
Syilla mengusap kepala Vino lembut, sambil bersenandung, membuat Vino yang tadi menangis akhirnya tertidur.Melihat putranya sudah tertidur, Syilla tersenyum simpul dan mencium kening Vino singkat.
Tokk tokk
Sebuah ketukan dari luar membuat Syilla yang sedang memandangi anaknya teralihkan.
"Masuk!! " teriak Syilla dari dalam kamar.
Seorang pelayan masuk kekamar dan berjalan mendekat kearah Syilla.
"Nona Syilla dipanggil tuan Vano ke ruang kerja tuan" ujar pelayan tersebut.
"Iya, saya akan kesana " sahut Syilla
Pelayan tersebut pun keluar dari kamar setelah menyampaikan pesan dari Vano.Syilla bangkit dari kasur, sebelum meninggalkan Vino dia menarik selimut untuk menutupi tubuh putranya sebatas leher.
Wanita itu masuk ke ruang kerja Vano, disana bukan hanya ada Vano tapi juga ada Devan disana. Syilla mengkerutkan dahinya, bukannya Vano tidak akur dengan Devan, tapi yang dia lihat mereka sangat akrab. Vano maupun Devan belum menyadari kehadiran Syilla, mereka tengah asik dengan obrolan mereka.
__ADS_1
"Mas Vano manggil aku"ucap Syilla. Membuat Vano menghentikan obrolannya dengan Devan dan beralih menatap Syilla yang berdiri di sebelahnya.Vano tersenyum lembut, melihat orang yang dia tunggu sudah datang.
" Kemari, ada hal yang saya ingin bicarakan"ujar Vano.
"Memang mas mau bicarain apa" ujar Syilla menatap Vano tapi beralih menatap Devan sekilas.
"Begini Syilla, ada sesuatu yang harus kamu tau, tapi maaf mungkin kamu akan marah dengan apa yang aku jelaskan" sekarang Devan yang berbicara.Syilla semakin bingung, dan juga penasaran hal apa yang ingin dibicarakan.
"Sebenarnya aku bohong, aku bukan suami kamu, aku melakukan ini untuk keselamatan kamu dan Vino. Dan Vano adalah suami kamu,maaf aku tidak jujur dan menyembunyikan kamu dari Vano . Maaf aku harus membohongi kamu Syilla. Kamu boleh marah tapi satu hal yang harus kamu tau ini ku lakukan karna aku menyayangimu, dan aku sudah menganggap kamu seperti adiku sendiri " jelas Devan.
"Tapi kenapa kamu harus bohongi aku mas? Kenapa kamu gak jujur? dan sekarang bagaimana aku jelasin ke Vino. Kamu jahat mas, kenapa gak jujur dari awal " lirih Syilla. Vano melihat ini mendekat kearah Syilla dan memeluknya erat.
"Sssst, sudah sayang jangan menangis kaya gini" ujar Vano. Pria itu menghapus air mata yang terus keluar dari mata Syilla.
Devan hanya menunduk, merasa bersalah dia tak bermaksud untuk membohongi Syilla.
"Syilla aku minta maaf, dan biar aku yang jelasin ke Vino " ujar Devan.
__ADS_1
Syilla hanya diam, menenggelamkan wajahnya didada bidang Vano.
"Devan, kamu lebih baik keluar biar aku yang tenangin Syilla" titah Vano yang dibalas anggukan oleh pria itu. Devan keluar dari ruang kerja Vano, sebelum dia keluar dia menatap kearah Syilla dan keluar dari ruangan tersebut.
Kini tinggal Vano dan Syilla di ruangan ini, Syilla terus memeluk Vano. Pria itu melepaskan pelukannya dan menangkup pipi wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.Vano mencium kening Syilla dan beralih mencium kedua kelopak mata, hidung dan kedua pipi Syilla.
Syilla hanya diam merasakan ciuman Vano di seluruh wajahnya.
"Jangan menangis, saya tidak suka, secara tidak langsung kamu sudah menyakiti hati saya Syilla" ujar Vano. Membuat Syilla yang menunduk mendongak menatap Vano.
"Kok gitu? " tanya Syilla dengan wajah polosnya.
"Karna saya gak suka melihat wanita yang saya cintai menangis. Kamu sumber kebahagiaan saya. Kamu wanita kedua yang sangat berarti dalam hidup saya setelah mama.Saya sangat mencintai kamu Asyilla, seberapa jauh kita dipisahkan pasti takdir akan menyatukan kita dan lihatlah sekarang kamu sudah ada di hadapan saya . Dan saya pastikan kamu takkan saya lepaskan" Vano menatap lekat Syilla, sambil membelai pipi wanita itu lembut.
Syilla menitikkan air matanya mendengar perkataan Vano. Walau dia belum mengingat semuanya tapi dia bisa merasakan ketulusan Vano mencintainya.
Bersambung...
__ADS_1