
"Syilla!!" teriak Vano, bangun dari tidurnya dengan peluh yang membanjiri wajahnya.
"Mas, apaan sih, malam-malam teriak" ujar Syilla yang ikut terbangun dari tidurnya.Vano menatap Syilla yang ada didepannya.Pria itu langsung memeluk istrinya erat.Denga tubuh gemetar dan Vano menangis di pelukan Syilla.
"Mas , kamu nangis? " tanya Syilla melepaskan pelukan Vano.
"A-aku mimpi kamu ninggalin aku! Aku gak mau kehilangan kamu Syilla walau dalam mimpi " lirih Vano memeluk erat istrinya. Dia tidak peduli dengan harga dirinya yang menangis didepan Syilla.
"Mas, udah jangan nangis , aku gak ninggalin kamu . Lihat sayang aku dihadapkan kamu " bujuk Syilla lembut. Tapi tetap saja Vano tidak menghentikan tangisannya.
"Syilla jangan tinggalin aku" lirih Vano dalam dekapan istrinya. Mimpi yang dia alami seperti kenyataan.
"Sekarang mas tidur, aku usap kepalanya, ya" ujar Syilla. Wanita itu bisa melihat wajah ketakutan suaminya , apa secinta ini Vano padanya?
Vano kembali membaringkan tubuhnya, dengan memeluk erat pinggang Syilla. Wanita itu mengusap kepala suaminya lembut dan menghapus air mata yang tersisa di wajah Vano.
Syilla terus mengusap kepala Vano, terdengar dengkuran halus dari Vano. Pria itu sudah tertidur lelap namun tangannya tak melepaskan pelukan di pinggang Syilla.
"Aduh, aku mau pipis, tapi ini pelukan mas Vano erat banget " gumam Syilla, dia berusaha melepaskan lilitan tangan Vano di pinggang dan Akhirnya terlepas.
Syilla turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Vano meraba tempat tidur sebelahnya yang kosong dan langsung membuka matanya.
__ADS_1
"Syilla!! Syilla!! " teriak Vano memanggil nama istrinya. Pria itu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi dan membuka, Syilla kaget melihat Vano masuk kekamar mandi untung dia sudah selesai buang air kecil. Vano langsung memeluk Syilla erat.
"Mas, lepas pelukannya, perut aku kegencet"ujar Syilla.
Vano menatap Syilla dan meraba wajah istrinya.
" Kamu jangan tinggalin aku, kalau kamu mau buang air kecil, bilang sama aku "ujar Vano.
" Iya, ayo tidur lagi "ajak Syilla dengan tersenyum manis. Vano menggenggam tangan Syilla erat.
" Kamu tidur ,biar aku yang mengusap kepala kamu "ujar Vano. Syilla hanya menurut dan memejamkan matanya, sambil merasakan usapan lembut di kepalanya .Vano terus menatap wajah Syilla, dia masih tak percaya didepannya ini adalah istrinya.
Mimpi itu seakan nyata, dan bila mengingatnya, membuat Vano semakin takut kehilangan Syilla. Vano membaringkan tubuhnya dan mengecup kening Syilla cukup lama.Vano memeluk Syilla erat .
" Mas, kamu gak kekantor? "tanya Syilla pada Vano yang memeluknya dari belakang.Vano hanya diam tanpa berucap apapun, matanya menatap Syilla di pantulan cermin.
" Sekarang kamu mandi dulu "suruh Syilla melepaskan pelukan Vano.
" Tapi kamu ikut juga "ujar Vano.
" Aku, udah mandi mas Vano "ujar Syilla.
__ADS_1
" Aku takut kamu ninggalin aku "lirih Vano.
" Mas, aku gak kemana-mana"ujar Syilla.
"Sekarang mandi yah, aku tunggu di didepan pintu kamar mandi" ujar Syilla. Vano mengangguk dan masuk kekamar mandi.
Sekarang Syilla dan Vano berada di meja makan, wanita itu agak risih dengan tatapan Vano pada dirinya, hingga sepuluh menit Vano masih dengan posisi menopang dagu dan terus menatapnya.
"Syilla nanti kalau kamu lahiran operasi Cesar, aja ya" ujar Vano. Syilla menatap aneh Vano, ada angin apa Vano membahas tentang lahiran anak keduanya.
"Memang kenapa? " tanya Syilla.
"Cuma mau kamu operasi cecar supaya gak merasakan sakit saat lahiran " ujar Vano.
"Mas, operasi cecar itu kalau dalam keadaan darurat, aku memilih lahiran normal aja" ujar Syilla. Membuat wajah Vano memucat ketakutan.
"Aku gak mau, nanti kamu ninggalin aku " tolak Vano.
"Aku takut kehilangan kamu, cukup aku merasakan kehilangan kamu dalam mimpi" lirih Vano.
"Iya, aku mau " ujar Syilla, meng-iya-kan kemauan suaminya agar tenang.
__ADS_1
Bersambung...