
Devan mengendong tubuh Syilla dan masuk kedalam rumah sakit. Dia tak memperdulikan bajunya yang terkena noda darah.
"Suster!!!Dokter!!! " teriak Devan, tak memperdulikan tatapan semua orang.
"Silakan pak, bawah masuk " ujar suster tersebut. Devan membawa masuk Syilla kedalam ruang UGD. Pria itu meletakkan Syilla diranjang rumah sakit.
"Silahkan keluar, kami akan menangani pasien" ujar seorang dokter pria yang bernama Beni di nama tag bajunya.
"Tapi kau harus selamatkan dia" Devan menunjuk Syilla.
"Baik Pak, akan kami usahan yang terbaik " ujar dokter Beni.
Devan keluar dari ruangan tersebut, pria itu duduk di kursi tunggu. Rambut yang acak--acakan, baju yang kusut dan noda darah. Suara dering ponsel menandakan panggilan masuk.
"Hallo ada apa? " Devan yang mengangkat panggilan dari sekretaris.
"....... "
"Katakan padanya, rapat diundur saya ada urusan mendadak" ujar Devan.
"........ "
"Kalau dia tidak mau, batalkan kerja sama kita dengan perusahaannya" Devan langsung mematikan sambungan telepon.
Tidak mungkin dia mementingkan rapat kantor, sedangkan Syilla dalam keadaan kritis. Devan mondar-mandir menunggu didepan ruangan tersebut. Hampir satu jam, tapi tidak ada tanda-tanda dokter itu akan keluar, hingga beberapa menit dokter Beni keluar, setelah memberi penanganan pada Syilla.
Dengan cepat Devan mendekat kearah dokter muda itu.
"Bagaimana? Dia baik-baik saja kan? " tanya Devan dengan wajah khawatir.
Dokter itu menghembuskan napas pelan dan menatap Devan.
"Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritis, beruntung anda membawa pasien kerumah sakit tepat waktu bila tidak mungkin dia sudah kehilangan nyawanya, tapi.. "dokter itu menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Tapi apa dokter" Devan dengan wajah khawatir
"Tapi pasien mengalaminya amnesia" ujar dokter Beni.
Devan terdiam,entah apa yang sedang dia pikirkan .
"Kalau begitu saya permisi "ujar dokter tersebut.
Devan masuk keruangan , dimana Syilla dirawat. Syilla masih menutup matanya dengan wajah yang pucat dan perban yang ada di kepalanya. Pria itu mendekat, memperhatikan gadis itu, dia duduk di bangku dekat brankar tersebut.
" Maaf, aku terlambat menyelamatkanmu, andai aku sudah mengetahui rencana wanita ular itu, mungkin kamu tidak berada disini"lirih Devan.
Devan mengangkat panggilan ponsel dari tante Riana.
"Hallo tante, ada apa ? "
"Devan cepat pulang, Syilla meninggal hiks.. dan Vano mengurung dirinya dikamar, tante takut anak itu melakukan hal yang tidak -tidak" ujar Riana disertai tangisan
"Baik tante aku akan kesana" ujar Devan.
*******
"Devan!! " teriak Riana saat melihat Devan yang sudah datang.
"Kenapa tante? "
"Syilla meninggal dan Vano mengurung dirinya setelah pulang dari kantor polisi" ujar Riana.
"Tante tenang ya, biar aku yang urus Vano " ujar Devan menenangkan Riana.
"Iya tante, betul kata Devan tante tenang ya" ujar Nilam pura-pura perhatian. Devan menatap sinis Nilam, dia merasa jijik dengan wanita yang sudah mencelakai Syilla.
Devan masuk kedalam kamar Vano, untung tante Riana memiliki kunci cadangan. Yang pertama Devan lihat kamar yang berantakan dan Vano yang duduk dilantai dengan bersandar dibibir ranjang.
__ADS_1
"Van, sabar ya" ujar Devan menepuk bahu Vano.
"Pergi, buat apa kesini, saya ingin sendiri" ujar Vano dengan pandangan lurus dan nada dingin.
Devan menghela napas kasar dan mencoba untuk menghibur Vano.
"Vano, kamu gak boleh kaya gini, semangat!! Ingat mama sama papa kamu Van" ujar Devan.
"PERGI, AKU BILANG PERGI!! GAK USAH SOK PERHATIAN, PERGI!! " teriak Vano.Saat ini emosinya tak setabil, apalagi dengan kabar meninggalnya Syilla, membuat dia tidak bisa mengendalikan emosinya.
Devan memilih keluar , mungkin Vano butuh waktu sendiri.
"Bagaimana? " tanya Riana.
"Sepertinya Vano butuh waktu sendiri tan, apalagi dengan emosinya yang tak setabil" jelas Devan.
"Begitu ya, tante juga gak nyangka menantu tante yang sudah dianggap seperti anak kandung tante sendiri meninggal, apalagi melihat keadaan Vano seperti ini . Ini membuka luka lamanya saat dia kehilangan Rania" ujar Riana.
"Sabar yang tante, aku yakin Vano pasti bisa melewati ini semua " ujar Devan.
*******
"Gimana mah, apa mama yakin kalau Syilla sudah meninggal ? " tanya Nilam pada mamanya yang disebrang sana.
"Sudah sayang mama yakin,dan sekarang kita rayain kematian gadis itu gimana"
"Aaaa, mau banget mah, gimana kita rayain nya club"
"Ok, mama tunggu disana ya sayang, by"
"Ok mah, by"
Nilam mematikan panggilan telponnya dan hendak bersia-siap untuk pergi. Tanpa dia sadari seseorang menguping semua pembicaraannya .
__ADS_1
"Sepertinya aku harus menyembunyikan Syilla, bisa saja wanita ular itu, akan mencelakai Syilla lagi " ujar Devan, setelah mendengar pembicaraan tadi.
Bersambung...