hasratnya. Seorang karyawan mengetuk pintu berulang kali tapi tidak ada balasan jadi karyawan itu langsung saja masuk. Tapi yang dia lihat Vano tersenyum-senyum sendiri.
"Pak Vano, pak Vano " ujar karyawan tersebut
Vano yang dipanggil pun tersadar dari lamunannya itu.
"Kenapa kau ada disini!!Dan kenapa tidak mengetuk pintu dulu? " ujar Vano dengan tatapan marah, vano tidak suka orang lain masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Maaf Pak tapi saya sudah berulang kali mengetuk pintu tapi pak Vano tidak mendengarnya" jelas karyawan tersebut.
"Yasudah, sekarang ada apa kau kesini? " tanya Vano
"Saya mengantarkan berkas pak " jawab karyawan tersebut.
"Kalau begitu kau boleh keluar"perintah Vano yang langsung di angguki karyawan nya.
Vano memijit pelipis nya karna memikirkan Syilla, dia dibuat tidak konsen bekerja.
B**ersambung..
***Hallo jangan lupa vote , like dan komentarnya ya biar authornya makin semangat buat ceritanya.
Maaf bila ceritanya kurang memuaskan
dan terimakasih😄***
__ADS_1