
Sudah empat tahun berlalu Vano mulai bangkit dari kesedihannya dan dia memilih tidak akan menikah lagi, karna tidak ada yang bisa menggantikan sosok Syilla dihatinya.
Riana masuk kekamar putranya, yang sedang berkutat dengan leptopnya.
"Vano" panggil Riana lembut . Vano mendongak menatap mamanya yang berdiri didepannya dan tersenyum. Riana duduk dipinggir ranjang.
"Mana mau ngomong serius sama kamu " ucap Riana dengan wajah serius.
"Mama, mau ngomong apa? "tanya Vano menatap wanita yang telah melahirkannya itu lekat.
" Mama sama papa sepakat jodohin kamu sama Nilam "ucap Riana.
Vano terdiam menatap mamanya tidak suka mendengar nama wanita itu.
"Mah, Vano sudah bilang, Vano gak akan nikah lagi " tegas Vano.
"Tapi kamu tidak mungkin terus sendiri, harus ada yang mengurus kamu dan mama juga ingin seorang cucu, kamu itu putra Kami satu-satunya jadi tolong turuti permintaan mama" ujar Riana.
Nilam yang mendengar percakapan Rania dan Vano tersenyum senang, tidak sia-sia dia baik-baikin wanita tua bangka itu. Dan dia yakin Vano tidak akan mungkin menolak permintaan mamanya.
__ADS_1
"Vano gak mau, dan kenapa mama nyuruh Vano nikahi wanita ular itu" ujar Vano.
"Jaga omongan kamu Vano!! Kenapa kamu memanggil Nilam wanita ular? " ujar Riana.
Vano tersenyum smirk, mungkin wanita ular itu tidak tau bahwa dirinya sudah tau, kalau Nilam dan mama Nesa yang sudah menyabotase mobil yang ditumpangi Syilla.
"Mama tau yang membuat Syilla meninggal adalah Nilam" bisik Vano menekankan nama Nilam.
Tubuh Riana membeku, dia tatap Vano.
"Gak, mungkin Nilam " bantah Riana, yang dia tau Nilam wanita baik dan juga lembut.
"Terserah mama mau percaya apa tidak, kalau mama masih tidak percaya, ikut aku ke ruang bawah tanah " ujar Vano. Riana menatap Vano penasaran, ada apa dengan ruang bawah tanah?.
Seorang anak kecil berlari menghindari bundanya yang memaksanya makan sayur.
"Vino!! Sini kamu ayo makan " gadis itu setengah teriak.
"Gak mau ,ino ndak mau makan unda" ucap anak kecil dengan suara cadelnya itu sambil terus berlari .
__ADS_1
Seorang pria tinggi dan tampan masuk kerumah yang berukuran mininalis itu dan disambut dengan teriakan dua orang yang dia sayangi tersebut.
"Ayah, ino akut, endong ayah" pinta bocah empat tahun tersebut sambil merentangkan dua belah tangan minta digendong, sambil mengerjap lucu, membuat Devan merasa gemas dan mencium pipi cabi putranya itu.
"Vino!!! " panggil Syilla dan langsung terhenti melihat Vino digendonga Devan.
"Mas kamu baru pulang, maaf aku gak tau" ujar Syilla.
"Gak papa, tapi kenapa tadi kamu teriak-teriak hmm? " tanya Devan sambil mencolek dagu Syilla dan langsung ditepis gadis itu.
"Itu anak kamu, disuruh makan sayur gak mau " cerocos Syilla sambil menunjuk Vino yang menyembunyikan wajahnya di leher Devan. Syilla kalau marah serem.
"Jagoan ayah kok gak mau makan sayur, kenapa nak? " tanya Devan lembut.
"Ino ndak cuka ayah " jawab Vino yang masih menyembunyikan wajahnya dileher Devan.
"Kalau ayah bilang makan sayur bisa jadi super hero, Vino percaya? " tanya Devan.
"Iya Ino percaya cama ayah, kan ayah Ino gak bohong, gak kaya unda cuka bohong" celetok Vino dan langsung mendapat tatapan tajam dari Syilla.
__ADS_1
"Heh tuyul!! Jangan ngomong gitu, bunda bohong demi kebaikan kamu" cerocos Syilla.
Devan merasa pusing melihat pertengkaran ibu dengan anak ini. Syilla dan Vino seperti musuh bebuyutan , Syilla yang tak mau mengalah dan Vino yang keras kepala