
Syilla berusaha membuka pintu kamar itu, tapi tetap tidak bisa. Pria asing yang tidak dia kenal itu membawa dia dan anaknya secara paksa dan mengurungnya disini.
"Tolong!! Siapa pun yang ada diluar buka! " teriak Syilla. Namun tidak ada yang menolongnya atau manyaut. Vano memperingati pada pelayannya agar jangan membuka pintu kamarnya walau Syilla memintanya.
Tubuh gadis itu meluruh ke lantai , kenapa harus begini. Apa hubungan dia dengan pria itu, entahlah tapi dia merasa tidak asing melihat wajahnya.
"Unda, kenapa om jahat ngurung kita disini? " tanya Vino menatap bundanya.
"Bunda gak tau sayang, kamu jangan takut ya bunda ada disini" ujar Syilla sambil tersenyum lembut kearah Vino.
"Unda, Seharusnya Ino yang bila gitu ke unda , kata ayah Ino itu anak laki-laki jadi harus ngelindungi unda" ucapnya sambil tersenyum manis.
Gadis itu menyapu sekeliling kamar, tapi dia merasa tidak asing dengan kamar ini. Hingga ingatan di kepalanya berputar tentang tempat ini. Syilla memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Unda, cenapa? " Vino yang terlihat khawatir.
"Gak tau, tapi kepala bunda sakit sayang" ujar Syilla, hingga gadis itu jatuh pingsan.
__ADS_1
"Unda bangun, unda jangan tinggalin Ino hiks... " teriak Vino dengan air mata yang mengalir melihat Syilla tidak membuka matanya lagi.
Vano yang sudah menyelesaikan urusan di kantor, sudah sampai di mansion dan tak sabar bertemu Syilla.Pria itu panik saat akan membuka pintu kamar, mendengar tangisan Vino.
"Syilla!! " Vano yang sudah masuk ke kamar dan kaget melihat Syilla tergeletak dilantai.
"Sayang bangun, sayang" Vano menepuk pipi Syilla lembut. Pria itu mengangkat tubuh Syilla ke kasur.
"Ini cemua gala-gala om, aku benci om" Vino mendorong tubuh Vano, tapi itu tidak berefek apa-apa, tidak membuat tubuh Vano bergeser.
"Sayang dengerin ayah nak, ayah gak berniat mengurung kalian, tapi takut kalian pergi tinggalin ayah lagi" jelas Vano, namun anak itu tetap menatap tidak suka dengan Vano.
Vano menampilkan wajah marah dan cemburu, mendengar anaknya memanggil Devan ayah, seharusnya dia yang berhak mendapat sebutan itu dari anaknya.
"DENGARKAN SAYA! SAYA AYAH KANDUNG KAMU BUKAN DEVAN!! " teriak Vano yang tersulut emosi. Vino mendengar itu ketakutan bukan karna teriakan Vano tapi wajah yang terlihat menyeramkan. Matanya berair sambil berlari naik ke kasur memeluk tubuh Syilla minta perlindungan walau dia tau, bundanya sedang pingsan tapi yang dia tau hanya bundanya yang bisa menolongnya.
"Unda, Ino takut hiks... om nya jahat unda hiks.. " lirik Vino sambil memeluk tubuh Syilla erat.
__ADS_1
Vano tersadar telah membuat anaknya takut, dia merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengontrol emosinya. Pria itu mendekat, tapi Vino semakin takut, tangisan anak itu makin kencang. Vano menghembuskan napas kasar, dia memilih untuk menjauh dulu dari Vino ,semoga anaknya bisa menerimanya bahwa dia ayah kandung . Vano berjalan keluar kamar untuk menelpon dokter.
Tidak menunggu lama seorang dokter dengan membawa sebuah tas sudah sampai di mansion Ardianata. Vano menyambut kedatangan dokter pria yang bernama Rian itu.
"Silahkan masuk dok" ujar Vano. Rian masuk kedalam.
Rian awalnya kaget melihat siapa yang dia periksa. Syilla adalah pasiennya yang empat tahun lalu dia rawat karna kecelakaan. Setelah selesai dia menatap anak yang ada disebelah Syilla yang tengah tertidur. mungkin Vino kelelahan menangis hingga membuat dia tertidur.
"Bagaimana keadaannya dok" tanya Vano khawatir.
"Dia baik-baik saja tapi, mungkin dia terlalu memaksakan mengingat sepenggal ingatannya.Dan itu yang membuat dia seperti ini, biasanya pak Devan suami Syilla, selalu membawa kerumah sakit, karna Syilla selalu berusaha mengingat memori ingatannya, dan itu juga yang membuat dia pingsan" jelas dokter tersebut.
"Hilang ingatan " beo Vano.
"Iya dia hilang ingatan, tapi anda siapanya Syilla ya? " tanya dokter Rian.
"Saya suaminya dan Devan bukan suaminya Syilla dia sepupu saya" ujar Vano menekankan kata sepupu.
__ADS_1
Dokter Rian terlihat kaget mendengar ucapan Vano.
Bersambung....