
Sudah seminggu Syilla meninggal, dan seminggu juga Vano berdiam diri di kamar . Tatapan matanya kosong,kantung mata yang menghitam karna jarang tertidur.Vano yang sekarang adalah pria yang sangat rapuh dan cengeng dan kepergian Syilla berdampak pada kehidupan Vano .
"Kamu kenapa ninggalin Saya Syilla!kamu berjanji tidak meninggalkan saya kenapa kamu berbohong hiks... " teriak Vano dengan di iringi tangis pilu sambil menatap bingkai foto besar Syilla yang terletak didinding kamar.Sosok Syilla sangat berpengaruh pada kehidupan Vano, pria yang terkenal dingin ini ,untuk pertama kalinya menangis, dia sangat membutuhkan Syilla, dia ingin Syillanya kembali.Tapi itu hanya sebuah keinginan yang tak mungkin menjadi nyata. Dia merindukan istri kecilnya, dia ingin memeluknya.
Riana yang berada dibalik pintu begitu terpukul mendengar tangisan Vano. Air matanya jatuh membasahi pipi yang mulai keriput. Dimas mengusap bahu Riana lembut.
"Sabar mah, mungkin Vano butuh waktu untuk menerima kepergian Syilla" ujar Dimas mengusap bahu Riana.
"Tapi pah, ini sudah seminggu dan papa lihat tubuh Vano mulai kurus dan Vano selalu menolak untuk makan, bagaimana aku tidak khawatir"ucap Riana dengan suara serak disertai tangisan.
" Iya ,papa paham dan lebih baik kita cari cara agar Vano bisa seperti dulu"ucap Dimas. Riana mengangguk dan pergi dari depan pintu kamar Vano.
********
Riana masuk kamar Vano membawa nampan berisi makanan kesukaan Vano.
"Nak, makan dulu ya" ujar Riana mengusap rambut tebal Vano lembut.
Vano hanya menggelengkan kepalanya lemah, menolak makanan yang dibawa Riana.
"Vano, kamu jangan nyiksa diri kamu kaya gini, jangan karna Syilla kamu kaya gini. Kalau kamu kaya gini gak akan ngubah apa-apa, Syilla juga gak akan kembali " ujar Riana.
"Mama gak akan paham diposisi Vano dan gak tau rasanya kehilangan orang yang dicintai" ujar Vano yang mulai mengangkat bicaranya.
Riana terdiam sejenak, dan menatap Vano dengan lekat.
__ADS_1
"Vano mama paham, tanpa harus berada di posisi kamu mama paham apa yang kamu rasakan" ujar Riana.
"Makan ya Vano" bujuk Riana.
"Vano gak laper " tolak Vano membelakangi Riana.
Riana menghembuskan napasnya kasar dan berjalan keluar, Vano sangat keras kepala .
Nilam yang melihat Riana keluar dari kamar Vano, mendekati Riana. Nilam ,wanita itu belum pergi dari mansion keluarga Ardianata. Dia senang ketika mendengar kabar Syilla tewas dalam sebuah kecelakaan. Tentu dia bisa dengan mudah mendekati Vano dan menjadikan pria itu miliknya.
"Tante Vano gak mau makan? " tanya Nilam yang melihat makanan yang dibawa Riana masih utuh.
"Iya, Vano menolak untuk makan" balas Riana.
"Tante biar aku yang makanin Vano, mungkin dia mau makan kalau aku yang nyuapin" ujar Nilam dengan percaya diri.
"Makasih ya Nilam, semoga Vano mau makan" ujar Riana.
Nilam masuk ke kamar Vano, pria itu duduk di ranjang sambil bersabar dibahu ranjang. Dia mendekat kearah Vano.
"Mas Vano makan dulu, aku suapin ya" ujar Nilam.
"Saya gak mau" tolak Vano.
"Makan nanti kamu sakit, ayo mas" bujuk
__ADS_1
Nilam.
"Saya sudah bilang!! Saya tidak ingin makan! " teriak Vano didepan Nilam. Wanita itu terdiam.
Sial, ada atau gak ada Syilla mas Vano tetap mikiran gadis kampungan itu.
"Mas Vano kenapa sih kaya gini, terus apaan coba mikirin Syilla . Ingat mas wanita banyak bahkan lebih cantik dari Syilla"ujar Nilam spontan. Vano mengepalkan tangannya, dia tidak suka Syilla dibandingkan dengan wanita lain.
Nilam terdiam, dia menatap Vano yang terlihat marah. Tanpa aba-aba Vano langsung mencekik Nilam.
" Akkkkkkhh... m-mas.. l-lepasin"ujar Nilam sambil berusaha melepaskan Cekikan Vano.
"T-tolong!!! tolong! " teriak Nilam
"Mas lepasin... " mohon Nilam.
Wajah mulai memerah, dia mulai susah untuk bernapas, Vano semakin memperkuat cekikannya. Riana dan Dimas langsung masuk kekamar Vano, ketika mendengar teriakan Nilam.
"Vano lepasin Nilam!! " Dimas meninggikan suaranya .
Vano tidak mendengarkannya.Dimas menarik tubuh Vano dan memukul putranya itu , hingga tersungkur ke lantai. Riana kaget dan langsung memeluk Vano.
"Papa kenapa pukul Vano! " ujar Riana.
"Anak kamu ini hampir membunuh Nilam dan kamu Vano kenapa jadi pria kasar terhadap wanita hah!! papa gak pernah ngajarin kaya gitu" ujar Dimas yang kecewa melihat Vano.
__ADS_1
Nilam memegangi lehernya yang sakit dan memerah dia menatap Vano dan pria itu juga menatapnya dengan tatapan tajam.
Bersambung...