
Syilla tengah sibuk berkutat di dapur, dia tengah membuat sebuah cake. Para pelayanan tidak di izinkan membantunya, bukan apa-apa dia hanya ingin anaknya memakan cake buatannya sendiri, ada kebahagiaan tersendiri bila orang yang dicintai memakan sesuatu yang dibuat dengan jerih payah sendiri.
"Unda, unda lagi apa? " tanya Vino yang tiba-tiba memeluk kakinya. karna tinggi Vino hanya sepinggangnya Syilla. Mungkin cukup tinggi untuk seumuran Vino, karna prawakan tubuh putranya mengikuti gen ayahnya. Vano.
"Kan Vino yang mau minta buatin cake, masa lupa sih" Syilla mencolek hidung mancung putranya. Vino tertawa ketika Syilla mencolek hidungnya.
"Lebih baik Vino main ya, nanti kalau udah jadi cake nya bunda panggil sayang" ujar Syilla lembut.
Vino menggeleng kepalanya cepat "Enggak unda Ino mau bantuan unda, kacian unda pasti capek" ujar Vino.
"Uluhuluh, anak bunda baik banget sih mau bantuin, tapi gak boleh main-main ya "ujar Syilla. Vino tersenyum senang ketika Syilla mengizinkannya untuk membantu.
" Unda, Ino bantuin apa? "tanya Vino.
" Tolong, ambilkan tepung di meja itu nak, tapi jangan sampai tumpah ya"peringat Syilla.
Tiba-tiba sebuah tangan kekar menelusup masuk dan memeluk perut Syilla erat. Siapa lagi kalau bukan Vano, pria itu masih memakai baju kantornya, dia baru pulang dari kantor setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya.
"Masak apa sayang ." tanya Vano . Pria itu menjatuhkan dagunya di bahu Syilla.
"Lagi buat cake " jawab Syilla sambil memasukkan bahan -bahan untuk membuat cake kedalam wadah . Vano menghirup aroma tubuh Syilla seakan memberi ketenangan padanya dan menjadi candu untuk Vano.
__ADS_1
"Mas, ihh geli jangan kaya gini, malu kalau dilihat orang "gerutu Syilla. Ketika Vano mendusel-dusel lehernya.
" Kalau dikamar boleh "celetuk Vano.Sontak membuat pipi Syilla memanas, membuat wanita ini salah tingkah.
Sebuah tangan kecil mendorong Vano tapi tidak membuat pria itu mundur . Vano menatap ke bawah ,Vino memasang wajah sangarnya namun malah terlihat gemas dimata Vano dan Syilla.
"Om , jangan peluk -peluk unda Ino, unda cuma punya Ino" ujar Vino menatap tajam Vano.
Anak itu berdiri didepan Syilla merentangkan kedua tangannya seakan takut Vano merebut bundanya. Syilla hanya terkekeh melihat tingkah laku putranya.
"Sayang, jangan panggil om tapi panggil ayah nak. Kan om Devan udah jelasin kalau ayah kandung depan bukan dia" ujar Vano menyamakan tingginya dengan Vino.
"Tapi orang yang didepan ini ayah kamu " Vano menunjuk dirinya.
Vano menghembuskan napas dalam-dalam, sangat sulit untuk meyakinkan putranya.
"Sayang, ayah belum tau kalau bunda dan kamu masih hidup " jelas Vano. Vino terdiam dan menatap kearah Vano.
"Kalau gak percaya, coba tanya bunda" sambung Vano. Kini Vino beralih menatap kearah Syilla.
"Bener unda, kata om jelek ini " tunjuk Vino pada Vano yang menganga ketika putranya sendiri mengatakan dirinya jelek.
__ADS_1
"Iya sayang, bener " ujar Syilla sambil cekikikan menertawakan Vano yang menahan malu , gara-gara Vino.
Vano melihat Syilla menertawakannya, membuat pria itu memincingkan matanya kearah Syilla.
Awas kamu Syilla saya pastikan kamu tidak bisa jalan besok, saya kurung kamu dikamar.
Vano sambil menyeringai memikirkan hukuman apa yang cocok untuk istri cantiknya ini.Tiba-tiba sebuah pelukan mendadak dari Vino membuat Vano kaget.
"Ayah maafin Ino, tadi ayah Devan udah jelasin ke Ino, tapi Ino masih kesel sama ayah " ujar Vino sambil memeluk Vano erat. Vano begitu bahagia akhirnya putranya mau menerima dirinya. Pria itu memeluk Vino erat tak terasa air mata keluar dari mata Vano, dia sangat bahagia. Meski Vano harus merasakan kesedihan dan perpisahan , tapi tidak papa sekarang dia bisa berkumpul lagi dengan orang-orang yang dia cintai.
"Kalian jahat! Masa bunda dilupain" Syilla pura -pura ngambek.
"Sini sayang/sini unda" ucap Vano dan Vino bersamaan.
Mereka berpelukan, persis seperti Tulitubes.
"Terimakasih sayang sudah memberikan kebahagian ini untuk saya, terima kasih sudah memberikan jagoan seperti Vino untuk saya,dan terima kasih sudah bertahan untuk saya.Saya tidak tau bila hidup saya tanpa kamu,saya mencintai kamu" bisik Vano ditelinga Syilla dan mencium kening istrinya singkat.Syilla tersenyum lembut dan mencium pipi Vano.
Seberapa jauh Syilla dan Vano dipisahkan, takdir akan menyatukan mereka kembali. Cinta sejati itu bukan hanya sebuah cerita atau hanya mitos. Tapi cinta sejati itu benar adanya.Beruntung untuk Syilla di pertemuan dengan Vano,pria dingin,cuek namun begitu hangat pada orang yang dicintai dan sosok yang perhatian .Mereka menikah bukan karna keinginan atau karna saling mencintai tapi takdir lah yang menyatukan mereka.
Bersambung...
__ADS_1
***Jangan lupa vote ,like dan komentarnya ya, supaya aku up ceritanya lagi.
Terimakasih 😇***