Menikah Karna Kesalah Pahaman

Menikah Karna Kesalah Pahaman
BAB 26


__ADS_3

Syilla hanya memasang wajah cemberut nya, memperhatikan Vano memasukkan baju kedalam koper. Besok Vano harus berangkat ke Paris karna ada masalah diperusahaan cabang yang berada disana dan harus Vano langsung yang meninjau kesana. Sebenarnya dia juga berat meninggal kan Syilla tapi harus bagaimana lagi.


Syilla mendekat kearah Vano yang mengambil baju dilemari. Dia peluk suaminya itu dari belakang dia tempelkan pipinya dipunggung suaminya. Vano yang merasa dipeluk dari belakang berbalik dan menatap sang pelaku.


"Mas, jangan pergi please " mohon Syilla sambil menarik kerah baju Vano.


"Gak bisa sayang, saya harus pergi kesana dan tidak bisa di wakilkan orang lain " ujar Vano.


Syilla memeluk erat tubuh Vano ,seakan tak mau jauh dari suaminya sambil memainkan kancing baju Vano.


"Mas, boleh gak aku ikut? " tanya Syilla yang berharap Vano mengajaknya.


" Tidak bisa sayang, disitu saya mengurus pekerjaan bukan liburan "balas Vano.


" Kenapa? aku juga gak akan ganggu mas kok disana, jadi boleh ya, ya"mohon Syilla sambil memasang wajah seimut mungkin.


"Sudah saya bilang, tidak bisa Asyilla" ujar Vano yang mulai pusing menghadapi Syilla.


"Yaudah kalau begitu, sana pergi atau gak usah balik. Terserah mas mau cari istri kek disana, mau selingkuh terserah " ketus Syilla sambil berjalan kearah kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Vano mengusap wajahnya kasar, dia selalu salah bila menjawab atau menolak permintaan Syilla. Padahal Vano juga tidak ingin pergi kalau tidak penting. Vano mendekat kearah kasur, menarik selimut yang menutupi tubuh Syilla, tapi gadis itu menahannya agar Vano tidak bisa membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Sayang udah ngambeknya" ujar Vano sambil berusaha menarik selimut yang menutupi tubuh Syilla.

__ADS_1


Vano memeluk tubuh Syilla yang tertutup selimut . Tapi terdengar isakan tangisan yang keluar dari bibir Syilla, Vano panik mendengar Syilla menangis dengan terpaksa dia menarik selimut itu dengan kuat. Syilla dengan mata yang berair dan hidung yang memerah membuat Vano bingung harus apa. Vano memeluk Syilla , setidaknya istrinya ini berhenti untuk menangis.


"Kenapa nangis hmm? " tanya Vano sambil mengusap bahu Syilla dengan lembut.


"M-mas jangan pergi, aku gak mau jauh dari mas" ujar Syilla dengan suara serak,sambil mendongak menatap Vano. Dan Vano pun menunduk menatap istrinya itu yang hanya tinggi sedadanya.


"Saya cuma sebentar, gak lama" ujar Vano.


"Berapa hari mas? " tanya Syilla sambil mengusap dada bidang suaminya.


"Cuma seminggu " balas Vano.


"Ish, itu bukan sebentar tapi lama " rengek Syilla.


Gadis itu menatap Vano dengan wajah cemberut nya.


"Gak bisa ya kalau kerjanya pulang balik gitu? " tanya Syilla lagi.


Vano menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan gadis kecilnya ini. Dia fikir Paris itu deket bisa pulang balik gitu.


"Gak bisa sayang ! Udah ya tidur nanti kamu sakit kalau begadang terus" nasehat Vano.


"Setiap malam aku begadang juga karna mas Vano" celetuk Syilla membuat Vano terkekeh.

__ADS_1


"Itukan supaya kamu cepat produksi anak kita sayang" ujar Vano sambil mencium sekilas kening istrinya.


"Aku izinin mas pergi, tapi jangan genit, jangan ngerilik perempuan lain, jaga pandangan matanya! Kalau gak aku congkel mata mas " ancam Syilla membuat Vano bergidik ngeri dengan ancaman istrinya.


"Bagaimana bisa saya melirik wanita lain , sedangkan kamu lebih cantik dari wanita yang lainnya dan juga hati saya sudah terpaut dengan kamu" tutur Vano.


Membuat Syilla yang mendengarnya tersenyum malu-malu, pipinya merah padam mendengar perkataan suaminya.


"Kamu percaya kan? " tanya Vano yang langsung dapat anggukan dari Syilla.


Vano sudah rapi dengan memakai jas hitam, dia menatap dirinya dicermin dan beralih menatap Syilla yang juga menatap nya. Vano memeluk Syilla dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Syilla, mungkin dia akan sangat merindukan istri kecilnya ini.


"Jangan nakal ya! Jangan dekat dengan pria lain ,karna saya sangat cemburu. Bisa saja saya membunuh pria yang menyentuh satu inci bagian tubuh kamu " peringkat Vano dan mencium bibir ranum Syilla singkat .


"Bukannya kebalik , seharusnya mas yang jangan deket -deket sama wanita lain. Kalau ketahuan aku uyek-uyek mas" ujar Syilla.


Syilla mengantarkan Vano didepan pintu mansion. Syilla peluk Vano erat sambil merasakan kehangatan dekapan Vano dan mulai melepaskan. Ciko yang memperhatikan kemesraan tuannya hanya bisa mengusap dadanya .Ingin seperti itu tapi sadar dia belum mempunyai istri, jangankan istri kekasih saja belum ada karna kesibukan pekerjaannya membuat dia lupa mencari pendamping hidup.


Mobil yang ditumpangi Vano sudah berjalan keluar dari mansion menuju bandara. Syilla menatap mobil suaminya yang mulai menghilang dari penglihatan nya hanya bisa menatap sedih.


Seorang pria dengan tas ransel yang digantung dibahu dan memakai pakaian jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans biru. Wajah yang tampan, gagah dan juga tinggi.Masuk kedalam mansion Ardianata, semua pelayan menunduk menyambut kedatangan pria tersebut dan dia adalah Devan ardiansyah yang merupakan sepupu Vano dan memiliki sifat sebelas duabelas dengan Vano yaitu cuek, dingin dan juga irit bicara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2