
Vano menatap ke atas langit-langit kamar, merasakan usapan lembut Syilla di kepalanya.
"Aku mau mengadakan resepsi pernikahan kita, agar semua orang tahu aku sudah menikah " ujar Vano memecahkan keheningan, membuat Syilla menatap kearah Vano.
"Kita sudah menikah, buat apa di buat resepsi ,mas.Pernikahan kita juga sudah berjalan lima tahun " ujar Syilla.
Vano bangkit dari tempat tidurnya dan menatap kearah Syilla.
"Tidak ada masalah mengadakan resepsi pernikahan , walau kita sudah menikah lima tahun. Lagi pula dulu kita menikah karna kesalah pahaman dan saat itu aku menikahi mu hanya di saksikan oleh kedua orang tua ku dan anak buah papa. Ini juga untuk mempublikasikan bahwa aku sudah menikah,karna banyak dari beberapa klien yang menjodohkan aku dengan anak gadisnya karna mengira aku belum menikah " ujar Vano.
"Memang kapan resepsinya? " tanya Syilla.
"Dua hari lagi " ujar Vano dengan santai mengucapkan itu. Syilla membelalakan matanya, dalam waktu dua hari mana cukup menyiapkan , gaun pengantin , cetring makanan, undangan dan juga mencari gedung yang ingin di sewa.
"Kamu serius?Tapi mana cukup waktu sesingkat itu menyiapkan itu semua ,mas " ujar Syilla.
"Cukup sayang, aku sudah menyiapkan jauh-jauh hari " ujar Vano.
"Kamu sudah menyiapkan semuanya, tapi kenapa kamu tidak memberitahu aku ? " tanya Syilla.
"Kamu sibuk merawat Syasya, jadi aku sendiri yang menyiapkannya dengan bantuan anak buah aku " ujar Vano.
Suara tangisan Syasya membuat Syilla dan Vano memberhentikan obrolannya. Syilla bangkit dari kasur dan berjalan kekamar sebelah yang terhubung dengan kamar dan Syasya.
__ADS_1
"Anak bunda kenapa nangis? " ujar Syilla, mengangkat tubuh Syasya . Syilla mencium pipi putrinya gemas. Syasya berhenti menangis ke dalam gendongan Syilla.
"Kita ke kamar bunda ya" ujar Syilla, membawa Syasya ke kamar sebelah.
"Anak ayah sudah bangun " ujar Vano. Syilla meletakkan Syasya di kasur, anak itu merangkak mendekat kearah Vano.
"Yayayaya" Syasya menyentuh wajah Vano dan mencium wajah Vano.
"Udah pintar cium ya, anak siapa sih cantik banget " ujar Vano gemas dengan Syasya.
Balita tersebut tertawa sambil mengemuti jarinya. Vano memberi ciuman bertubi-tubi pada Syasya karna saking gemasnya.
"Bisa di titipkan sama babysitter atau pelayan" ujar Vano.
Syilla agak takut menitipkan anaknya pada orang lain, apalagi Syasya. Dia baru melihat kasus penculikan anak balita di televisi, yang berkedok babysitter dan pembantu rumah tangga.Vano yang melihat raut gelisah di wajah Syilla, meraih tangan istrinya dan mengenggam lembut.
"Kamu tidak perlu khawatir, orang yang menjaga anak kita , kepercayaan aku semua, kamu jangan terluka overthinking, sayang " ujar ujar Vano. Syilla hanya mengangguk lemah.
"Yayaya.... nda... nda. " Syasya memanggil Syilla dengan sebutan bunda. Membuat wanita tersebut tersebut senang.
"Coba lagi sayang, panggil bunda " ujar Syilla yang ingin mendengar lagi.
__ADS_1
"nda.... nda.. " ujar Syasya walau tidak terlalu jelas, tapi Syilla paham dengan ucapan putrinya. Di umur Syasya yang satu tahun, putrinya ini sudah bisa memangil bunda.
"Masa bunda aja , coba panggil ayah " ujar Vano
Bukannya menyahut Syasya malah tertawa, dia pikir Vano sedang mengajaknya bercanda.
"Kok malah ketawa" ujar Vano. Pria itu mengigit pipi gembul Syasya gemas.
"Mas jangan digigit pipinya, nanti nangis " tegur Syilla.
"Bikin gemas lihatnya, kalau begitu kita buat lagi " ujar Vano.
"Enggak, aku gak mau nambah anak, dua anak cukup " ujar Syilla.
"Mungpung umur kita masih muda, kita tambah anak lagi, biar rumah ini tambah rame " ujar Vano.
"Itu enak di kamu, aku yang mati-matian lahirinnya" ujar Syilla.
Vano hanya memang wajah cemberut nya.
"Bunda kamu galak ya" adu Vano pada Syasya yang menatap Vano dengan tatapan polosnya, yang makin menggemaskan.
Bersambung...
__ADS_1