Menikah Karna Kesalah Pahaman

Menikah Karna Kesalah Pahaman
Pertemuan


__ADS_3

Mobil berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan rata-rata. Didalam mobil Vino tak henti-hentinya mengoceh, sambil duduk dipangkuan Syilla dan menghadap kearah Devan yang tengah menyetir.


"Ayah, ayah! " panggil Vino.


Devan yang tengah menyetir menoleh kearah Vino yang menatapnya.


"Kenapa jagoan ayah manggil? " tanya Devan sambil mengusap kepala Vino.


"Ayah, cayang gak sama unda? " tanya balik Vino. Devan tertegun dan beralih menatap Syilla yang juga menatapnya.


"Iya, ayah sayang sama bunda" jawab Devan yang kembali fokus ke depan. Vino tersenyum.


Mereka bertiga sudah sampai di sebuah mall. Vino menggandeng tangan ayah dan bundanya. Mungkin orang yang melihatnya mereka keluarga yang harmonis.


"Ayah Ino mau main itu " tunjuk Vino pada sebuah permainan rollercoaster.


"Gak, bunda gak mau, itu berbahaya" yang dijawab oleh Syilla. Vino mengembungkan pipinya tapi malah dapat cubitan dari Syilla karna gemas.


"Ish, unda sakit" Vino mengusap pipinya dengan wajah kesalnya.


Devan menatap dua orang tersebut, entah mengapa dia sudah nyaman didekat mereka berdua. Apakah nanti dia bisa mengikhlaskan Syilla dengan Vino kembali kepada Vano. orang yang berhak mendapat kebahagian ini.


"Mas, aku ke toilet sebentar" ujar Syilla.


"Mau aku antar" ujar Devan.

__ADS_1


"Gak usah mas, aku bisa sendiri, dan untuk Vino gak boleh naik itu, awas bunda jewer telinga kamu" ujar Syilla yang pergi meninggalkan mereka.


"Ayah unda galak ya" Celetuk Vino, membuat Devan terkekeh.


Vino menaiki sebuah prosotan, Devan mengawasi anak itu dari bawah. Sebuah tangan menepuk bahu Devan, refleks pria itu menoleh.


Deg


Vano yang baru selesai dengan pertemuannya dengan kliennya tak sengaja melihat Devan yang berada ditempat bermain. Devan kaget melihat Vano ada disini.


"Kamu ngapain disini? " tanya Vano, Sebenarnya Vano juga ingin bertanya pada Devan yang sudah tidak ke mansionnya.


"Aku sedang jalan-jalan " seru Devan.


"Sama siap... " ucapan Vano terpotong kala seorang anak berteriak memanggil ayah.


"Jangan pegang-pegang " ketus Vino dengan menampilkan wajah datarnya.Anak itu akan bersikap dingin dengan orang yang belum dia kenal, jadi wajar bila dia bersikap seperti itu pada Vano.


Vano terus memperhatikan Vino yang berada di dekat Devan, matanya mirip sekali dengan Syilla. Vano tersenyum miris, andai dia dan Syilla mempunyai anak mungkin anaknya akan mirip seperti ini, tapi itu hanya keinginan yang tak terwujud, Syilla sudah tidak ada lagi.


Devan berkeringat dingin, dia menatap sekitar, dia takut Syilla sudah berada disini.


"A-aku harus pergi, ada urusan " ujar Devan yang pergi meninggalkan Vano yang masih menatap Vino.


Devan pergi menyusul Syilla, dan gadis itu baru keluar dari toilet dan langsung ditarik oleh Devan yang tengah mengendong Vino.

__ADS_1


"Mas kenapa? Kok main tarik-tarik aja sih" protes Syilla.


"Aku lapar, ayo kita pergi " ujar Devan, menarik pergelangan tangan Syilla.


******


Vano duduk dikursi diruang kerjanya, dia masih memikirkan anak kecil tersebut. Ada hubungan apa Devan dengan anak tersebut? Dan kenapa anak tersebut memanggil Devan ayah, setau dia Devan belum menikah atau pun memiliki kekasih?


Dan yang paling menggangu pikiran Vano, kenapa anak itu mirip dengannya. Pria itu mengambil ponsel di saku celananya dan menelpon asistennya itu.


"Hallo, saya mau kamu cari tau anak yang bersama Devan tadi, cari informasinya sedetil mungkin" perintah Vano. Pria itu langsung mematikan ponselnya dan menatap lurus ke bingkai foto Syilla.


Nilam mondar-mandir sambil terus menelpon mamanya yang tidak mengangkat telponnya.


"Kok mama gak angkat sih" ujar Nilam.


Sudah dua minggu mamanya tiba-tiba menghilang, entah kemana. Kalau begitu siapa yang akan membantunya agar bisa mendapatkan Vano.


******


Di sebuah ruangan yang minim cahaya dengan udara yang pengap , seorang wanita paruh baya, tergeletak tak berdaya, setelah seseorang yang memakai masker hitam, memukul, menendang dan memberikan sayatan di sekujur tubuhnya.


"Tolong, tolong" teriak dengan suara lemah. Namun teriakan tersebut tidak dapat didengat karna ruangan ini kedap suara dan merupakan ruangan bawah tanah.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf 🙏kalau aku buat ceritanya gak panjang


__ADS_2