
Devan membawa banyak kantong yang berisi buah-buahan, roti , dan banyak lagi. Pria itu masuk kedalam ruangan , dimana Syilla dirawat. Tadi malam dia tidak bisa menginap untuk menjaga Syilla, karna dia harus menginap dirumah tante Riana, menolak pun dia akan tetap dipaksa untuk menginap.
Devan masuk keruangan rawat Syilla, terlihat gadis itu sudah sadar , dengan posisi duduk bersandar. Tatapan matanya kosong dengan wajah yang masih pucat.
"Hmm" Devan berdehem, Syilla tersadar dengan lamunannya dan beralih menatap pria yang ada didepannya.
Syilla mengernyitkan dahi, dia merasa tidak mengenal pria yang ada didepannya.
"Bagaimana keadaanmu? " tanya Devan.
"Kamu siapa? " Syilla yang bertanya balik.
Devan terdiam, dan baru ingat dengan perkataan dokter kemaren bahwa gadis ini amnesia.
"Perkenalkan aku Devan " ujar Devan mengulurkan tangannya pada Syilla.
Syilla terdiam menatap tangan Devan yang di ulurkan padanya dan dengan ragu-ragu dia menyambut uluran tangan Devan. Pria itu tersenyum, sedangkan Syilla merasa canggung.
"Ini aku membawa, buah, roti, dan banyak lagi " ujar Devan mengeluarkan isi dari kantongan berwarna hitam tersebut.
Devan membasuh semua buah itu di westafel yang tersedia di sana. Dia mengupas buah apel dan juga mangga. Setelah selesai dikupas Devan berjalan kearah Syilla.
"Ayo makan buahnya supaya cepat sembuh" titah Devan. Syilla mengambil buah yang telah dikupas Devan. Tapi tangan gadis itu bergetar saat akan memasukkan ke mulutnya, membuat buah itu jatuh, mungkin karna efek obat bius.
Devan yang melihat Syilla yang kesusahan, mengambil alih wadah buah itu dan menyuapi gadis itu.
"Ayo makan, biar aku yang nyuapin " ujar Devan. Syilla membuka mulutnya menerima suapan dari Devan.
Syilla menggeleng ketika Devan menyuapi potongan apel terakhir.
"Ini terakhir, ayo dimakan ya" bujuk Devan.
"Enggak, aku udah kenyang, tadi udah makan bubur yang dikasih suster " ujar Syilla.
"Ya sudah, sekarang istirahat " titah Devan yang diangguki Syilla. Pria itu terkekeh, yang dia tau Syilla itu sangat sulit akrab dengannya, tapi sekarang gadis itu seperti anak kecil yang penurut.
*****
Hueek hueeek hueeek
Syilla sudah memuntahkan semua isi di perutnya, hingga cairan bening yang dia muntah kan . Dia tidak tau kenapa dengan tubuhnya, yang dia rasakan pusing dan ingin muntah terus.
"Kamu kenapa ? " tanya Devan yang baru datang dari kantor.
"Gak tau, aku pengen muntah terus" jawab Syilla, gadis itu hendak berjalan keluar tapi karna badan yang lemas di hampir jatuh, tapi dengan sigap Devan menangkap tubuh Syilla. Pria itu mengangkat tubuh Syilla ala bridel style dan meletakkannya di brankar dengan pelan.
"Tunggu aku panggil dokter" ujar Devan.
Dokter tersebut memeriksa Syilla dan mengambil sesuatu dan memberikannya kearah Syilla.Dokter itu memberikan sebuah benda kecil panjang yaitu alat tes kehamilan.
__ADS_1
"Silahkan anda kekamar mandi dan celupkan ini di urin anda" ujar Dokter Beni.
Syilla menyerahkan benda itu ke dokter tersebut, setelah dia membersihkannya.
"Selamat anda hamil " dokter Beni mengucapkan selamat.
"Apa hamil!! " pekik Devan, dan langsung menutup mulutnya yang tak bisa terkontrol itu karna kaget.
"Iya, dan sudah menjalani 7 minggu, selamat ya pak, jaga istrinya baik-baik" ujar dokter tersebut dan berlalu pergi dari hadapan Devan, pria itu mematung.
"Emm, mas Devan aku hamil anak siapa ya? " tanya Syilla dengan wajah polosnya.
Devan diam membisu, bingung harus menjawab apa. Pria itu menarik napasnya dalam -dalam dan dia yakin dengan keputusan yang mungkin gila ini,tapi ini demi keselamatan Syilla dan bayi didalamnya .
"K-kamu hamil anakku" ujar Devan gugup.
"Berarti aku istri mas? " tanya Syilla lagi. Devan terpaksa dia mengangguk.
Hari ini Syilla diperbolehkan pulang, setelah satu minggu dirawat dirumah sakit.Matanya berbinar kala melihat Devan datang menjemput.
"Ayo mas, kita pulang aku udah bosen disini terus" Syilla langsung menarik tangan Devan.
