
Kandungan Syilla sudah sembilan bulan, membuat dia harus membatasi aktivitas bukan hanya mudah lelah tapi juga kakinya yang membekak membuat Syilla sulit berjalan.
Vano mengusap kepala Syilla yang berada dipangkuannya.
"Mas, kalau di kasih pilihan kamu milih aku atau bayi yang ada di perutku? " tanya Syilla.Vano menghentikan tangannya mengusap kepala Syilla ,dan menatap istrinya yang juga menatapnya.
"Kamu kenapa bicara seperti itu? Aku tidak bisa memilih kamu atau bayi kita. Kalian berdua berharga untuk aku " lirih Vano.Syilla meraih tangan Vano dan mengenggamnya.
"Mas, apapun yang terjadi padaku, aku mohon pilih bayi kita " lirih Syilla.Vano menarik tangannya digenggaman Syilla.
"Aku gak suka kamu ngomong gitu " ujar Vano dengan nada tidak suka.
"Aku mohon apapun yang terjadi padaku saat melahirkan nanti tolong pilih bayi kita. Dia mungkin bisa hidup tanpa aku, tapi aku tidak bisa hidup tanpa dia" ujar Syilla.
"Kita akan merawat bayi kita sama-sama, aku yakin kamu akan lancar proses lahirannya" ujar Vano.
"Tapi aku mohon kamu harus janji sama aku, pilih bayi kita yah" ujar Syilla menyatunya kedua tangannya. Vano terpaksa mengangguk dia tidak tega melihat Syilla memohon padanya. Vano berpikir itu cuma kekhawatiran istrinya. Syilla tersenyum kearah Vano.
Syilla memegangi perutnya yang terasa sakit, wanita itu meringis kesakitan.
"Mas, perut aku sakit " lirih Syilla memegangi perut buncit nya.
"Kamu sepertinya mau lahiran " ujar Vano panik.
Vano mengangkat tubuh Syilla dengan sekuat tenaga , air ketubannya pun sudah pecah.
"Mas, sakit " lirih Syilla dalam gendong Vano.Pria itu menuruni tangga menuju pintu keluar.
"Syilla kenapa Vano ?" tanya Riana khawatir .
"Syilla mau lahiran mah " jawab Vano, menuju pintu keluar .
"Pak Didin siap kan mobil!! " teriak Vano pada sopirnya,Didin mengeluarkan mobil dalam bagasi. Vano memasukkan Syilla dalam mobil .
"Vano mama ikut " ujar Riana, masuk kedalam mobil .
Syilla menggenggam tangan Vano erat menyalurkan rasa sakitnya. Riana mengusap peluh yang membanjiri wajah menantunya .
"Mas, sakit hiks.... " isak Syilla dalam pelukan Vano.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai ke rumah sakit " ujar Vano. Syilla meremas baju Vano, merasakan sakit luar bisa di perutnya.
"Pak Didin cepetan nyetirnya " ujar Riana.Wanita paruh baya itu mengusap kepala Syilla .
"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai nak " ujar Riana . Wanita paruh baya itu menatap iba pada menantunya.
Mobil melaju dengan kencang menerobos hujan yang deras,membelah jalan yang sepi dengan kecepatan diatas rata-rata. Mobil memasuki kawasan rumah sakit. Vano turun dari mobil menggendong Syilla, diikuti oleh Riana.
"Suster!! suster!! Tolong istri saya mau melahirkan!! " teriak Vano.Dua orang suster berjalan menuju kearah Vano
"Silahkan bawa istrinya ke ruang persalinan" ujar suster tersebut . Vano membawa Syilla ketempat yang di katakan oleh suster tadi.
Vano masuk ke ruang bersalin dan meletakkan Syilla di brankar.
"Pak silahkan keluar dari ruangan ini "ujar suster tersebut.
" Tapi saya ingin menemani istri saya "ujar Vano.
" Maaf Pak tidak bisa, silahkan keluar "Vano terpaksa keluar dari ruangan tersebut. Pria itu duduk dikursi ,menunggu kelahiran anak keduanya. Tak henti-hentinya Vano berdua demi keselamatan istri dan anaknya.Riana mengusap bahu Vano lembut. Vano mendongakkan kepalanya menatap Riana.
