Menikah Karna Kesalah Pahaman

Menikah Karna Kesalah Pahaman
Kemarahan


__ADS_3

Vano berdiri di balkon sambil menyesap barang rokok yang berada di tangannya. Dia merasa lebih tenang ketika merokok dan sudah tiga batang dia menghabiskannya. Vano menatap keatas langit sambil menghembuskan napas kasar. Mungkin saat ini perasaannya tidak karuan.


"Kapan kamu bisa menerima saya sebagai ayah kamu nak" lirih Vano. Sungguh Vano merasa sakit ketika anaknya menganggap orang lain sebagai ayahnya ketimbang dirinya. Pria itu tersenyum kecut.


Mungkin karna Devan yang selalu bersama mereka, membuat Syilla maupun Vino lebih nyaman bersama Devan. Apalagi Vano harus memikirkan bagaimana Syilla bisa mengingat semuanya.


Vano masuk kembali kekamar setelah amarahnya sudah mereda. Dengan pelan Vano memutar daun pintu. Saat masuk di melihat pemandangan yang membuat sudut bibirnya melengkung keatas. Syilla dan Vino tertidur nyenyak dikasur, gadis itu tertidur sambil memeluk Vino erat. Pria itu mendekat, berjalan sangat pelan takut membangunkan dua orang yang berarti dalam hidupnya itu.


"Jagoan ayah, tidurnya nyenyak banget ya" gumam Vano pelan sambil mengusap kepala Vino lembut dan memberikan kecupan dipipi tembem anak tersebut.


"Ayah akan berusaha, supaya kamu bisa menerima ayah. Dan ayah janji akan mengganti semua waktu saat ayah tidak bersama kalian. Maafkan ayah ya nak" lirih Vano.


Pria itu beralih menatap Syilla, di terus memandangi wajah gadis itu. Vano mengangkat tubuh Vino dan memindahkannya dipinggir ranjang.


"Maaf ya nak, ayah pengen tidur meluk bunda. Sekarang gantian ya" ujar Vano sambil terkekeh, walau sang anak tak mendengar ucapannya karna masih terlelap.


Vano merebahkan tubuhnya dengan pelan , dan kembali menatap Vino yang berada di belakangnya,memastikan anak itu tidak jatuh kebawah. Karna posisi Vano berada ditengah-tengah Vino dan Syilla. Vano menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu . Sambil tersenyum-senyum dan mengingat saat-saat dia masih belum menaruh perasaan pada gadis ini.


Syilla merasa terganggu,pasalnya Vano terus memberikan ciuman diwajahnya. Gadis itu mulai membuka matanya dan membulatkan matanya, melihat Vano berada tepat didepan wajahnya.


"Kamu ngapain disini? Dan kenapa meluk -meluk? Terus anak aku mana? " Syilla langsung melontarkan banyak pertanyaan pada Vano.


"Sssst, satu -satu sayang kalau nanya ? " ujar Vano menutup mulut Syilla dengan jari telunjuknya.


"Vino di sebelah saya, aman gak jatuh" ujar Vano.


"Tapi kenapa kamu pindahin sih" ketus Syilla dengan memasang wajah kesalnya .


"Saya pengen meluk kamu, masa Vino terus yang meluk kamu saya juga mau " Vano sambil memasang wajah tengilnya, entah sejak kapan Vano yang dingin menjadi tengil seperti itu.

__ADS_1


"Tapi aku gak mau, pindah gak " ketus Syilla.


"Syilla diam, atau saya cium" ancam Vano. Syilla langsung dia membisu mendengar ancaman Vano.


Vano terkekeh dan menarik gadis itu ke pelukannya. Syilla terlihat pasrah, karna percuma memberontak, dis tetap akan kalah melawan Vano.


"Dasar pemaksa" gerutu Syilla.


Sedangkan pria itu tak memperdulikan, dan menutup matanya.


******


Semua orang berkumpul di meja makan, untuk melakukan ritual sarapan pagi.


"Unda, Ino mau susu coklat" pinta Vino. Syilla menuangkan susu coklat ke cangkir yang sudah tersedia disana .


Dengan terpaksa Syilla mengambil susu untuk Vano.


"Ini susunya" Syilla meletakkan di depan Vano yang berada di sebelahnya.


Riana dan dimas tersenyum menatap mereka bertiga. Apalagi keluarga mereka sudah lengkap dan lebih bahagia dengan kehadiran Vino cucu pertama mereka.


Disela-sela mereka sarapan, suara seseorang mengalihkan kegiatan sarapan mereka. Devan berdiri didepan pintu dengan senyuman ramah.


Riana , Syilla dan Dimas menyambut ramah Devan. Sedangkan Vano menatap tajam Devan.


"Dasar penghianat" celetuk Vano yang bisa didengar Devan. Nemu pria itu tidak menghiraukannya.


"Ayah!! Ino kangen! "pekik Vino dan langsung berlari ke arah Devan. Dengan sigap Devan menangkap tubuh kecil Vino.

__ADS_1


" Ayah, ayah kenapa gak jemput Ino? "tanya Vino dengan wajah polosnya. Devan terdiam dan membalas dengan senyuman karna bingung harus menjawab apa.


Vano menahan mati-matian rasa marah dan cemburunya melihat Vino lebih dekat dengan Devan. Tatapan tajam terus di berikan pada Devan, Vano berjalan cepat kearah Devan dan menarik tubuh Vino yang berada di pelukan Devan.


" Om, lepasin aku gak mau sama om, aku mau sama ayah "Vino memberontak di gendongan Vano.


" DIAM!! DIA BUKAN AYAH KAMU!! "teriak Vano didepan wajah Vino. Anak itu menitikkan air matanya dan terdiam karna takut.


" Vano kamu jangan kaya gitu sama Vino! "Devan yang tak terima.


" Kenapa? Dia anak aku! Dan jangan ikut campur, kamu hanya orang asing"ketus Vano.


"Mas udah, jangan kaya gini"Syilla mencoba menengahi.


" Apa hah!! Kamu belain pria ini "bentak Vano pada Syilla. Sedangkan gadis itu terlonjak kaget.


" Sekarang masuk kamar!! "perintah Vano pada Syilla.


" T-tapi "ucapan Syilla terpotong.


" MASUK!!! "bentak Vano.


Terpaksa Syilla masuk kekamar, Vano menyerahkan Vino pada Syilla. Terlihat dimata anak itu terpancar rasa takut melihat Vano.


" Pah, kok kamu diam aja sih, itu anak kamu "ujar Riana dengan wajah panik. Dia hanya takut Vano berkelahi dengan Devan.


" Biarin aja, mereka sama-sama dewasa. Biarkan mereka menyelesaikan masalah sendiri, tanpa kita ikut campur "jelas dimas pada istrinya. Pria paruh baya itu hanya menonton, dan ingin melihat bagaimana putranya dalam bertindak menyelesaikan masalah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2