"Tunggu syilla, aku baru datang, tunggu aku duduk dulu ya" ujar Devan dengan lembut.
"Ish, aku mau pulang mas, nanti dimobil duduk juga, ayo " Syilla dengan menarik paksa tangan Devan yang tengah duduk.
"Iya-iya, ayo " ujar Devan.
"Mas, stop!! " teriak Syilla. Dengan refleks Devan merem mendadak.
"Syilla!! Jangan minta stop mendadak kaya gitu, bahaya " bentak Devan. Mata gadis itu mulai berair siap akan menangis, mungkin karna hamil dia menjadi sensitif.
"M-mas jahat hiks... " Syilla mulai menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Devan panik melihat Syilla menangis, dia benar -benar kelepasan membentak Syilla.
Devan dengan ragu-ragu mengusap bahu Syilla.
"Maaf ya, aku gak sengaja, tapi kalau kamu menyuruh mas stop jangan mendadak lagi, bahaya buat kita dan mengendara yang ada dibelakang, ok" Devan menasehati selembut mungkin agar tidak membuat gadis ini tidak semakin menangis, maklum ibu hamil sensitif.
"Kamu nyuruh aku stop mau apa hmm?"tanya Devan. Syilla mulai menghentikan tangisannya dan menatap kearah Devan.
" Aku mau itu"tunjuk Syilla pada penjual rujak di sebrang jalan.
"Oh, mau itu, tunggu ya aku beliin" ujar Devan, pria itu keluar dari mobil dan menghampiri tukang rujak tersebut.
"Pak rujaknya satu, gak pedes" ujar Devan.
"Wah, masnya beliin istrinya? " tanya seorang ibu-ibu yang juga membeli rujak.
"Iya buk" jawab Devan singkat.
__ADS_1
"Mas, suami idaman banget, udah ganteng, perhatikan lagi sama istri, wong saya pengen rujak aja beli sendiri, suami saya boro-boro mau beliin" ujar ibu -ibu berbadan gempal tersebut.
Devan hanya membalas dengan senyuman saja.
"Ini mas rujaknya" ujar tukang rujak tersebut.
"Berapa pak "
"Sepuluh ribu mas"
"Ini, sekalian saya bayar dengan punya ibu itu " Devan berlalu pergi.
"Makasih ya mas" ujar ibu -ibu tersebut.
Devan masuk kedalam mobil dan memberikan rujak yang Syilla minta.
"Makasih ya mas" ucap Syilla sambil menyantap rujak tersebut dengan lahab.
"Hmmm" balas Devan.
*******
Kandungan Syilla sudah menginjak lima bulan, dan Devan membatasi semua aktifitas Syilla.
"Kamu gak boleh Kemana-mana" larang Devan
Syilla mendelik sebal, dia hanya ingin keluar rumah saja, bosan kalau dirumah terus.
"Aku bosan, aku mau keluar " rengeknya.
"Aku bilang diam dirumah, kalau kamu sama keponakan ku kenapa -napa gimana " ujar Devan tanpa sadar mengucapkan kata keponakan.
"Hah, keponakan. Aku kan ngandung anak mas bukan keponakan kamu " sahut Syilla. Devan terdiam mematung, kenapa dia bisa keceplosan seperti ini, merutuki kebodohannya.
"maksudnya anak kita gitu" ujar Devan dengan gugup.
"Mas, aku lagi pengen sesuatu deh" ujar Syilla. Devan mulai berkeringat dingin dia takut gadis ini meminta yang aneh-aneh. Kemaren Syilla mengidam ingin membotaki kepalanya dan terpaksa dia menuruti keinginan gadis ini,dan hampir satu bulan Devan pergi ke kantor memakai hodie untuk menutupi kepala botaknya.
"K-kamu mau apa? " tanya Devan sambil berdoa didalam hati agar tidak meminta yang aneh-aneh.
"Aku mau kamu joget sambil pakai daster" pinta Syilla. Sedangkan Devan melotot mendengar permintaan Syilla.
"Gak bisa yang lain ngidamnya" tawar Devan.
"Ih, gak bisa. Sekarang ayo pakai daster nya, kalau gak nurutin dedeknya ileran lo" ujar Syilla.
Inilah Devan berdiri di hadapan Syilla sambil memakai daster warna pink. Sedangkan Syilla tertawa puas tanpa rasa merasa bersalah . Devan berjoget didepan Syilla dengan musik dangdut sebagai pelengkapnya.
"Ayo mas, joget lagi " Syilla dengan wajah bahagianya, sedangkan Devan memasang wajah sedih.
__ADS_1
Jatuh pamornya sebagai CEO di perusahaan Alvian's grub, Dia yang terkenal dingin dan tegas, kini berdiri di depan Syilla seperti bencong, tidak tanggung -tanggung Syilla juga mengolesi make up di wajahnya . Ingin Devan berteriak dengan permintaan Syilla yang tak masuk akal.
Bersambung....