
Devan hendak meraih tangan Syilla, namun gadis itu menggeser tubuhnya menjauh duduk dari Devan sambil mengelus rambut Vino yang tertidur di pangkuannya.
"Maafkan, aku Syilla " ujar Devan yang merasa bersalah.
"Tidak usah minta maaf, aku sudah terbiasa dengan perlakuanmu itu " ketus Syilla sambil meletakkan tubuh Vino dengan pelan dikasur.
"Aku mempunyai alasan, kenapa aku seperti itu Syilla" ujar Devan.
"Alasan apa? " tanya Syilla.
"Aku tidak bisa memberitahu mu, tapi suatu hari nanti kau akan tau" ujar Devan.
Maafkan aku Syilla, aku hanya takut bila rasa cinta ini semakin tumbuh dihati ku pada kamu.
Karna perhatian yang kau berikan padaku, sedangkan kau istri dari Vano.
Devan menatap Syilla sendu dan berjalan keluar kamar. Gadis itu menatap kepergian Devan, sebenarnya Syilla merasa dia tidak ada perasaan cinta pada Devan. Karna sebuah kecelakaan dia harus kehilangan sebagian ingatannya.
******
Vino menarik tangan Syilla menuju ke penjual es krim.
"Unda aku mau itu " tunjuk Vino pada gambar yang terdapat es krim rasa coklat.
"Tapi satu aja ya, gak boleh dua nanti batuk " peringat Syilla pada putra kecilnya itu. Vino megangguk lucu. Syilla tersenyum sambil mencubit pipi gembul Vino pelan.
"Pak, beli es krim rasa coklatnya satu ya " ujar Syilla, pada penjual es krim.
__ADS_1
"Ini mbak es krim nya"
"Berapa pak? "
"15 ribu mbak"
"Ini, terimakasih ya pak" Syilla pun membawa duduk Vino yang tengah menjilati es krim favorit itu dikursi taman.
"Enak gak es krimnya"
"Enak unda, Ino suka " Vino kembali memakan es krimnya.
Vano berjalan menuju sebuah taman, dia sudah lama tidak kesini. Dulu Syilla dia bawa kesini , tapi sekarang tempat ini menjadi kenangan yang mengingatkannya dengan Syilla.
"Sayang, bunda beli air minum dulu ya, kamu duduk disini jangan kemana-mana" ujar Syilla.
"Iya unda, Ino gak akan kemana-mana"
"Wah, ada kupu-kupu" anak itu berlari mengejar kupu-kupu tersebut. Hingga langkahnya terhenti ketika kupu-kupu tersebut menghilang.
"Kupu-kupunya mana, Ino pengen nangkep " gumamnya sendiri.
Vano yang tak sengaja melihat Vino mendekati anak tersebut. Entah mengapa Vano merasa bahagia bisa bertemu dengan anak yang mirip dengannya itu.
"Hallo jagoan lagi apa disini? " tanya Vano sambil menyamakan tingginya dengan Vino.
Sedangkan anak itu menatap tidak suka pada Vano.
__ADS_1
"apaaan sih cana om pelgi, aku gak suka om, cana pelgi " usir Vino.
Vano yang mendengar Vino mengusirnya merasa sakit dan juga sedih.Vino menatap datar Vano.
Syilla dibuat panik ketika melihat Vino tidak ada dikursi taman, dia kesana -kemari mencari putranya itu. Sampai dia melihat Vino yang terlihat bersama seorang pria yang tidak dia kenal.
"VINO!! " panggil Syilla sambil berteriak.
Vano dan Vino bersamaan berbalik badan ketika mendengar teriakan orang yang mereka berdua kenal.
Deg
Tubuh Vano mematung, jantung seakan berhenti berdetak. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya. Syillanya masih hidup, istrinya yang dia kira meninggal masih hidup. Vano dan Vino bersamaan berlari menuju kearah Syilla.
Vino memeluk pinggang Syilla dan Vano langsung menerjang tubuh Syilla.
"Mas, lepasin saya, apaan sih peluk-peluk" protes Syilla sambil mendorong tubuh Vano.
"Sayang, saya sangat merindukanmu " ujar Vano semakin mengeratkan pelukannya. Syilla kaget mendengar pria asing yang memeluknya ini memanggil sayang .
Syilla mendorong tubuh Vano hingga terlepas.
"Mas, jangan kurang ajar sama saya, saya bisa aja teriak" ancam Syilla.
"Syilla ini saya Vano suami kamu" ujar Vano.
"Jangan nipu saya ya! suami saya itu Devan! " ketus Syilla .
__ADS_1
Vano yang mendengar itu mengepalkan tangannya, jadi selama ini Devan menyembunyikan istri dan anaknya ,tanpa memberitahunya bahwa masih hidup. Vano yakin Vino adalah anaknya karna wajahnya sangat mirip dengannya.
Bersambung...