Menikah Karna Kesalah Pahaman

Menikah Karna Kesalah Pahaman
Jalan-jalan


__ADS_3

Vino, bocah itu dengan tidak sabarnya turun dari mobil, setelah sampai di mall, anak itu menarik tangan Vano dan Syilla masuk kedalam mall.


"Unda, ayah ayo, Ino mau main" ujar Vino dengan tidak sabarnya. Syilla memutar bola matanya malas, kalau masalah main Vino nomer satu.


Vano hanya tersenyum tipis, saking tipisnya orang lain tidak bisa melihatnya. Sekarang mereka sudah berada ditempat bermain di mall itu. Disana ada rollercoaster, mandi bola, kereta dan banyak lagi. Vino menatap rollercoaster itu dengan mata berbinar, sudah lama dia ingin naik itu tapi bundanya Syilla, selalu melarangnya.


Senyuman Vino luntur di wajahnya ketika menatap kearah Syilla, dia pasti yakin bundanya takkan mengizinkannya naik itu. Tapi sebuah ide muncul di kepalanya, anak itu berjalan kearah Vano yang tengah menatap permainan disana.


Dengan senyuman paling manis Vino tampilkan setidaknya ayahnya luluh.


"Ayah, ayah " panggil Vino sambil menarik ujung baju Vano. Pria itu menunduk dan melihat putranya tersenyum kearahnya memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Ada apa nak? " tanya Vano sambil mengusap rambut tebal putranya lembut.


"Ayah, Ino mau naik itu boleh " ujar Vino , sambil menunjuk rollercoaster.


"Bo-" belum sempat Vano menyelesaikan ucapannya Syilla lebih dulu memotong.


"Gak bo-leh, kalau kamu kenapa-napa gimana? " ujar Syilla .


Vino langsung menampilkan wajah cemberut nya.


"Kenapa sih unda? Ino mau main itu, kan Ino anak cowok, kalau jatuh juga gak sakit" sahut Vino.


Syilla yang mendengar itu membulatkan matanya, dipikir jatuh dari rollercoaster seperti jatuh dari ranjang. Vano yang menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu, mendekat kearah Syilla dan menggenggam tangan istrinya lembut, membuat Syilla menoleh ke arah Vano yang menatapnya lekat.


"Sudah, biarkan saja, saya yang akan menjaganya" ujar Vano.


Syilla menghembuskan napas nya pelan dan mengangguk, entah mengapa tatapan Vano mampu membuat Syilla terhipnotis.

__ADS_1


Vino Berjingkrak- jingkrak senang ketika Syilla mengizinkannya.


"Wah, ayah hebat, bisa buat unda bolehin Ino main rollercoaster" puji Vino. Membuat pria itu tersenyum, entah mengapa dia juga merasa bahagia ketika anaknya juga bahagia.


"Tapi hati-hati yah" peringat Syilla. Dibalas anggukan oleh Vino.


"Ayo ayah kita naik rollercoaster" Vino menarik tangan Vano tak sabar ingin menaiki permainan itu.Tapi terlebih dahulu mereka berdua membeli tiket , untuk bisa menaiki rollercoaster.


"Tiket nya berapa orang? " tanya wanita penjual tiket itu.


"Dua, " jawab singkat Vano. Sambil mengambil dompet dicelananya dan mengeluarkan kartu ATM di dompet itu.


Wanita penjaga kasir itu tidak lepas menatap kearah Vano, begitu kagum dengan ketampanan yang Vano miliki. Hot deddy, itu pikiran wanita tersebut, karna Vano hanya berdua dengan Vino putranya dan mengira Vano seorang duda.


Wah pasti duda, ada kesempatan untuk deketin.Batin wanita tersebut.


"Mbak mana tiketnya" Vano dengan kesal, karna saat dipanggil wanita itu hanya melamun sambil menatap dirinya.


Baru saja Vano hendak berbalik, wanita berprofesi sebagai penjual tiket itu menghentikan Vano yang hendak pergi karna ucapan wanita tersebut.


" Mas butuh ibu untuk anaknya, kalau iya saya siap jadi ibu sambungnya kalau mas mau "ujar wanita tersebut dengan tidak tau malunya.


" Hey tante jelek, aku masih punya unda yah, jangan genit jadi perempuan, unda aku lebih cantik dari tante, wlee "sahut Vino kesal, sambil menjulurkan lidahnya.


Vano hanya diam, tanpa ingin membalasnya, pria itu biarkan anaknya yang membalasnya, dan tersenyum mendengar ucapan putranya itu.Sontak wanita itu kaget dan menahan malu, apalagi semua orang menatap kearahnya, sambil berbisik-bisik.Wanita itu menutupi wajahnya, dia pikir Vano pria duda satu anak.


Syilla duduk ditempat yang tak jauh dari suami dan anaknya yang sedang bermain. Tapi seseorang menepuk bahunya refleks Syilla menoleh kebelakang. Seorang pria tinggi dan tampan dengan memakai kemeja putih dan celana hitam tersenyum manis kearah Syilla.


" Hey, Syilla apa kabar? "tanya pria itu.

__ADS_1


Syilla mengkerutkan dahinya, dia merasa tidak mengenal pria ini.


" Kamu siapa yah? "tanya Syilla, karna memang tidak mengenali pria tersebut.


" kau lupa? Aku Rian teman satu kelas kamu waktu SMA dulu, masa lupa "ujar Rian sambil terkekeh.


Syilla terdiam sejenak mengingat -ingat dan dia baru ingat dengan pria ini.


" Oh, Rian yang jelek , hitam, dan cupu itu yah"celetuk Syilla tanpa dosa.


"Hehehe, iya betul sekali" ujar Rian.


Rian menatap Syilla dari atas sampai bawah, satu kata untuk Syilla yang makin terlihat cantik, walau tanpa make up dan sederhana.


"Maaf, aku sampai lupa sama kamu, tapi kamu berubah jadi tampan yah " puji Syilla, membuat Rian tersenyum malu.


"Kamu juga makin cantik Syilla" puji Rian balik, dan dibalas senyuman oleh Syilla.


"Hmmm" dehem Vano yang tiba -tiba muncul dibelakang Syilla.Wanita itu kaget melihat Vano sudah berada disebelahnya.


Rian terdiam, menatap kearah Vano yang memasang wajah datar dan tak bersahabat. dan Vino , anak itu pun juga sama seperti Vano memasang wajah datar, seakan tidak suka Rian mendekati bundanya.


"Syilla dia siapa? " tanya Rian, penasaran.


"Saya suaminya " sahut Vano dan langsung merengkuh pinggang ramping Syilla posesif. Syilla hanya diam pasrah, apa lagi saat dia hendak tersenyum kearah Rian, Vano lebih dulu menatap nya dengan sorotan tajam, seakan berkata jangan pernah tersenyum dengan pria lain.


Rian yang mendengar itu tersenyum kecut, hatinya merasa sakit mendengar itu. Dia terlambat, Syilla sudah dimiliki pria lain.


"Kalau begitu kami pamit pergi " ujar Vano, sambil menggenggam tangan Syilla dan menggendong Vino .

__ADS_1


Rian tersadar dari pemikirannya , pria itu mengangguk dan tersenyum.Pria itu menatap kepergian Syilla dengan tatapan sendu.


Bersambung...


__ADS_2