" Syilla pasti lancar proses bersalin nya "ujar Riana. Vano hanya menganggukkan kepalanya.
" Bagaimana? Istri saya sudah melahirkan? "tanya Vano. Dokter tersebut menghela napas pelan.
" Istri anda mengalami pendarahan, dan keadaanya kritis, hanya satu yang bisa diselamatkan antara ibu atau bayinya "ujar dokter tersebut.
Bagai disambar petir, tubuh Vano menegang dia hampir hilang keseimbangan. Vano menatap kedokter tersebut dengan mata berair.
" Aku mohon selamat kedua-duanya, aku mohon "ujar Vano menyatukan kedua tangannya pada dokter tersebut.
" Maaf kami tidak bisa, hanya satu yang bisa diselamatkan "ujar dokter wanita itu.
" Kami akan membayar berapa pun, tapi selamatkan menantu dan cucuku hikss... "tangis Riana pecah tidak bisa membendung lagi.
" Kami tidak banyak waktu, siapa yang diselamatkan ibu atau bayinya ? ".
" Selamat bayinya"ujar Vano dengan tatapan kosong. Riana menatap Vano tak percaya.
"Silahkan tanda tangani surat persetujuan ini"
__ADS_1
Vano menandatanganinya dan memberikan pada dokter tersebut..
Plakk
Riana menampar Vano kencang. Dia tak percaya Vano melepaskan Syilla begitu saja.
"Kamu kenapa harus pilih itu, Syilla gimana hiks... mama gak mau kehilangan Syilla Vano hiks... " lirih Riana.
"Kamu gak cinta sama Syilla Vano? Dengan mudahnya kamu melepaskannya hiks... "
"Karna aku mencintainya , aku mengabulkan keinginannya" lirih Vano dengan air mata yang membasahi pipinya. Vano memeluk Riana yang menangis pilu.
********
Vano menatap jasad Syilla yang terbujur kaku, Pria itu mendekat ke brankar dan membuka kain penutup putih diwajah istrinya.Tubuhnya melemah menatap wajah yang selalu tersenyum padanya kini pucat . Vano meraih tangan Syilla yang terasa dingin dan menciumnya untuk terakhir kalinya .
"Aku sudah mengabulkan permintaan mu sayang , untuk memilih bayi kita " ujar Vano dengan air mata yang meleleh di wajahnya.
Vano mencium kening Syilla, dan menatap wajah yang sudah mengisi hatinya,memberi warna dalam kehidupan dan membuat dia bisa merasakan cinta kembali.
"Aku mencintaimu Asyilla, meski kau tidak disisi ku lagi, aku akan tetap mencintaimu dan tidak ada yang bisa menggantikan mu dalam hatiku, tunggu aku sampai kita kembali bersatu di keabadian " ujar Vano memeluk tubuh Syilla yang sudah pucat. Tubuh pria itu bergetar hebat memeluk istrinya untuk terakhir kali.
Riana masuk kedalam ruangan tersebut , karna dia sempat pingsan.Riana memeluk tubuh menantunya dengan tangisan yang keras.
"Kamu kenapa ninggalin kita nak? gimana Vino dan bayi kamu , dia masih butuh kamu Syilla" Riana menguncang tubuh menantunya. Riana sangat menyayangi menantunya, seperti dia menyayangi anak kandungnya.
Percuma Riana mengguncang tubuh Syilla, tidak membuat wanita itu bangun.Vano hanya menatap kosong . Dunianya sudah hancur tidak ada yang bisa membuat dia tersenyum lagi .
Seorang suster datang dan memberikan bayi perempuan yang cantik kepada Vano . Vano menatap wajah putrinya yang sangat mirip dengan Syilla dari wajah dan matanya . Vano mencium kening bayi yang masih terlelap dengan tidurnya.
#**Syakira Elvira ardianata.
Selamat jalan Asyilla. Semoga kau tenang di alam sana 🌹.
Ada pertemuan dan ada perpisahan, sekeras apapun kamu menolak kepergian orang yang kamu cintai maka dia akan tetap pergi.
Manusia hanya berencana namun tetap Allah yang mengatur**.
__ADS_1